Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wikimedia Commons/CDC Global, Jim Goodson, M.P.H.
  • Biang keringat terjadi saat saluran keringat bayi tersumbat, terutama akibat panas dan pakaian ketat; alergi adalah respons imun terhadap pemicu seperti sabun, makanan, obat, atau bulu hewan.

  • Biang keringat berupa bintik kecil seragam di area lembap seperti leher dan lipatan kulit, dengan sensasi menusuk; alergi dapat menjadi bentol tak beraturan, sangat gatal, dan muncul di mana saja.

  • Biang keringat ditangani dengan mendinginkan kulit serta pakaian longgar; alergi perlu menghindari pemicu dan membersihkan kulit. Periksakan segera bila ruam berat, demam, atau gangguan bernapas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Biang keringat dan alergi pada bayi sama-sama dapat menimbulkan ruam merah, tetapi berbeda penyebab, bentuk, lokasi, gejala, serta penanganannya.
  • Who?
    Bayi dapat mengalami biang keringat atau alergi kulit; orang tua perlu mengamati ruam dan membawa bayi ke dokter anak bila muncul tanda berat atau tidak membaik.
  • Where?
    Biang keringat umumnya muncul di leher, dada, selangkangan, punggung, ketiak, kulit kepala, dan lipatan kulit. Ruam alergi dapat berkembang di bagian tubuh mana pun.
  • When?
    Biang keringat sering muncul saat cuaca panas atau setelah bayi berkeringat. Alergi dapat muncul setelah paparan pemicu dan tidak terikat musim.
  • Why?
    Biang keringat terjadi ketika saluran keringat tersumbat dan keringat terperangkap di bawah kulit. Alergi terjadi akibat respons sistem kekebalan terhadap zat tertentu, termasuk sabun, makanan, obat, atau bulu hewan.
  • How?
    Biang keringat berupa bintik kecil seragam dengan sensasi menusuk; kulit perlu didinginkan dan dikeringkan. Alergi dapat berupa bentol gatal tidak beraturan; pemicu perlu dihindari dan pemeriksaan diperlukan bila ruam berat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Biang keringat pada bayi muncul saat panas dan keringatnya terjebak di kulit. Bintiknya kecil-kecil, sering di leher atau lipatan badan. Alergi bisa muncul karena sabun, makanan, atau hal lain. Bentolnya bisa besar dan sangat gatal. Kalau bayi susah bernapas atau ruamnya parah, harus ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah Mama menemukan bintik merah di leher si Kecil sepulang bermain, lalu bingung apakah ini biang keringat atau alergi? Wajar saja kalau Mama bingung, karena keduanya sama-sama membuat kulit merah, gatal, dan bikin si Kecil rewel.

Melansir Continental Hospitals, kedua kondisi ini sekilas memang mirip, tetapi penyebab, gejala, dan cara munculnya berbeda. Mengenal bedanya sejak awal membantu Mama memilih perawatan yang tepat tanpa panik.

Untuk memudahkan Mama dalam membedakan di antara keduanya, berikut Popmama.com mengulas apa bedanya biang keringat dengan alergi pada bayi? Yuk, simak sampai habis!

Penyebab Biang Keringat dan Alergi

Wikimedia Commons/CDC

Mari mulai dari akarnya. Mengutip Continental Hospitals, biang keringat terjadi saat saluran keringat tersumbat sehingga keringat terperangkap di bawah kulit dan memicu peradangan.

Penyumbatan ini mudah terjadi ketika tubuh berkeringat berlebihan pada suhu panas, terutama bila lipatan kulit atau pakaian ketat menghalangi kerja saluran keringat. Pantas saja si Kecil lebih rentan, sebab saluran keringat bayi belum berkembang sepenuhnya.

Sedangkan alergi berbeda. Melansir Continental Hospitals, alergi kulit adalah respons sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing yang sebenarnya tidak berbahaya, dengan melepaskan zat seperti histamin yang memicu peradangan.

Pemicunya bisa berupa wewangian dan bahan kimia pada sabun atau deterjen, logam seperti nikel, lateks, makanan tertentu, obat, hingga serbuk sari dan bulu hewan.

Bentuk dan Ciri Biang Keringat dan Alergi

Wikimedia Commons/CDC/Dr. Heinz F. Eichenwald

Coba perhatikan bintiknya dari dekat. Menurut Wake Forest Pediatrics, biang keringat biasanya berupa bintik merah sangat kecil atau lenting mungil yang ukurannya seragam, seperti dititik-titik dengan ujung pena merah.

Bintik-bintik itu jarang menyatu menjadi bentol besar, meski area yang terkena bisa cukup luas. Kulitnya pun bisa tampak sedikit mengilap.

Alergi lebih beragam wujudnya. Mengutip Revival Research Institute, biduran berupa bentol timbul yang gatal dengan bagian tengah pucat dan tepi kemerahan, yang bisa menyatu serta berpindah-pindah.

Ukuran bentol itu bisa sekecil penghapus pensil hingga sebesar piring makan, dengan bentuk tak beraturan seperti peta.

Lokasi pada Tubuh

Wikimedia Commons/Allergyresearch

Biang keringat gemar menetap di tempat yang lembap dan pengap. Kondisi ini umumnya muncul saat cuaca panas di area rawan keringat seperti leher, dada, selangkangan, punggung, ketiak, dan lipatan kulit.

Melansir Harvard Health, biang keringat juga bisa muncul di kulit kepala dan lipatan siku. Pada bayi baru lahir, bentuknya berupa lenting sangat tipis seperti tetesan air yang tersebar di wajah, badan, lengan, dan kaki, sehingga Mama sebaiknya menghubungi dokter anak bila melihatnya.

Alergi berbeda, sebab menurut Skinlogics, ruamnya bisa berkembang di bagian tubuh mana pun dan tidak terikat musim. Karena lokasi saja belum cukup untuk memastikan, Mama juga perlu melihat gejala yang menyertainya.

Gejala Biang Keringat dan Alergi

Wikimedia Commons/Enochlau

Soal rasa, biang keringat dikenal dengan julukan prickly heat. Menurut Wake Forest Pediatrics, ia lebih sering menimbulkan sensasi menusuk atau kesemutan ketimbang gatal hebat, dan si Kecil mungkin lebih rewel karena tidak nyaman.

Alergi, terutama biduran, sering terasa sangat gatal hingga si Kecil menggaruk sampai kulitnya lecet. Area yang terkena juga bisa terasa lebih hangat, bahkan nyeri saat disentuh.

Alergi pun kerap membawa gejala lain, seperti bengkak di sekitar mata, bibir, atau wajah, hidung meler, dan mata berair. Sebaliknya, biang keringat biasanya datang sendirian dan si Kecil tetap mau makan, minum, serta bermain seperti biasa.

Ada pula kondisi yang kerap mengecoh, yaitu urtikaria kolinergik berupa bentol sangat kecil berukuran 1–4 milimeter yang muncul dalam hitungan menit setelah berkeringat dan biasanya reda dalam 30–90 menit, melansir Allergy Clinic. 

Kondisi ini bukan alergi dalam arti sebenarnya, tetapi tetap perlu dikonsultasikan ke dokter bila berlangsung lama atau berat.

Cara Mengatasi Biang Keringat dan Alergi

Pexels/RDNE Stock project

Setelah bisa membedakannya, apa yang bisa Mama lakukan di rumah? Untuk biang keringat, Harvard Health menyebut langkah pertama adalah mendinginkan dan mengeringkan kulit, misalnya dengan kipas angin, pendingin ruangan, mandi air sejuk, atau kompres dingin.

Pakaikan baju katun yang ringan dan longgar agar udara mengalir, sementara bahan sintetis sebaiknya dihindari karena menjebak panas. 

Losion kalamin boleh dipakai untuk meredakan gatal, tetapi hindari bedak bayi, pelembap berminyak, dan tabir surya karena bisa menyumbat saluran keringat lebih jauh.

Biang keringat biasanya hilang dalam satu sampai dua hari setelah tubuh dingin, meski kasus yang lebih berat bisa bertahan seminggu atau lebih, kata Harvard Health.

Bila belum membaik setelah seminggu, atau muncul nyeri, gatal hebat, dan tanda infeksi, segera bawa si Kecil ke dokter anak.

Untuk alergi, WebMD menyebut langkah awalnya adalah menjauhi pemicu, dan bila kulit sempat menyentuh sesuatu yang diduga alergen, bersihkan area itu dengan sabun dan air sesegera mungkin. 

Segera periksakan bila ruam menyebar cepat, melepuh, disertai demam, atau si Kecil tampak kesulitan bernapas dan menelan.

Singkatnya, biang keringat lahir dari saluran keringat yang tersumbat dan cenderung muncul di area berkeringat, sedangkan alergi muncul dari reaksi sistem imun dengan gatal yang lebih hebat dan lokasi yang tak menentu. 

Nah, itulah pembahasan mengenai apa bedanya biang keringat dengan alergi pada bayi? Semoga informatif dan bermanfaat, Ma! 

Curated For You

Editorial Team

Related Article