Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Bolehkah Bayi Makan Roti Tawar? Ini Penjelasannya

Bolehkah Bayi Makan Roti Tawar? Ini Penjelasannya
Vecteezy/pana design
  • Bayi boleh dikenalkan roti tawar sejak MPASI sekitar usia 6 bulan sebagai sumber karbohidrat, termasuk alternatif camilan dan makanan pokok.

  • Roti tidak boleh menjadi satu-satunya makanan, pilih yang rendah gula dan garam, serta periksa kandungan madu, alergen seperti gandum, telur, susu, kacang, dan biji-bijian.

  • Penyajian harus disesuaikan kemampuan makan bayi, lumatkan atau rendam untuk pemula, hindari roti utuh yang mudah menggumpal, dan potong kecil atau panggang bila diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memasuki usia 6 bulan, si Kecil mulai mengenal makanan pendamping ASI atau MPASI. Ini menjadi tahap baru yang cukup penting karena bayi mulai mendapatkan nutrisi dari makanan selain ASI atau susu formula.

Pada masa ini, Mama mungkin mulai mencari berbagai pilihan makanan yang bisa diberikan kepada si Kecil. Kapasitas perut bayi yang masih kecil membuat jumlah makanan yang dapat dikonsumsi juga terbatas. Namun, di sisi lain, kebutuhan nutrisinya cukup banyak.

Oleh karena itu, makanan yang diberikan sebaiknya padat gizi dan berasal dari berbagai kelompok makanan. Salah satunya adalah karbohidrat yang dapat menjadi sumber energi. Selain nasi, roti tawar bisa menjadi salah satu pilihan yang dikenalkan saat MPASI.

Meski begitu, masih banyak Mama yang mungkin ragu memberikan roti tawar kepada bayi. Lalu, bolehkah bayi makan roti tawar? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya untuk Mama.

  1. Bolehkah Bayi Makan Roti Tawar?

    Bolehkah bayi makan roti tawar?
    Magnific

    Bayi boleh makan roti tawar sejak mulai MPASI pada usia sekitar 6 bulan. Roti tawar dapat menjadi salah satu sumber karbohidrat yang bergizi dan juga bisa diberikan sebagai alternatif camilan. Roti bahkan termasuk salah satu contoh makanan pokok yang dapat diberikan sejak awal MPASI berdasarkan buku panduan World Health Organization (WHO).

    Pada umumnya, roti tawar dibuat menggunakan tepung gandum. Namun, Mama juga bisa menemukan roti yang menggunakan bahan berbeda dan diberi label gluten free. Dalam proses pembuatannya, roti juga dapat mengandung bahan lain seperti telur, minyak, mentega, margarin, ragi, air, atau susu.

    Beberapa bahan tersebut perlu diperhatikan karena dapat menjadi pemicu alergi. Gandum, telur, dan susu termasuk bahan yang berpotensi menyebabkan alergi pada bayi. Jika si Kecil belum menunjukkan bukti memiliki alergi terhadap bahan-bahan tersebut, Mama tidak perlu menunda pemberiannya.

    Para ahli justru menyarankan makanan yang berpotensi menyebabkan alergi diperkenalkan sedini mungkin ketika bayi mulai MPASI, baik saat berusia 4 bulan maupun 6 bulan.

    Begitu pula dengan gluten yang terdapat dalam gandum. Jika bayi tidak memiliki alergi atau intoleransi terhadap gluten, Mama tidak perlu menghindarinya. Penelitian menunjukkan bahwa sistem pencernaan manusia mampu mencerna gluten, bahkan sejak lahir.

    Para ahli juga menyarankan pengenalan gluten sejak dini, yaitu mulai usia 4 bulan hingga 7 bulan, untuk menghindari intoleransi dan penyakit Celiac.

  2. Aturan Memberikan Roti Tawar untuk Bayi

    Bolehkah bayi makan roti tawar?
    Magnific

    Boleh diberikan bukan berarti roti tawar bisa menjadi satu-satunya makanan untuk si Kecil. Ada beberapa hal yang perlu Mama perhatikan agar pemberiannya tetap sesuai dengan kebutuhan bayi, yaitu:

    1. Jangan jadikan roti sebagai satu-satunya makanan

    Roti memang mengandung kalori yang dapat menjadi sumber energi. Namun, kandungan protein dan mineralnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi jika hanya mengandalkan roti.

    Oleh karena itu, Mama perlu memberikan roti bersama berbagai kelompok makanan lainnya, seperti:

    1. ASI atau susu formula
    2. Sumber karbohidrat, salah satunya roti
    3. Kacang-kacangan dan biji-bijian
    4. Susu sapi dan produk turunannya
    5. Protein hewani, seperti daging, ikan, unggas, dan hati
    6. Telur
    7. Buah dan sayur kaya vitamin A
    8. Buah dan sayuran dengan vitamin lainnya

    Pemberian makanan yang semakin bervariasi membantu memenuhi nutrisi yang dibutuhkan bayi setiap hari.

    2. Perhatikan bahan yang terkandung dalam roti

    Mama perlu memastikan roti yang diberikan tidak mengandung bahan yang belum aman untuk bayi. Salah satunya adalah madu.

    Bayi berusia kurang dari 1 tahun belum boleh mengonsumsi madu karena adanya bahaya racun botulisme. Selain itu, perhatikan pula kacang-kacangan dan biji-bijian yang terdapat dalam roti.

    Jika bahan tersebut diberikan dalam bentuk utuh dan teksturnya tidak disesuaikan, dapat menimbulkan bahaya tersedak.

    3. Pilih roti yang rendah gula dan garam

    Asupan gula dan garam pada bayi perlu dibatasi. Oleh karena itu, pilihlah roti tawar yang rendah gula dan garam.

    Mama juga dapat memilih roti yang dibuat menggunakan bahan-bahan alami dan tidak mengandung zat aditif seperti pengawet serta pengembang kimia.

    Apabila bahan dalam daftar komposisi sulit dikenali, kemungkinan roti tersebut mengandung zat aditif yang tidak dibutuhkan bayi. Konsumsinya dapat menambah beban metabolisme bayi.

  3. Cara Menyajikan Roti Tawar yang Aman untuk Bayi

    Bolehkah bayi makan roti tawar?
    Magnific

    Selain memperhatikan jenis roti yang diberikan, Mama juga perlu menyesuaikan cara penyajiannya dengan kemampuan makan si Kecil.

    Hal ini penting karena tekstur makanan bayi perlu ditingkatkan secara bertahap sesuai perkembangan kemampuan makannya.

    Berikut cara aman penyajiannya:

    1. Sesuaikan tekstur dengan usia bayi. Pada usia 6-12 bulan, tekstur MPASI dinaikkan secara bertahap, mulai dari puree atau bubur saring, makanan lumat, cincang halus, hingga cincang kasar. Ketika berusia 1 tahun, bayi dapat mulai mendapatkan tekstur makanan keluarga. Untuk roti tawar, Mama dapat merendamnya menggunakan cairan seperti susu, kemudian menyesuaikan teksturnya menjadi bubur saring, makanan lumat, atau tekstur lainnya sesuai kemampuan bayi.
    2. Hindari memberikan roti tawar utuh pada bayi. Roti tawar dalam kondisi utuh dapat menggumpal di dalam mulut bayi sehingga berisiko menyebabkan tersedak. Oleh karena itu, bentuk dan teksturnya perlu disesuaikan sebelum diberikan. Jika Mama ingin memberikan roti dalam bentuk utuh, roti sebaiknya dipanggang terlebih dahulu agar tidak mudah menggumpal di dalam mulut. Bagian pinggir roti yang mengeras setelah dipanggang sebaiknya dibuang.
    3. Potong roti menjadi ukuran yang sesuai. Roti dapat dipotong menjadi bagian yang sangat kecil dan sesuai dengan ukuran gigitan bayi. Jika diberikan sebagai finger food, Mama dapat membuatnya menjadi stik panjang yang mudah digenggam.
    4. Lumatkan untuk bayi yang baru belajar makan. Bagi bayi yang baru memulai MPASI atau belum mahir mengunyah, roti dapat dilumatkan menggunakan sedikit air, ASI, atau susu formula hingga menjadi bubur kental.
    5. Berikan sebagai finger food ketika bayi sudah siap. Jika si Kecil sudah menunjukkan kemampuan memegang dan mengunyah dengan baik, roti dapat diberikan sebagai finger food. Penyajian ini juga dapat melatih keterampilan motorik halus dan koordinasi tangan-mata bayi.
    6. Sajikan sebagai camilan atau pendamping ASI. Roti dapat diberikan sebagai camilan di antara waktu makan utama. Selain itu, roti juga dapat menjadi pendamping ASI untuk menambah asupan energi bayi.

    Nah, itu dia penjelasan mengenai bolehkah bayi makan roti tawar. Semoga informasi ini membantu, ya, Ma!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More