- Hipertensi dalam kehamilan, persalinan, dan nifas sebanyak 890 kasus (23,8%)
- Perdarahan obstetri sebanyak 889 kasus (23,8%)
- Komplikasi obstetrik lainnya sebanyak 377 kasus (10,1%)
- Infeksi terkait kehamilan sebesar 377 kasus (10,1%)
Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia Tinggi, Urutan Kedua di ASEAN

Kemenkes mencatat sekitar 4.000 kematian ibu dan 30.000 kematian bayi per tahun; AKI Indonesia mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup, tertinggi kedua di ASEAN setelah Laos.
Jawa Barat menyumbang kasus besar, dengan 5.758 kematian bayi pada 2024 dan sekitar 800 kematian ibu; angka kematian ibu turun dari 749 kasus pada 2024 menjadi 646 pada 2025.
Kematian ibu terutama dipicu hipertensi kehamilan dan perdarahan, sedangkan kematian bayi banyak terkait gangguan pernapasan-kardiovaskular; Kemenkes mengevaluasi layanan rumah sakit melalui audit AMPSR.
Angka kematian ibu dan bayi masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia.
Tingginya angka tersebut juga menjadi gambaran bahwa masih ada tantangan dalam memastikan ibu dan bayi mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman dan optimal.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sekitar 30.000 bayi meninggal setiap tahunnya di Indonesia. Selain itu, terdapat sekitar 4.000 kasus kematian ibu.
Berdasarkan data Sensus Penduduk, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 189 per 100 ribu kelahiran hidup, yang menempatkan Indonesia di posisi tertinggi kedua di ASEAN setelah Laos.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut terkait angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.
Table of Content
1. Jawa Barat menyumbang angka kematian tertinggi

Unsplash/Charles Eugene Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap angka kematian ibu dan bayi secara nasional. Pada 2024, tercatat sebanyak 5.758 bayi meninggal di Jawa Barat. Sementara itu, jumlah kematian ibu mencapai sekitar 800 kasus atau sekitar 17 persen dari total kematian ibu secara nasional.
Beberapa wilayah di Jawa Barat tercatat memiliki jumlah kasus yang cukup tinggi. Kabupaten Bogor mencatat 105 kematian ibu dan 717 kematian bayi, sedangkan Garut memiliki 50 kasus kematian ibu dan 332 kematian bayi. Sementara itu, Kabupaten Bandung mencatat 44 kematian ibu dan 407 kematian bayi.
Meski demikian, angka kematian ibu di Jawa Barat menunjukkan adanya penurunan. Pada 2024 terdapat 749 kasus, sedangkan pada 2025 jumlahnya turun menjadi 646 kasus atau sekitar 88,78 per 100.000 kelahiran hidup.
2. Perdarahan hingga hipertensi menjadi penyebab banyak ibu melahirkan meninggal

Pexels/Thirdman Penyebab kematian ibu di Indonesia cenderung memiliki pola yang serupa dari waktu ke waktu. Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa perdarahan obstetri masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu.
Selain perdarahan, hipertensi yang terjadi selama kehamilan serta komplikasi non-obstetri juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kondisi kesehatan yang sudah dimiliki ibu sebelum hamil, maupun penyakit yang muncul selama kehamilan, dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.
3. Rumah sakit akreditasi bagus tetap perlu mendapat evaluasi

Unsplash/Martha Dominguez de Gouveia Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan adanya temuan yang menjadi perhatian di sejumlah wilayah Jawa Barat. Beberapa kasus kematian ibu dan bayi justru terjadi di rumah sakit yang telah mendapatkan status akreditasi Paripurna.
Salah satu hal yang perlu dievaluasi adalah tata kelola pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit.
Sebab, pasien yang awalnya mendapatkan perawatan akibat perdarahan dapat mengalami infeksi beberapa hari setelah dirawat.
Kemenkes pun menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap rumah sakit yang ditemukan memiliki persoalan.
Rumah sakit akan diberikan waktu untuk melakukan perbaikan, termasuk dalam aspek klinis, administrasi, hingga tata kelola dan pemberian remunerasi bagi tenaga medis.
4. Empat penyebab utama kematian ibu

Pexels/Anna Shvets Berdasarkan data sistem Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga tahun 2025, tercatat 3.737 kasus kematian ibu dan 26.414 kematian bayi baru lahir.
Pada kasus kematian seorang mama, infeksi bukan menjadi satu-satunya faktor yang berperan. Komplikasi non-obstetri juga menjadi penyebab penting. Beberapa kondisi yang termasuk di dalamnya adalah penyakit jantung, penyakit ginjal, anemia berat, HIV, malaria, hingga diabetes yang dialami sebelum atau selama kehamilan.
Selain komplikasi non-obstetri, empat penyebab utama kematian ibu lainnya antara lain:
Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mama sebelum dan selama kehamilan memiliki peran penting. Kondisi kesehatan tertentu perlu mendapatkan perhatian dan penanganan agar risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan dapat ditekan.
5. Penyebab utama banyak bayi baru lahir meninggal

Pexels/Lisa Pada bayi baru lahir, masalah pernapasan dan kardiovaskular menjadi penyumbang angka kematian terbesar. Berdasarkan data Kemenkes, terdapat 10.677 kasus atau sekitar 40,4% kematian bayi baru lahir yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Penyebab lainnya meliputi:
- Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan prematuritas sebanyak 6.609 kasus (25%)
- Infeksi sebanyak 3.232 kasus (12,2%)
- Malformasi kongenital, deformasi, dan kelainan kromosom sebanyak 2.269 kasus (8,6%)
- Komplikasi intrapartum sebanyak 1.646 kasus (6,2 persen).
Untuk mengetahui penyebab kematian secara lebih menyeluruh, saat ini Kemenkes terus melakukan evaluasi terhadap pelayanan di fasilitas kesehatan. Namun, penentuan apakah suatu kematian berkaitan dengan kelalaian atau masalah pelayanan rumah sakit tidak dapat dilakukan secara langsung.
Setiap kasus perlu dikaji melalui mekanisme Audit Maternal dan Neonatal Surveilans Response (AMPSR). Mekanisme tersebut digunakan untuk melihat kasus secara komprehensif, mulai dari kondisi pasien, proses pelayanan, hingga faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap kematian mama dan bayi.
Demikian informasi mengenai angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Bagaimana menurut pendapat Mama?





















