“Pertama adalah kelainan bawaan jantung kritis, yaitu kita melakukan pemeriksaan dengan menggunakan pulse oximetry atau pemeriksaan dengan monitor tetap jantung dan juga saturasi oksigen. Kalau ada kelainan yaitu lebih dari 4% perbedaan atau di bawah 90% saturasi oksigennya, maka akan dulu kita pemeriksa lebih lanjut,” kata dr. Radhian Amandito, Sp. A, Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah - Pondok Indah melansir dari akun Instagram @rspondokindah.
6 Jenis Skrining Bayi Baru Lahir yang Perlu Diketahui Orangtua

- Skrining bayi baru lahir penting untuk mendeteksi dini kelainan bawaan atau gangguan kesehatan agar penanganan bisa dilakukan cepat dan mencegah komplikasi jangka panjang.
- Ada enam jenis skrining utama: pulse oximetry, pendengaran, penglihatan red eye reflex, defisiensi G6PD, pemeriksaan 17 OHP untuk hiperplasia adrenal kongenital, dan hipotiroid kongenital.
- Setiap pemeriksaan memiliki tujuan spesifik, mulai dari memantau fungsi jantung dan hormon hingga memastikan perkembangan indera bayi berjalan normal sejak awal kehidupan.
Setelah bayi lahir, pemeriksaan fisik saja ternyata belum cukup untuk memastikan kondisi kesehatannya secara menyeluruh.
Ada beberapa skrining penting yang perlu dilakukan sejak dini untuk mendeteksi kemungkinan kelainan bawaan maupun gangguan kesehatan tertentu pada bayi baru lahir.
Melalui prosedur skrining, dokter dapat mengetahui kondisi yang mungkin belum terlihat gejalanya. Jika terdeteksi lebih awal, penanganan pun bisa dilakukan lebih cepat sehingga risiko komplikasi jangka panjang dapat diminimalkan.
Melansir dari akun Instagram @rspondokindah, berikut Popmama.com rangkum jenis skrining bayi baru lahir yang perlu diketahui orangtua.
Table of Content
1. Pulse Oximetry
Salah satu skrining penting pada bayi baru lahir adalah pemeriksaan kelainan bawaan jantung kritis. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan pulse oximetry atau alat pemantau saturasi oksigen dan denyut jantung bayi.
Tujuannya untuk melihat apakah kadar oksigen dalam tubuh bayi berada dalam kondisi normal atau tidak.
2. Pemeriksaan pendengaran bayi sejak dini

Skrining pendengaran juga menjadi salah satu pemeriksaan wajib pada bayi baru lahir. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah fungsi pendengaran bayi berkembang dengan baik sejak awal kehidupannya.
Dalam prosesnya, dokter akan memeriksa sel rambut di dalam telinga serta fungsi pendengaran bayi menggunakan alat khusus. Jika respons yang ditangkap mesin kurang optimal, bayi perlu menjalani pemeriksaan lanjutan.
Deteksi dini gangguan pendengaran sangat penting karena berkaitan erat dengan perkembangan bicara dan kemampuan komunikasi anak di masa depan.
“Yang kedua adalah pemeriksaan pendengaran. Jadi untuk pendengaran kita pemeriksa sel rambut di dalam telinga dan juga fungsi co-player. Bila ada kekurangan dari respon mesin untuk pemeriksaan tersebut, maka perlu diperiksa lebih lanjut,” ujar dr. Radhian.
3. Skrining penglihatan melalui red eye reflex

Selain pendengaran, penglihatan bayi juga perlu diperiksa sejak lahir. Salah satu metode yang digunakan ialah red eye reflex atau pemeriksaan refleks mata merah.
Pemeriksaan ini bertujuan melihat ada atau tidaknya gangguan pada bagian dalam mata bayi. Melalui skrining ini, dokter dapat mendeteksi kemungkinan kelainan mata bawaan, seperti katarak kongenital atau gangguan lain yang menyebabkan penglihatan bayi terganggu.
Jika ditemukan adanya pengaburan atau kelainan pada mata, bayi akan dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut agar penanganannya bisa segera dilakukan.
“Yang ketiga adalah pemeriksaan penglihatan atau spesifiknya adalah red eye reflex, yaitu kita melihat apakah terdapat gangguan pengaburan di dalam pada mata untuk menggambarkan adanya kelainan mata bawaan,” ungkap dr. Radhian.
4. Pemeriksaan defisiensi G6PD atau DSSPD

Bayi baru lahir juga perlu menjalani skrining defisiensi G6PD atau Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase Defisiensi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada gangguan pada membran sel darah merah bayi atau tidak.
“Kemudian juga kita lakukan pemeriksaan kelainan DSSPD atau Glukosa 6-Fosfat Dehidrogenase Defisiensi. Jadi kita melihat apakah terdapat gangguan pada membran sel darah merah pada tubuh yang kemudian dapat pecah dan menyebabkan perdarahan yang kritis yaitu sebagai respon terhadap beberapa trigger, yaitu infeksi, makanan, maupun obat-obatan,” jelas dr. Radhian.
5. Pemeriksaan 17 OHP untuk hiperplasia adrenal kongenital

Skrining berikutnya adalah pemeriksaan 17 OHP yang bertujuan mendeteksi hiperplasia adrenal kongenital. Kelainan bawaan ini berkaitan dengan gangguan pada kelenjar adrenal yang memengaruhi produksi hormon dalam tubuh bayi.
Jika tidak diketahui sejak dini, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi berat hingga gangguan hormonal di kemudian hari, termasuk masalah pubertas. Melalui pemeriksaan 17 OHP, dokter dapat segera memberikan penanganan yang sesuai sehingga pertumbuhan dan perkembangan bayi tetap optimal.
“Kemudian juga ada pemeriksaan 17 OHP atau untuk memeriksa hiperplasia adrenal kongenital atau kelainan bawaan kritis yang bisa terdapat dehidrasi dan juga gangguan hormonal pubertas di kemudian hari pada bayi-bayi baru lahir,” kata dr. Radhian.
6. Skrining hipotiroid kongenital

Pemeriksaan terakhir yang penting dilakukan pada bayi baru lahir adalah skrining hipotiroid kongenital. Kondisi ini terjadi akibat gangguan hormon tiroid yang berperan penting dalam metabolisme serta perkembangan otak bayi.
Hipotiroid kongenital sering kali tidak menunjukkan gejala jelas saat bayi baru lahir. Namun jika terlambat ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan belajar dan perkembangan fisiknya.
“Kemudian yang terakhir adalah untuk melakukan pemeriksaan hipotiroid kongenital, kelainan hormonal metabolisme yaitu dari hormon tiroid, yang bisa terjadi sejak lahir,” pungkas dr. Radhian.
Itu tadi berbagai jenis skrining bayi baru lahir yang penting diketahui orangtua. Semoga bisa menjadi panduan bagi Mama dan Papa.


















