- Ganti larangan dengan arahan positif: Daripada bilang, "Jangan lari!", Mama bisa mengatakan, "Jalannya pelan-pelan, ya." Dengan begitu, anak mengetahui perilaku apa yang diharapkan darinya.
- Berikan penjelasan singkat: Sampaikan alasan di balik larangan menggunakan kalimat sederhana. Misalnya, "Pegang mangkuknya pakai dua tangan, ya, supaya tidak jatuh.”
- Tawarkan pilihan yang aman: Berikan kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihannya sendiri, seperti memilih antara bermain bola atau balok. Cara ini membantu anak merasa dilibatkan sekaligus tetap berada dalam batasan yang aman.
Kenapa Anak Semakin Dilarang Semakin Jadi? Ini Penyebabnya

Anak semakin dilarang bisa jadi karena rasa ingin tahu dan dorongan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
Kemampuan anak memahami larangan dan mengendalikan keinginan masih berkembang, sehingga ia belum selalu bisa mengikuti arahan Mama.
Gunakan arahan positif, penjelasan sederhana, dan pilihan yang aman agar anak belajar mengenali batasan tanpa merasa terus-menerus dilarang.
Pernahkah Mama melarang si Kecil menyentuh sebuah barang, tetapi ia justru semakin tertarik untuk meraihnya? Atau ketika Mama bilang "jangan", anak malah mengulangi hal yang sama sambil terlihat penasaran?
Perilaku seperti ini cukup sering terjadi ketika anak mulai aktif bergerak dan mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya. Ada beberapa faktor perkembangan yang membuat anak belum sepenuhnya memahami larangan maupun mengendalikan dorongan untuk melakukan sesuatu.
Lantas, kenapa anak semakin dilarang semakin jadi? Berikut Popmama.com rangkum penyebab dan cara menghadapinya, dikutip dari The Bump.
Table of Content
1. Rasa ingin tahu dan dorongan untuk bereksplorasi

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Pada masa awal pertumbuhan, anak akan tertarik menyentuh, menggenggam, memasukkan benda ke mulut, menjatuhkan barang, atau mencoba sesuatu yang baru. Saat Mama melarangnya, benda atau aktivitas tersebut justru bisa semakin menarik perhatian si Kecil karena memunculkan rasa penasaran.
Misalnya, ketika Mama melarang anak memainkan remote ac, ia mungkin justru terus berusaha meraihnya. Hal ini karena ia belum memahami alasan di balik larangan tersebut. Bagi anak, kesempatan untuk mencoba dan mengeksplorasi sesuatu merupakan bagian penting dari proses belajarnya.
2. Kemampuan mengendalikan diri belum berkembang sempurna

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Salah satu bagian otak yang berperan dalam mengatur impuls, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil keputusan adalah prefrontal cortex. Bagian otak ini berkembang secara bertahap hingga masa remaja, sehingga anak kecil belum mampu sepenuhnya menahan keinginan atau dorongan sesaat.
Itulah sebabnya, meski sudah mendengar kata "jangan", si Kecil mungkin tetap melakukan hal yang sama beberapa kali. Ia belum bisa memahami dan menerapkan larangan secara konsisten, terutama ketika sesuatu yang ingin dilakukannya terasa menyenangkan.
3. Mulai ingin melakukan sesuatu sendiri

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Seiring bertambahnya kemampuan bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan, ia ingin meraih benda yang menarik perhatian, memilih mainan, atau mencoba aktivitas baru. Saat terlalu sering mendengar larangan, anak bisa menunjukkan reaksi berupa tangisan, penolakan, atau kembali melakukan aktivitas tersebut.
Namun, perilaku ini belum tentu merupakan bentuk perlawanan yang disengaja. Anak masih belajar memahami keinginannya sendiri sekaligus mengenali batasan dari orangtua. Karena itu, Mama perlu memberikan ruang eksplorasi yang aman agar si Kecil tetap bisa terus belajar.
4. Larangan dengan nada keras bisa membuat anak stres

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Ketika anak terus-menerus ditegur dengan suara keras atau ekspresi marah, ia mungkin merasa terkejut atau tidak nyaman. Dalam situasi yang membuatnya tertekan, sistem saraf dapat mengaktifkan respons stres, termasuk mekanisme fight or flight yang berkaitan dengan reaksi menghadapi atau menghindari ancaman.
Akibatnya, anak belum tentu mampu memahami pesan yang ingin disampaikan Mama karena sedang berusaha merespons situasi yang membuatnya tidak nyaman. Pada sebagian anak, kondisi ini dapat terlihat melalui tangisan atau perilaku yang semakin sulit diarahkan.
Kapan Bayi Mulai Memahami Kata "Tidak"?

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Bayi umumnya mulai mengenali makna kata "tidak" atau gelengan kepala saat berusia sekitar 9 bulan. Hal ini diungkap oleh Dipesh Navsaria, MD, profesor bidang pediatri serta perkembangan manusia dan studi keluarga di University of Wisconsin–Madison.
Pada tahap tersebut, bayi mulai memahami bahwa orang lain memiliki perasaan, keinginan, dan maksud yang berbeda dari dirinya. Pemahaman tersebut juga terbentuk melalui ekspresi wajah dan intonasi suara orangtua. Misalnya, ketika Mama bilang "jangan" sambil menunjukkan ekspresi tidak setuju, bayi mulai menghubungkan kata tersebut dengan larangan.
Cara Menghadapi Anak yang Semakin Dilarang Semakin Jadi

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Mama bisa mencoba beberapa pendekatan sederhana dalam mendampingi si Kecil bereksplorasi. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:
Nah, itulah beberapa alasan kenapa anak semakin dilarang semakin jadi. Semoga dapat menjawab rasa penasaran mama, ya.






















