Saat mengganti popok, Mama mungkin pernah menemukan cairan putih atau bening di area kelamin si Kecil.
Keputihan pada Bayi Perempuan, Apakah Berbahaya?

Keputihan putih atau bening pada bayi perempuan, terutama baru lahir, umumnya sementara dan dipicu sisa pengaruh hormon estrogen dari ibu yang perlahan menurun.
Penyebab lain meliputi iritasi akibat sabun, tisu berpewangi, deterjen, atau popok terlalu lama; juga peradangan vulva-vagina serta cacing kremi.
Rawat dengan air hangat tanpa sabun, bersihkan bagian luar dari depan ke belakang. Konsultasikan ke dokter bila cairan berubah warna atau bau, disertai demam, bengkak, kemerahan, atau nyeri.
Sebenarnya, keputihan pada bayi perempuan bisa terjadi karena beberapa kondisi. Ada yang normal dan dapat hilang dengan sendirinya, tetapi ada pula yang perlu diperhatikan karena mungkin menandakan iritasi atau infeksi.
Lantas apakah keputihan pada bayi perempuan berbahaya? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel Popmama.com berikut ini.
Table of Content
Keputihan pada Bayi Perempuan Apakah Berbahaya?

Magnific/jcomp Keputihan merupakan cairan atau lendir yang keluar dari vagina. Pada bayi perempuan, kondisi ini dapat terlihat sebagai cairan berwarna putih atau bening yang menempel pada area genital maupun popok.
Khusus pada bayi baru lahir, keputihan dapat terjadi akibat pengaruh hormon estrogen dari Mama yang masih berada di dalam tubuh bayi.
Dilansir dari Parents, kadar hormon estrogen akibat pengaruh hormon Mama perlahan menurun setelah lahir sehingga bayi perempuan dapat mengalami beberapa perubahan pada organ genital, termasuk keluarnya cairan putih.
Meski begitu, Mama tidak perlu khawatir karena kondisi ini umumnya bersifat sementara.
Penyebab Keputihan pada Bayi Perempuan

Magnific/jcomp Pengaruh hormon Mama tidak menjadi satu-satunya penyebab keputihan pada bayi perempuan. Ada beberapa penyebab lainnya, sebagai berikut:
Iritasi pada area genital: Disebabkan oleh penggunaan sabun, tisu basah berpewangi, deterjen, atau paparan popok yang terlalu lama dapat mengiritasi kulit sensitif di sekitar vagina bayi hingga menyebabkan kemerahan dan keluarnya cairan.
Vulvovaginitis: Peradangan pada vulva dan vagina yang dapat menyebabkan keputihan, kemerahan, gatal, atau nyeri akibat area genital bayi yang masih sensitif.
Cacing kremi: Cacing kremi dapat mengiritasi area anus dan genital sehingga bayi atau anak mungkin tampak sering menggaruk, terutama pada malam hari.
Cara Mengatasi Keputihan pada Bayi Perempuan

Pexels/Emma Bauso Penanganan keputihan pada bayi bergantung pada penyebabnya. Jika cairan yang keluar merupakan kondisi normal akibat pengaruh hormon setelah lahir, Mama biasanya tidak perlu memberikan obat tertentu.
Mama dapat membantu menjaga area genital bayi dengan membersihkan area genital si Kecil.
Melansir dari WebMD, saat membersihkan vagina bayi, Mama cukup fokus pada bagian luarnya saja. Buka labia secara perlahan, lalu bersihkan lipatan-lipatan yang terlihat menggunakan air hangat. Mama tidak perlu menggunakan sabun atau cairan pembersih khusus.
Bagian dalam vagina juga tidak perlu dibersihkan karena tubuh bayi bisa membersihkannya secara alami. Setelahnya, usap area genital dari depan ke belakang untuk mencegah kuman dari feses berpindah ke vagina.
Karena kulit bayi masih sensitif, bersihkan dengan lembut dan hindari menggosok terlalu kuat, ya, Ma.
Itulah penjelasan tentang keputihan pada bayi perempuan apakah berbahaya. Keputihan pada bayi perempuan umumnya tidak berbahaya, tetapi dapat juga disebabkan oleh infeksi maupun iritasi.
Jika keputihan disertai gejala lainnya, seperti berubah warna, berbau, atau membuat bayi tampak kesakitan dan tidak nyaman, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.





















