Ibu Hamil Kena Campak, Janin Berisiko Buta dan Tuli

Campak pada ibu hamil dapat menyebabkan komplikasi serius bagi janin, termasuk risiko buta dan tuli.
Infeksi campak selama kehamilan bisa memicu SSPE, yaitu kerusakan otak progresif pada janin.
Pencegahan terbaik dilakukan sebelum hamil melalui vaksin MMR, sementara saat hamil dianjurkan langkah nonvaksin.
Campak termasuk penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan bisa dicegah melalui imunisasi. Meski sering dianggap ringan karena gejalanya hanya ruam dan demam yang hilang dalam beberapa hari, penyakit ini sebenarnya berpotensi menimbulkan komplikasi serius bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Bagi ibu hamil, risiko campak tidak hanya mengancam kesehatan dirinya, tetapi juga janin. Infeksi selama kehamilan bisa memengaruhi perkembangan janin, bahkan meningkatkan kemungkinan lahir dengan gangguan penglihatan atau pendengaran.
Berikut informasi yang telah Popmama.com siapkan terkait ibu hamil kena campak, janin berisiko buta dan tuli. Yuk, simak!
Table of Content
Ibu Hamil Kena Campak, Janin Berisiko Buta dan Tuli

Campak, atau yang dikenal dengan measles, jika tidak ditangani dengan cepat, bisa menyebabkan komplikasi serius yang juga berdampak pada janin. Salah satu komplikasinya adalah infeksi telinga yang dapat mengganggu fungsi pendengaran janin.
Selain campak measles, ibu hamil juga perlu mewaspadai campak Jerman atau rubella. Virus rubella biasanya menimbulkan gejala ringan pada orang dewasa, seperti demam rendah atau ruam ringan.
Infeksi rubella selama kehamilan, terutama pada trimester pertama, dapat berdampak serius pada perkembangan janin. Virus ini bisa menyerang mata, telinga, dan organ tubuh lain, sehingga berpotensi menimbulkan katarak, gangguan pendengaran (tuli), serta kelainan pada janin.
Campak juga Dapat Meningkatka Kerusakan Otak pada Janin

Selain risiko buta dan tuli, janin yang terpapar virus campak juga berpotensi mengalami SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis). SSPE adalah gangguan saraf serius yang terjadi akibat kerusakan jaringan otak secara bertahap dan progresif. Virus campak yang menular dari ibu ke janin dapat memicu kerusakan ini sejak janin masih dalam kandungan, meskipun gejala biasanya tidak langsung terlihat setelah lahir.
Pada anak yang terkena SSPE, kerusakan otak akan berkembang selama bertahun-tahun. Dampaknya dapat berupa penurunan kemampuan intelektual, gangguan koordinasi gerak, kejang, hingga masalah perilaku. Kondisi ini terjadi secara perlahan, sehingga fungsi otak janin yang terkena dampak virus campak bisa terus menurun seiring waktu.
Risiko Komplikasi Lain yang Bisa Terjadi

Campak bisa menimbulkan komplikasi serius bagi ibu hamil. Jika infeksi terjadi pada trimester pertama, risiko keguguran meningkat karena tubuh ibu sedang membentuk organ janin yang masih sangat rentan terhadap gangguan.
Di trimester ketiga, campak bisa mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke janin. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan kematian janin dalam kandungan (IUFD). Selain itu, infeksi juga dapat memicu kontraksi prematur, membuat bayi lahir lebih cepat dari seharusnya, dan memengaruhi pertumbuhan janin sehingga berpotensi lahir dengan berat badan rendah.
Dampak campak juga dirasakan langsung oleh ibu hamil. Gejala seperti demam tinggi, penurunan nafsu makan, dan diare bisa menyebabkan dehidrasi, yang membahayakan kesehatan. Virus campak bahkan berpotensi berkembang menjadi radang paru-paru (pneumonia), yang menimbulkan sesak napas dan memerlukan penanganan medis segera.
Cara Penyebaran Campak yang Perlu Diketahui Ibu Hamil

Ibu hamil perlu memahami bagaimana campak dapat menular, karena virus ini termasuk salah satu penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Dalam beberapa kasus, satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada belasan orang lain yang belum memiliki kekebalan.
Penularan campak biasanya terjadi melalui beberapa cara. Bisa melalui percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, dan terhirup oleh orang di sekitarnya. Melalui udara (airborne), karena virus campak dapat bertahan sementara di udara dalam ruangan, sehingga orang yang berada di ruangan yang sama tetap berisiko walaupun tidak bersentuhan langsung.
Bisa juga melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi, seperti permukaan meja atau mainan, yang kemudian disentuh dan masuk ke tubuh melalui hidung, mulut, atau mata. Karena penularannya yang sangat mudah, campak dapat menyebar dengan cepat, terutama pada ibu hamil yang sedang mengalami perubahan hormon sehingga menjadi lebih sensitif.
Apakah Pencegahan Campak Melalui Vaksin saat Hamil Diperbolehkan?

Pencegahan campak yang paling efektif dilakukan memang melalui vaksin MMR (measles, mumps, rubella). Di Indonesia, berdasarkan pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin ini termasuk imunisasi dasar yang diberikan sejak anak berusia 9 bulan, diikuti booster pertama pada usia 18 bulan, dan booster kedua saat anak berusia 5–7 tahun.
Pada orang dewasa, vaksin MMR dapat diberikan satu atau dua dosis pada rentang usia 19–59 tahun, dengan jarak sekitar 28 hari antar dosis. Namun, karena MMR adalah vaksin hidup, pemberiannya tidak dianjurkan selama kehamilan karena berpotensi membahayakan janin.
Untuk ibu hamil, perlindungan terhadap campak dapat dilakukan melalui langkah-langkah pencegahan nonvaksin. Seperti menggunakan masker saat berada di tempat umum, mencuci tangan secara rutin dengan sabun atau hand sanitizer, serta menghindari kontak langsung dengan orang sakit, terutama yang menunjukkan gejala campak.
Selain itu, ibu hamil perlu menghindari berbagi barang pribadi seperti handuk atau alat mandi dan pastikan seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah mulai dari Papa hingga asisten rumah tangga (ART) sudah mendapatkan vaksin MMR.
Nah, itu dia informasi terkait janin berisiko buta dan tuli jika ibu hamil kena campak. Jaga kesehatan, ya, Ma!


















