- Tidak terasa ada ubun-ubun atau bagian lunak di kepala bayi.
- Bentuk dahi yang sebagian rata dan sebagian lagi tampak menonjol.
- Bentuk dahi terlihat seperti segitiga, dengan bagian belakang kepala yang lebar.
- Bentuk kepala bayi yang lebih kecil daripada bayi seusianya.
- Posisi salah satu telinga lebih tinggi dari telinga yang lain.
- Bentuk kepala tidak normal, seperti memanjang, pipih, atau terlihat datar di salah satu sisi.
Kepala Bayi Peang, Apakah Memengaruhi Perkembangan Otak?

- Kepala peang pada bayi umumnya disebabkan posisi tidur atau tekanan tertentu, dan tidak memengaruhi perkembangan otak selama bukan akibat kelainan serius seperti craniosynostosis.
- Craniosynostosis terjadi saat sambungan tulang tengkorak menutup terlalu cepat, berisiko menekan otak dan menghambat tumbuh kembang bayi sehingga perlu penanganan medis segera.
- Pencegahan kepala peang dapat dilakukan dengan mengubah posisi tidur, menggunakan bantal atau helm khusus, serta rutin memantau bentuk kepala dan berkonsultasi ke dokter bila tak ada perbaikan.
Bentuk kepala bayi yang tak bulat sempurna sering kali menjadi salah satu perhatian bagi para orangtua. Kepala bayi yang datar di bagian samping atau belakang merupakan kondisi yang tentu dapat memicu kekhawatiran.
Kondisi itu juga bisa menimbulkan pertanyaan besar. Apakah kepala bayi yang tidak sempurna merupakan hal yang normal, atau justru bisa memengaruhi perkembangan otak bayi?
Nah, sebelum panik, penting bagi Mama untuk memahami penyebab, jenis-jenis kepala peang, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki bentuk kepala si Kecil.
Sebelumnya, tahukah Mama, flat head syndrome atau yang lebih dikenal dengan kepala peang merupakan kondisi bentuk kepala bayi yang tidak bulat sempurna, melainkan datar atau pipih di satu sisi ataupun di belakang kepala. Kondisi ini umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan bayi memiliki kepala peang, seperti adanya masalah pada rahim ibu, bayi tidur terlentang yang terlalu lama, ketegangan otot leher bayi, dan kelainan pada tulang tengkorak.
Kondisi itu bisa terjadi karena sejatinya, tulang tengkorak bayi masih sangat lunak sehingga rentan terjadi perubahan bentuk. Lantas, apakah kepala peang memengaruhi perkembangan otak bayi? Yuk, Ma, simak informasi yang sudah Popmama.com siapkan.
Kepala Bayi Peang, Apakah Memengaruhi Perkembangan Otak?

Magnific/Pvproductions Kepala peang umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu yaitu plagiocephaly dan brachycephaly. Keduanya memiliki bentuk dan ciri-ciri yang berbeda.
Plagiocephaly adalah kondisi kepala yang datar pada salah satu sisi, sehingga kepala terlihat asimetris. Kondisi ini membuat posisi kedua telinga bayi terlihat tidak sejajar dan kepala tampak tidak rata bila dilihat dari atas.
Sementara itu, brachycephaly adalah kondisi kepala bayi yang terlihat datar pada bagian belakang. Kondisi ini membuat kepala bayi tampak melebar hingga terkadang dahinya menonjol ke depan.
Lalu, apakah kedua kondisi ini bisa memengaruhi perkembangan otak si Kecil? Jawabannya adalah tidak. Pada sebagian besar kasus, kondisi ini hanya memengaruhi bentuk kepala dan tidak berdampak pada perkembangan neurologis bayi.
Tapi, jika tak ditangani, kondisi ini mungkin akan memengaruhi penampilan dan tingkat kepercayaan diri si Kecil di masa depan, ya, Ma.
Waspada Kepala Peang Craniosynostosis

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Meskipun plagiocephaly dan brachycephaly tidak berbahaya bagi otak si Kecil, Mama harus waspada pada jenis kepala peang craniosynostosis. Berbeda dengan kedua jenis kepala peang lainnya, craniosynostosis bisa menimbulkan dampak yang serius pada kesehatan si Kecil.
Craniosynostosis merupakan kelainan bawaan lahir yang terjadi ketika satu atau lebih jaringan yang menghubungkan tulang-tulang tengkorak bayi (sutura), menutup lebih cepat dari yang seharusnya.
Saat otak bayi terus berkembang, tengkorak juga perlu berkembang agar memberi ruang yang cukup. Jika salah satu sambungan tulang tengkorak telah menutup terlalu cepat, pertumbuhan kepala menjadi tidak sempurna. Hal ini pun membuat bentuk kepala bayi tampak tidak simetris atau tidak proporsional.
Lalu, pada beberapa kasus, kondisi ini juga dapat membatasi ruang bagi otak untuk berkembang. Jika diabaikan, tekanan di dalam tengkorak bisa meningkat dan berisiko mengganggu tumbuh kembang otak serta menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada si Kecil.
Penyebab, Faktor Risiko, dan Gejala Craniosynostosis

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab craniosynostosis. Tetapi, kondisi ini diduga erat kaitannya dengan faktor genetik dan lingkungan. Craniosynostosis juga diduga bisa dipicu oleh kondisi yang dapat memengaruhi perkembangan tengkorak anak, seperti sindrom Apert, sindrom Pfeiffer, dan sindrom Crouzon.
Tahukah Mama, risiko craniosynostosis juga dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan, lho. Ibu yang memiliki gangguan tiroid atau sedang menjalani pengobatan tiroid saat hamil dan ibu yang menggunakan obat penyubur kandungan sebelum hamil diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan craniosynostosis.
Nah, beberapa gejala craniosynostosis sudah bisa terlihat sejak si Kecil lahir, lalu akan semakin terlihat setelah beberapa bulan. Beberapa gejala-gejala itu di antaranya seperti:
Penting bagi Mama dan Papa sebagai orangtua memahami bahwa craniosynostosis bukan hanya sekadar permasalahan bentuk kepala peang pada si Kecil. Pada sebagian kasus, kondisi ini dapat meningkatkan tekanan di dalam kepala yang berisiko memengaruhi perkembangan otak dan tumbuh kembang si Kecil.
Oleh karena itu, Mama dan Papa perlu waspada jika melihat bentuk kepala si Kecil yang tampak berbeda atau kondisi ubun-ubun yang tak seperti biasanya, segera periksakan ke dokter agar dapat ditangani secepat mungkin, ya.
Bagaimana Cara Mencegah dan Menangani Kepala Peang Pada Bayi?

Pexels/RDNE Stock project Mama bisa lakukan beberapa hal berikut untuk mencegah dan menangani kepala peang pada si Kecil:
- Sering mengubah posisi tidur bayi. Mama bisa mengubah posisi tidur si Kecil secara berkala agar mengurangi tekanan pada salah satu sisi kepala. Tapi, jika si Kecil belum berusia 12 bulan, hindari menidurkannya dalam posisi tengkurap karena dapat meningkatkan risiko bayi meninggal mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS).
- Gunakan bantal khusus. Si Kecil juga bisa menggunakan bantal khusus, atau yang biasa disebut dengan bantal anti peang. Penggunaan bantal tersebut bisa membantu mencegah bentuk kepala yang peang.
- Latih bayi agar sering mengubah posisi tubuhnya. Mama bisa coba untuk rangsang dan latih si Kecil untuk mengubah posisi tidurnya. Jangan biarkan si Kecil tidur dalam posisi yang sama terus-menerus dalam jangka waktu yang lama.
- Ubah posisi tempat tidur bayi. Mama bisa berikan si Kecil pandangan baru dengan mengubah posisi tempat tidurnya, agar si Kecil bisa melihat dari sisi yang berbeda-beda. Misalnya dengan meletakkan posisi tempat tidurnya pada tempat yang berlawanan dengan arah pintu, sehingga saat Mama atau Papa masuk ke kamar, si Kecil akan memutar kepalanya untuk melihat ke arah kedua orangtuanya datang.
- Menggendong dengan berbagai posisi. Variasikan cara Mama ketika menggendong si Kecil untuk mengurangi tekanan yang terus-menerus pada satu sisi kepala. Jangan biarkan si Kecil tertidur pada posisi yang sama terlalu lama. Jangan lupa longgkarkan ikatan pada gendongan agar tidak terlalu erat menekan tubuh si Kecil.
- Menggunakan helm khusus (cranial remolding orthosis/cranial helmet). Terapi atau penggunaan helm ini bertujuan untuk membentuk kepala bayi yang peang agar kembali bulat dengan sempurna. Penggunaan helm ini umumnya membutuhkan waktu antara 3 sampai 4 bulan, tetapi tergantung pada usia dan tingkat keparahan kondisi masing-masing bayi. Tapi, Mama perlu memahami bahwa terapi cranial helmet hanya bekerja secara optimal jika digunakan sebelum si Kecil berusia 12 bulan, yaitu saat tulang tengkorak masih dalam tahap pertumbuhan dan belum sepenuhnya menyatu. Setelah masa pertumbuhan otak dan tengkorak berakhir, penggunaan helm ini tidak lagi efektif untuk membantu memperbaiki bentuk kepala.
Kapan Harus ke Dokter?

Magnific/Freepik Meski kepala peang dengan kondisi ringan bisa diatasi dengan cara-cara yang disebutkan di atas, namun ada beberapa kondisi yang tetap memerlukan saran dan penanganan dari dokter spesialis anak atau bedah saraf. Mama diharuskan untuk konsultasi ke dokter jika:
- Bentuk kepala si Kecil yang tidak menunjukkan perbaikan setelah 6 minggu penanganan di rumah.
- Lingkar kepala tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan normal.
- Gerakan kepala terlihat terbatas atau si Kecil cenderung hanya menoleh ke satu sisi (hal ini bisa menjadi tanda tortikolis).
- Kekhawatiran orangtua mengenai perkembangan bayi atau tingkat keparahan kepala peang.
Nah, itu tadi penjelasan tentang apakah kepala peang memengaruhi perkembangan otak bayi. Peran aktif orangtua sangat penting untuk memperhatikan dan memantau tanda-tanda dan perkembangan bentuk kepala si Kecil. Jika si Kecil mengalami ciri-ciri kepala peang, Mama bisa langsung berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan yang tepat, ya.





















