Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kebutuhan Zat Besi untuk Anak, Ini Panduan Terbarunya

Kebutuhan Zat Besi untuk Anak, Ini Panduan Terbarunya
Pexels/Sarah Chai
  • AAP memperbarui panduan 2026 untuk mencegah defisiensi zat besi sejak dini, karena kondisi ini dapat mengganggu perkembangan neurokognitif sebelum anemia muncul.
  • Tanda yang perlu diperhatikan meliputi pica, kulit pucat, mudah rewel atau lelah, kelemahan otot, lebih sering tidur siang, serta sulit berkonsentrasi.
  • Pencegahan mencakup penundaan penjepitan tali pusat, suplementasi sesuai usia, menghindari susu sapi sebelum 12 bulan, membatasi susu setelahnya, dan MPASI kaya zat besi sejak 6 bulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil menjadi bagian penting dalam mendukung proses tumbuh kembangnya sejak usia dini. Salah satu nutrisi yang perlu diperhatikan adalah zat besi karena berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh dan tumbuh kembang anak.

Namun, kekurangan zat besi masih cukup sering terjadi pada anak dan dapat berdampak pada kesehatan jika tidak ditangani dengan tepat. Melalui panduan terbaru pada 2026, American Academy of Pediatrics (AAP) menekankan pentingnya mengenali dan mencegah defisiensi zat besi sejak dini sebelum berkembang menjadi anemia.

Berikut Popmama.com telah rangkum panduan terbaru kebutuhan zat besi untuk anak.

  1. 1. Panduan terbaru defisiensi besi untuk anak (tahun 2026)

    Defisiensi zat besi masih menjadi salah satu masalah gizi yang cukup sering dialami anak. Kondisi ini perlu diperhatikan karena kekurangan zat besi dapat memengaruhi perkembangan neurokognitif anak, bahkan sebelum berkembang menjadi anemia.

    Pasalnya, anemia justru merupakan tahap akhir dari defisiensi zat besi. Dengan demikian, kadar hemoglobin yang masih normal belum tentu menunjukkan bahwa cadangan zat besi dalam tubuh si Kecil sudah mencukupi.

    Melihat pentingnya deteksi dan pencegahan sejak dini, American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan panduan terbaru pada 2026 sebagai pembaruan dari rekomendasi yang dirilis pada 2010.

    Perbedaan Panduan Defisiensi Zat Besi Tahun 2010 dan 2026

    Aspek

    AAP 2010

    AAP 2026

    Fokus utama

    Anemia defisiensi besi

    Defisiensi besi dideteksi sebelum hemoglobin turun

    Cakupan usia

    Bayi dan anak usia 0–3 tahun

    Bayi hingga dewasa muda, usia 0–21 tahun

    Pencegahan pada bayi

    Diberikan sejak 4 bulan

    Diberikan sejak 4 bulan. Bisa dipertimbangkan untuk menunggu sampai usia 6 bulan saat anak mulai MPASI

    Pencegahan pada bayi prematur

    Diberikan mulai usia 1 bulan

    Dimulai lebih dini, sejak 2 minggu setelah asupan oral/enteral tercukupi

    Pencegahan pada usia balita 

    Fokus pada anak usia 1-3 tahun (7mg/hari)

    Diperluas sampai usia 5 tahun. Susu sapi/nabati dibatasi 710ml/hari setelah usia 1 tahun

    Skrining bayi dan balita

    Cek hemoglobin pada usia 12 bulan

    Cek darah lengkap dan feritin serum: usia 9–12 bulan (ASI eksklusif) atau 15–18 bulan (formula berfortifikasi besi)

    Skrining remaja

    Belum ada rekomendasi

    Skrining universal pada remaja yang sudah menstruasi

  2. 2. Tanda-tanda defisiensi zat besi yang perlu diwaspadai

    Panduan terbaru kebutuhan zat besi untuk anak
    Magnific/freepik

    Beberapa tanda berikut dapat menjadi petunjuk adanya defisiensi zat besi pada anak. Kondisi ini dapat terlihat dari perubahan fisik maupun perilaku yang perlu Mama perhatikan, seperti:

    1. Suka mengunyah atau mengonsumsi benda yang bukan makanan, seperti es batu, tanah, atau kertas (pica). 

    2. Kulit tampak lebih pucat. 

    3. Warna pipi, bibir, dasar kuku, dan bagian dalam kelopak mata terlihat memudar. 

    4. Anak lebih mudah rewel, murung, atau mengalami perubahan suasana hati. 

    5. Mengalami kelemahan otot ringan. 

    6. Mudah lelah atau lebih sering membutuhkan tidur siang. 

    7. Mengalami kesulitan berkonsentrasi, termasuk saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

  3. 3. Pencegahan defisiensi zat besi berdasarkan usia

    Panduan terbaru kebutuhan zat besi untuk anak
    Popmama.com/Nindiani Rizka Dwiningtyas/AI

    Dalam panduan terbaru 2026, American Academy of Pediatrics (AAP) memberikan rekomendasi pencegahan defisiensi zat besi yang disesuaikan dengan tahapan usia dan kebutuhan si Kecil. 

    Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

    • Menunda penjepitan tali pusat

    Penjepitan tali pusat sebaiknya ditunda selama 30–60 detik setelah bayi lahir. Langkah ini memungkinkan lebih banyak darah dari plasenta yang kaya zat besi mengalir ke tubuh bayi.

    • Memberikan suplementasi zat besi

    Bayi cukup bulan dengan ASI eksklusif: Suplementasi zat besi sebanyak 1 mg/kg berat badan per hari dapat diberikan mulai usia 4 bulan. Pemberiannya dapat ditunda hingga usia 6 bulan apabila si Kecil sudah mulai diperkenalkan dengan MPASI yang mengandung zat besi.

    Bayi prematur: Bayi yang lahir prematur dianjurkan mendapat suplementasi zat besi sebanyak 2–3 mg/kg berat badan per hari mulai usia sekitar 2 minggu, setelah kebutuhan asupan oral atau enteralnya sudah tercukupi.

    • Menghindari susu sapi sebelum usia 12 bulan

    Pemberian susu sapi segar sebelum usia 1 tahun dapat meningkatkan risiko perdarahan mikroskopis pada saluran cerna dan mengganggu penyerapan zat besi.

    Setelah si Kecil berusia 1 tahun, konsumsi susu sapi maupun susu nabati perlu dibatasi sekitar 700–710 mL per hari. Konsumsi susu yang berlebihan dapat membuat si Kecil cepat kenyang sehingga asupan makanan kaya zat besi menjadi berkurang.

    • Memberikan MPASI kaya zat besi mulai usia 6 bulan

    Saat mulai MPASI, pilih makanan yang kaya zat besi untuk membantu memenuhi kebutuhan si Kecil yang semakin meningkat seiring pertumbuhan.

  4. 4. Sumber makanan kaya zat besi untuk bayi

    Panduan terbaru kebutuhan zat besi untuk anak
    Pexels.com/Szabina Nyíri

    Saat memasuki masa MPASI pada usia 6 bulan, si Kecil membutuhkan makanan yang kaya zat besi untuk membantu mencegah anemia sekaligus mendukung tumbuh kembangnya. Mama dapat memberikan beragam bahan makanan sebagai sumber zat besi, seperti:

    • Hati ayam: Menjadi salah satu sumber zat besi yang tinggi, yaitu sekitar 15,8 mg per 100 gram.

    • Kerang dan lokan: Kerang segar mengandung sekitar 15,6 mg, sedangkan lokan menyediakan sekitar 10 mg zat besi per 100 gram.

    • Udang segar: Dalam setiap 100 gram udang segar, terdapat sekitar 8 mg zat besi.

    • Ikan kembung dan hati sapi: Keduanya juga dapat menjadi pilihan makanan kaya zat besi, dengan kandungan masing-masing sekitar 7,3 mg dan 6,6 mg per 100 gram.

    • Telur: Telur bebek mengandung sekitar 5,4 mg zat besi, sementara telur ayam kampung memiliki sekitar 4,9 mg per 100 gram.

    Mama juga bisa memberikan teri basah, ikan baronang, telur ayam negeri, belut laut, ikan cakalang, daging sapi, cumi-cumi, dan daging ayam.

    Untuk membantu penyerapan zat besi, padukan makanan kaya zat besi dengan sumber vitamin C, seperti tomat, jeruk, atau paprika. 

    Nah, itu dia rangkuman panduan terbaru kebutuhan zat besi anak. Semoga informasinya dapat membantu, ya, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More