- Tangisan terus-menerus selama lebih dari 2 jam dan tidak bisa ditenangkan
- Demam, terutama pada bayi berusia kurang dari 3 bulan. Suhu rektal 38°C atau lebih pada bayi di bawah 12 minggu memerlukan penilaian medis segera
- Bayi tampak sangat lemas, tidak responsif, atau sulit dibangunkan
- Menolak menyusu atau minum jauh lebih sedikit dari biasanya
- Muntah, terutama jika disertai tangisan yang hebat atau kondisi bayi memburuk
- Menangis ketika disentuh, digendong, atau digerakkan, yang dapat menjadi tanda bayi mengalami nyeri
- Sulit bernapas atau tampak kesulitan mendapatkan udara.
- Tangisan terdengar sangat melengking, panik, atau berbeda dari tangisan biasanya
- Ada pembengkakan pada area tubuh tertentu, seperti selangkangan atau skrotum
Berapa Lama Tangisan Bayi Dianggap Normal? Ini Faktanya

- Bayi baru lahir dapat menangis sekitar 1–4 jam sehari, dengan durasi yang bisa tersebar sepanjang hari.
- Periode rewel dapat meningkat pada minggu-minggu awal dan berkurang saat bayi berusia sekitar 3–4 bulan.
- Tangisan yang sulit ditenangkan atau disertai gejala tertentu memerlukan pemeriksaan dokter.
Tangisan menjadi cara utama bayi berkomunikasi. Bayi bisa menangis ketika lapar, mengantuk, popoknya basah, merasa terlalu banyak stimulasi, atau sekadar membutuhkan pelukan.
Pada masa awal kehidupan, menangis cukup lama juga bisa menjadi bagian dari perkembangan yang normal.
Namun, orangtua mungkin bertanya-tanya, berapa lama sebenarnya tangisan bayi masih dianggap normal? Apakah bayi yang menangis berjam-jam perlu dikhawatirkan?
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!
Table of Content
1. Bayi baru lahir bisa menangis hingga 1–4 jam sehari

Pexels/Antoni Shkraba Studio Bayi baru lahir umumnya memang cukup sering menangis. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebutkan bahwa bayi baru lahir dapat menangis sekitar 1–4 jam dalam sehari. Durasi ini tidak selalu terjadi sekaligus, tetapi bisa tersebar sepanjang hari.
Sementara itu, penelitian lain yang dirangkum dalam The Journal of Pediatrics juga menunjukkan adanya variasi yang cukup besar antarbayi. Penelitian tersebut menganalisis data dari 8.690 bayi dan menemukan bahwa durasi menangis berbeda-beda berdasarkan usia maupun bayi yang diteliti.
Jadi, bayi yang menangis beberapa jam dalam sehari belum tentu berarti sedang sakit. Selama bayi tetap mau menyusu, tumbuh dengan baik, dan terlihat sehat serta tenang di luar periode menangis, kondisi tersebut umumnya masih dapat menjadi bagian dari perkembangan normal.
2. Tangisan biasanya lebih sering pada minggu-minggu awal

Freepik/pch.vector Orangtua mungkin merasa bayi justru semakin sering menangis setelah beberapa minggu pertama. Hal ini memang bisa terjadi.
Menurut AAP, periode rewel bayi biasanya memuncak sekitar usia 6 minggu, dengan durasi dapat mencapai sekitar 3 jam sehari, kemudian perlahan berkurang menjadi sekitar 1–2 jam sehari ketika bayi berusia 3–4 bulan.
Penelitian memang menyebut tangisan bayi memang meningkat pada beberapa minggu pertama. Namun, penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa usia 6 minggu merupakan puncak tangisan yang berlaku secara universal untuk semua bayi.
Artinya, ada bayi yang lebih sering menangis pada usia tersebut, tetapi waktunya bisa berbeda pada setiap anak.
3. Menangis lebih dari 3 jam sehari bisa termasuk tangisan berlebihan

Pexels/Antoni Shkraba Bayi yang menangis lebih dari 3 jam sehari selama setidaknya 3 hari dalam seminggu dapat masuk dalam kriteria tangisan berlebihan yang sering digunakan untuk menggambarkan kolik. AAP pada panduan terbarunya menjelaskan kolik sebagai tangisan yang sulit ditenangkan, berlangsung setidaknya 3 jam sehari dan 3 hari per minggu selama lebih dari 3 minggu.
Kolik biasanya mulai muncul pada minggu-minggu awal kehidupan, lebih sering terjadi pada sore atau malam hari, dan umumnya membaik ketika bayi memasuki usia sekitar 3–4 bulan.
Meski begitu, tidak semua bayi yang menangis lebih dari 3 jam sehari mengalami kolik. Dokter perlu memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada kondisi medis lain yang menyebabkan bayi menangis terus-menerus.
4. Kenali tangisan bayi yang perlu diwaspadai

Pixabay/StockSnap Durasi tangisan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Perubahan suara tangisan dan kondisi bayi juga penting.
Segera hubungi dokter atau cari pertolongan medis jika bayi menangis disertai:
Tanda-tanda tersebut tidak boleh dianggap hanya sebagai fase bayi rewel. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mencari penyebabnya.
5. Lama bayi menangis bukan satu-satunya patokan

Pexels/Sarah Chai Tidak ada satu angka yang bisa menentukan bahwa tangisan bayi pasti normal atau tidak. Bayi baru lahir dapat menangis 1–4 jam sehari, sementara sebagian bayi yang sehat bahkan bisa menangis lebih lama.
Karena itu, orangtua sebaiknya melihat pola tangisan dan kondisi bayi secara keseluruhan. Jika bayi masih menyusu dengan baik, buang air kecil seperti biasa, tumbuh sesuai perkembangannya, dan dapat kembali tenang setelah menangis, umumnya tidak perlu langsung panik.
Sebaliknya, jika tangisan tiba-tiba berubah, berlangsung terus-menerus, sulit ditenangkan, atau disertai gejala lain seperti demam, muntah, sulit bernapas, atau bayi tampak lemas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Dan ketika tangisan bayi terasa sangat melelahkan, orangtua juga boleh mengambil jeda. Letakkan bayi telentang di tempat tidur yang aman, lalu minta bantuan orang terdekat jika merasa kewalahan.
Jangan pernah mengguncang atau memukul bayi karena tindakan tersebut dapat menyebabkan cedera otak serius hingga kematian.
Itulah tadi informasi mengenai berapa lama tangisan bayi dianggap normal dan kemungkinan penyebabnya. Semoga membantu terutama untuk pada orangtua baru yang kerap panik mendengar bayi terus-menerus menangis!






















