Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Siap Hadapi ‘Second Night Syndrome’ di Malam Kedua Bayi Lahir

Siap Hadapi ‘Second Night Syndrome’ di Malam Kedua Bayi Lahir
freepik/jcomp
Intinya Sih
  • Second Night Syndrome adalah fase normal saat bayi baru lahir menjadi rewel di malam kedua karena mulai beradaptasi dengan lingkungan luar rahim yang berbeda dari kenyamanan sebelumnya.
  • Menghadapi fase ini, Mama disarankan sering menyusui, melakukan kontak kulit ke kulit, membedong bayi, memutar white noise, serta meredupkan lampu untuk menciptakan suasana tenang dan aman.
  • Dukungan pasangan sangat penting agar Mama tidak kewalahan; komunikasi, pembagian tugas, dan menjaga kestabilan emosi membantu menghadapi malam kedua dengan lebih sabar dan penuh kasih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Momen 24 jam pertama setelah melahirkan biasanya dipenuhi oleh perpaduan rasa bahagia, haru, sekaligus sisa-sisa kelelahan berjuang di ruang bersalin ya, Ma. Menariknya, di hari pertama tersebut, si Kecil biasanya akan terlihat sangat tenang dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur nyenyak. Rasanya seperti mendapat bonus hadiah yang luar biasa karena Mama bisa ikut mencuri waktu untuk memulihkan energi.

Namun, jangan kaget jika suasana damai ini mendadak berubah total saat memasuki malam kedua. Tepat ketika Mama mengira pola tidur si Kecil akan berjalan mulus, bayi baru lahir bisa tiba-tiba menjadi sangat rewel, gelisah, dan menolak untuk diletakkan di tempat tidurnya. Fenomena transisi yang menguras energi dan emosi ini dikenal di dunia parenting dengan istilah Second Night Syndrome.

Melansir dari situs parenting The Bump, Second Night Syndrome sebenarnya merupakan fase transisi biologis yang sangat nyata bagi bayi baru lahir. Setelah melewati fase mengantuk berat akibat efek persalinan di hari pertama, si Kecil mulai benar-benar "terbangun" dan menyadari bahwa mereka sudah tidak lagi berada di dalam rahim Mama yang hangat, gelap, dan nyaman. Berikut Popmama.com bagikan beberapa cara cerdas dan penuh kasih untuk menghadapi malam kedua si Kecil dengan tenang.

Table of Content

1. Berikan ASI sesering mungkin atau lakukan 'cluster feeding'

1. Berikan ASI sesering mungkin atau lakukan 'cluster feeding'

IMG_2232.png
freepik

Ciri paling utama dari fenomena malam kedua ini adalah keinginan bayi untuk terus menyusu hampir tanpa jeda atau disebut cluster feeding. Satu sesi menyusu bisa berlangsung selama 45 hingga 60 menit, dan siklus ini bisa berulang terus-menerus selama enam hingga delapan jam berturut-turut. Kondisi ini sering kali dipicu oleh rasa lapar si Kecil yang berkejaran dengan jumlah produksi kolostrum Mama yang masih keluar sedikit di awal melahirkan.

Menurut penjelasan Dr. Robert Quillin, seorang dokter anak, menyusu secara terus-menerus pada fase ini sebenarnya memiliki fungsi biologis yang sangat penting. Aktivitas mengisap yang intens dari si Kecil bermanfaat besar untuk membantu menstabilkan kadar gula darah bayi baru lahir. Selain itu, hisapan konstan tersebut menjadi stimulasi alami yang mengirimkan sinyal ke tubuh Mama agar mempercepat produksi ASI.

Oleh karena itu, ketika si Kecil mulai menangis dan gelisah di malam kedua, langkah pertama yang harus Mama lakukan adalah langsung memeluk dan menyusuinya kembali. Singkirkan dulu kekhawatiran bahwa ASI Mama tidak cukup, karena bayi baru lahir memang sedang belajar menyempurnakan cara mengisap (latch-on). Sabar ya Ma, nikmati saja momen kebersamaan ini meskipun rasanya Mama baru saja selesai menyusui beberapa menit yang lalu.

2. Lakukan kontak 'skin-to-skin' untuk menenangkan emosi bayi

IMG_2233.png
freepik/yanalya

Dunia luar rahim yang penuh dengan kilatan cahaya terang, suara bising, dan suhu udara yang dingin bisa terasa sangat mengejutkan dan mengintimidasi bagi bayi baru lahir. Ketika si Kecil mulai merasa kewalahan dan ketakutan dengan lingkungan barunya, mereka akan mengekspresikannya melalui tangisan yang sulit diredakan. Salah satu cara paling efektif untuk memulihkan rasa aman mereka adalah melalui sentuhan fisik langsung.

Mama bisa melepas pakaian si Kecil (cukup kenakan popok saja) lalu mendekapnya erat di atas dada telanjang Mama, kemudian tutupi punggung bayi dengan selimut hangat. Metode kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) ini terbukti secara medis mampu menurunkan hormon stres baik pada tubuh bayi maupun tubuh Mama sendiri. Denyut jantung Mama yang familier akan bertindak sebagai penenang alami yang paling ampuh.

Selain mengembalikan ketenangan, kontak langsung ini juga sangat efektif untuk mempererat ikatan batin (bonding) pascamelahirkan. Getaran hangat dari tubuh Mama akan mengirimkan sinyal ke otak si Kecil bahwa mereka sedang berada di tempat yang aman. Lakukan metode ini bersama pasangan secara bergantian agar Mama juga memiliki waktu luang untuk sekadar meluruskan punggung.

3. Bedong bayi dan putar suara 'white noise' sebagai tiruan rahim

IMG_2234.png
freepik/cookie_studio

memanipulasi lingkungan sekitarnya agar mirip dengan suasana di dalam kandungan. Selama 9 bulan, bayi terbiasa hidup di dalam ruang yang sangat sempit, hangat, dan selalu dikelilingi oleh suara-suara berisik dari dalam tubuh Mama. Perubahan drastis ke kasur yang luas dan sunyi sering kali membuat mereka merasa "tersesat".

Mama bisa membedong si Kecil menggunakan kain yang lembut dan bersirkulasi udara baik. Membedong dengan teknik yang tepat akan memberikan sensasi pelukan hangat yang konstan, sekaligus mencegah lengan bayi terkejut akibat refleks Moro (refleks kaget). Pastikan bedongan tidak terlalu ketat di area pinggul agar si Kecil tetap bisa menggerakkan kakinya secara nyaman.

Untuk menyempurnakan suasana, Mama juga bisa menyalakan suara white noise di dekat telinga bayi. Suara monoton seperti gemericik air hujan atau dengungan halus ini sangat mirip dengan suara aliran darah rahim yang didengar bayi setiap hari. Kombinasi bedong dan suara ini akan membantu menekan tingkat overstimulasi pada sistem saraf bayi.

4. Redupkan lampu kamar untuk mengurangi stimulasi visual

IMG_2235.png
freepik/freestockcenter

Sering kali, kamar perawatan di rumah sakit atau kamar tidur di rumah memiliki pencahayaan yang terlalu terang benderang di malam hari. Bagi mata bayi baru lahir yang masih sangat sensitif, paparan cahaya lampu yang intens ini bisa menjadi pemicu stres visual yang berat. Stimulasi berlebihan dari lingkungan sekitar akan membuat bayi kesulitan untuk memejamkan mata meskipun tubuhnya sudah sangat lelah.

Langkah sederhana yang bisa Mama lakukan adalah segera meredupkan lampu utama dan beralih menggunakan lampu tidur yang temaram. Suasana kamar yang gelap atau minim cahaya akan membantu menciptakan atmosfer yang tenang, rileks, dan nyaman bagi si Kecil. Hal ini juga membantu melatih jam biologis bayi sejak dini untuk mengenali perbedaan waktu siang dan malam.

Selain menguntungkan bagi bayi, kondisi kamar yang redup juga membantu mengistirahatkan mata dan pikiran Mama yang tegang setelah proses persalinan. Suasana yang tenang ini akan menurunkan ketegangan saraf di kepala, sehingga ketika ada kesempatan kecil bagi si Kecil untuk terlelap, Mama bisa langsung ikut memejamkan mata dengan lebih mudah dan berkualitas.

5. Jangan ragu meminta bantuan pasangan dan ambil jeda jika kewalahan

IMG_2236.png
freepik

Menghadapi Second Night Syndrome bukanlah tugas tunggal yang harus Mama pikul sendirian di atas tempat tidur. Rasa kaget, lelah, dan kurang tidur yang menumpuk secara drastis dalam waktu singkat berpotensi besar memicu rasa frustrasi bahkan luapan emosi negatif. Ingat ya Ma, sangat sulit untuk bisa menenangkan bayi yang sedang menangis histeris jika kondisi emosi Mama sendiri sedang tidak stabil.

Di sinilah peran penting komunikasi dan kerja sama dengan Papa atau anggota keluarga lainnya diuji. Jangan pernah merasa sungkan untuk meminta bantuan Papa dalam hal-hal teknis seperti mengganti popok yang basah, Menyendawakan bayi setelah menyusu, atau menggendong si Kecil sejenak. Pembagian tugas yang kompak ini akan memberi ruang bagi Mama untuk sekadar menarik napas dalam-dalam.

Jika di tengah malam Mama merasa sangat lelah, marah, atau menangis karena kewalahan, tidak apa-apa kok untuk mengambil jeda sejenak, Ma. Letakkan si Kecil di dalam boks bayinya yang aman, lalu melangkah keluar kamar selama beberapa menit untuk meminum segelas air putih hangat dan menenangkan pikiran. Setelah emosi Mama kembali stabil dan tenang, barulah Mama kembali masuk untuk memeluk si Kecil dengan energi yang lebih positif.

Meskipun sebagian besar kasus Second Night Syndrome adalah proses adaptasi biologis yang normal, Mama tetap harus waspada terhadap tanda-tanda dehidrasi pada bayi. Segera hubungi dokter anak jika si Kecil menunjukkan gejala lemas yang ekstrem, kulit tampak kuning (jaundice), berat badan turun drastis, atau jumlah popok basah kurang dari 6 kali dalam sehari.

Yuk, tanamkan pikiran positif bahwa Mama adalah ibu yang hebat dan tubuh Mama tahu persis apa yang dibutuhkan oleh si Kecil saat ini. Jadikan momen begadang di malam kedua ini sebagai babak awal cerita perjuangan cinta yang indah antara Mama dan sang buah hati. Tetap jaga kesehatan, penuhi asupan nutrisi Mama, dan semangat selalu dalam menyambut hari-hari baru bersama si Kecil, ya!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany

Related Articles

See More