Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Berat Badan Bayi Rendah, Lebih Baik ASI Donor atau Susu Formula?

5 min read
Berat Badan Bayi Rendah, Lebih Baik ASI Donor atau Susu Formula?
Unsplash/Omar Lopez
  • Produksi ASI yang tidak mencukupi dapat membuat kebutuhan nutrisi bayi tidak terpenuhi dan berat badan tidak mengalami kenaikan.

  • ASI donor diutamakan, sedangkan susu formula dapat diberikan sementara jika ada indikasi medis dan ketersediaan ASI donor terbatas.

  • Pemantauan berat badan dan pertumbuhan secara rutin membantu menentukan penanganan yang sesuai bagi bayi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber nutrisi terbaik bagi bayi karena mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.

Meski begitu, tidak semua mama dapat langsung memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup. Beberapa kondisi, seperti produksi ASI yang sedikit, pelekatan menyusu yang kurang tepat, hingga bayi kesulitan menyusu secara efektif, dapat membuat kebutuhan nutrisi si Kecil tidak terpenuhi.

Jika dibiarkan, kondisi tersebut berisiko menghambat pertumbuhan bayi, salah satunya ditandai dengan berat badan yang tidak mengalami kenaikan. Lantas, jika berat badan bayi kurang, apakah sebaiknya Mama memberikan ASI donor atau susu formula?

Untuk memahami lebih lanjut, berikut Popmama.com telah merangkum informasinya berdasarkan penjelasan Dokter Spesialis Anak.

  1. 1. ASI kurang bisa membuat kebutuhan nutrisi bayi tidak terpenuhi

    ASI kurang bisa membuat kebutuhan nutrisi bayi tidak terpenuhi
    Pexels/Helena Lopes

    ASI dikenal sebagai asupan terbaik untuk bayi, terutama selama enam bulan pertama kehidupannya. Kandungan nutrisi di dalam ASI berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, serta menjaga daya tahan tubuh si Kecil.

    Namun, Mama perlu memahami bahwa keberhasilan pemberian ASI eksklusif juga dipengaruhi oleh kecukupan jumlah ASI yang dikonsumsi bayi. Tidak semua mama memiliki produksi ASI yang langsung melimpah setelah melahirkan.

    ASI yang tidak mencukupi bisa membuat nutrisi si Kecil tidak terpenuhi sepenuhnya. Hal tersebut dapat berujung pada berat badan bayi yang rendah dan bahkan tidak mengalami kemajuan.

  2. 2. Berat badan bayi yang tidak naik bisa menjadi tanda kekurangan nutrisi

    dr. Agnes Tri Harjaningrum, Sp.A
    Instagram.com/meet.dr_agnes

    Salah satu indikator penting untuk mengetahui kecukupan nutrisi bayi adalah memantau kenaikan berat badannya. Pada beberapa hari pertama setelah lahir, bayi umumnya mengalami penurunan berat badan secara alami.

    Namun, berat badan tersebut biasanya akan kembali seperti saat lahir dalam waktu satu hingga dua minggu. Setelah itu, berat badan bayi diharapkan terus mengalami peningkatan sesuai dengan kurva pertumbuhan.

    Jika berat badan bayi tidak kunjung naik, stagnan, atau justru mengalami penurunan, Mama perlu segera mencari tahu penyebabnya. Kondisi ini juga pernah ditemukan oleh dokter spesialis anak, dr. Agnes Tri Harjaningrum, Sp.A., saat memeriksa seorang bayi laki-laki berusia satu bulan 21 hari.

    Dalam video edukasi yang diunggah melalui akun Instagram @meet.dr_agnes, ia memperlihatkan kondisi bayi yang lahir dengan berat badan 3,1 kg, tetapi justru mengalami penurunan hingga 2,75 kg.

    Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan bahwa bayi tersebut tidak mendapatkan asupan ASI yang mencukupi kebutuhannya.

    "Nah Ibu, jadi kan ini anaknya nggak tumbuh ya. Nah ternyata tuh ASI-nya kurang,” ujarnya kepada orangtua pasien.

    Berdasarkan pengukuran menggunakan standar pertumbuhan WHO, bayi tersebut termasuk dalam kategori berat badan sangat kurang dan mengalami wasting yang kondisinya hampir mengarah pada gizi buruk.

    Padahal, bayi umumnya diharapkan mengalami kenaikan berat badan sekitar 800 gram selama bulan pertama kehidupannya.

  3. 3. Kekurangan nutrisi pada bayi bisa berdampak pada perkembangan otak

    Kekurangan nutrisi pada bayi bisa berdampak pada perkembangan otak
    Pexels/Sarah Chai

    Berat badan bayi yang tidak bertambah bukan sekadar persoalan angka pada timbangan. Kekurangan asupan nutrisi selama masa awal kehidupan juga dapat berdampak terhadap proses tumbuh kembangnya, termasuk perkembangan otak.

    Pada usia bayi, sekitar 40 persen kebutuhan energi harian digunakan untuk mendukung perkembangan otak. Hal ini membuat periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi salah satu fase paling penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

    Apabila kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi, proses perkembangan otak bayi berisiko mengalami hambatan. Kondisi tersebut tentu perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak memengaruhi tumbuh kembang bayi dalam jangka panjang.

    "Kalau nggak tumbuh gini, otaknya nggak berkembang. Kasihan," kata dr. Agnes.

    Melihat pentingnya pemenuhan nutrisi pada periode tersebut, orangtua sebaiknya tidak menunda pemeriksaan apabila menemukan tanda-tanda pertumbuhan bayi yang kurang optimal. Penanganan sejak dini diperlukan agar kebutuhan nutrisi si Kecil dapat segera terpenuhi.

  4. 4. ASI donor menjadi pilihan, tetapi susu formula bisa diberikan jika diperlukan

    ASI donor menjadi pilihan, tetapi susu formula bisa diberikan jika diperlukan
    Unsplash/Lucy Wolski

    Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan ketika produksi ASI mama belum mencukupi kebutuhan bayi? Menurut dr. Agnes, ASI donor dapat menjadi salah satu pilihan yang diutamakan apabila Mama belum mampu menyediakan ASI dalam jumlah yang cukup.

    Namun, mendapatkan ASI donor tidak selalu mudah. Ketersediaannya bisa terbatas sehingga tidak semua keluarga dapat memperolehnya ketika dibutuhkan. Dalam kondisi seperti itu, susu formula boleh diberikan untuk sementara, asalkan memang ada indikasi medis.

    "Jadi mau nggak mau sementara dibantu susu formula," ujarnya.

    Meski begitu, pemberian susu formula juga bukan berarti bayi harus berhenti mengonsumsi ASI untuk seterusnya. Apabila produksi ASI mama sudah mencukupi dan berat badan bayi mulai mengalami peningkatan, pemberian ASI dapat kembali diutamakan.

    "Tapi ini bukan seterusnya ya. Nanti kalau ASI ibu sudah banyak, berat badannya sudah naik, kita akan balik lagi ke ASI ya," tambahnya.

    Dengan kata lain, susu formula berperan sebagai jembatan untuk menyelamatkan tumbuh kembang anak, bukan pengganti ASI sepenuhnya.

    Selama masa itu, upaya meningkatkan produksi ASI mama tetap dijalankan, dan keputusan pemberian susu formula tetap berada di tangan dokter berdasarkan kondisi masing-masing bayi.

  5. 5. Pantau pertumbuhan bayi secara rutin untuk mencegah kekurangan nutrisi

    Pantau pertumbuhan bayi secara rutin untuk mencegah kekurangan nutrisi
    Unsplash/Hollie Santos

    Salah satu langkah penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi adalah melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin. Mama dapat membawa si Kecil ke posyandu, puskesmas, atau dokter anak untuk melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan secara berkala.

    Hasil pengukuran tersebut sebaiknya dicatat dalam kurva pertumbuhan pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Melalui pencatatan ini, Mama dan tenaga kesehatan dapat mengetahui apakah pertumbuhan bayi sudah sesuai dengan tahapan usianya atau justru membutuhkan perhatian lebih lanjut.

    Jika Mama mendapati berat badan bayi tidak mengalami kenaikan atau justru terus menurun, jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

    Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya sekaligus menentukan penanganan yang sesuai, termasuk mempertimbangkan pemberian ASI donor atau susu formula apabila memang diperlukan.

    Dengan pemantauan pertumbuhan dan pemenuhan nutrisi yang tepat, diharapkan bayi dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Semoga informasinya membantu ya, Ma.

Related Articles

See More