Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

7 Mitos Seputar MPASI yang Penting Diketahui Faktanya

7 Mitos Seputar MPASI yang Penting Diketahui Faktanya
Freepik/freepik
  • MPASI dapat dimulai pada usia 6 bulan dengan pengenalan rasa, bau, dan tekstur sesuai kemampuan bayi; makanan bertekstur tak perlu menunggu gigi tumbuh.
  • Protein hewani serta bahan berpotensi alergi seperti telur, susu, kacang, gandum, dan ikan bisa dikenalkan sejak MPASI sambil memantau reaksi alergi.
  • Sayur dan buah dapat dikenalkan bersamaan; hati ayam merupakan sumber zat besi, garam-gula dibatasi, dan bayi tidak boleh dipaksa menghabiskan MPASI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

MPASI atau makanan pendamping ASI dapat diberikan saat si Kecil sudah memasuki usia 6 bulan. Penting untuk mengenalkan rasa, tekstur, hingga bau pada makanan agar terbiasa dan dapat mengonsumsi makanan yang bergizi baik untuknya.

Tentu MPASI yang diberikan pada si Kecil harus menyehatkan tubuh si Kecil. Makanan bernutrisi juga baik untuk tumbuh kembangnya. 

Terlepas dari hal tersebut, beberapa orangtua masih percaya dengan mitos-mitos yang beredar seputar MPASI. Hal ini membuat konsumsi MPASI nya terbatas karena terlalu banyak mitos yang belum terbukti kebenarannya.

Jangan mudah percaya hal yang belum terbukti secara medis, berikut ini Popmama.com telah merangkum mitos seputar MPASI yang penting diketahui faktanya. Simak, yuk, Ma!

  1. 1. Dilarang memberi makanan bertekstur sebelum bayi tumbuh gigi

    Dilarang memberi makanan bertekstur sebelum bayi tumbuh gigi
    Freepik/freepik

    Gigi bayi yang belum tumbuh membuat banyak orangtua percaya mitos dilarang memberi makanan bertekstur sebelum gigi bayi tumbuh. Mitos ini salah sebab Mama dapat berikan makanan bertekstur namun sesuaikan dengan kemampuannya, Ma.

    Memberikan makanan bertekstur dan padat pada bayi sebenarnya dapat melatih kemampuannya dalam menguyah dan menelan, lho, Ma. Namun jangan paksakan jika si Kecil belum bisa mencernanya.

  2. 2. Makanan yang berpotensi sebabkan alergi perlu dihindari

    Makanan yang berpotensi sebabkan alergi perlu dihindari
    Freepik/freepik

    Makanan yang berpotensi sebabkan alergi seperti telur, susu, kacang, gandum, hingga ikan kerap dihindari karena takut menimbulkan alergi. Banyak orangtua yang berpikir agar si Kecil tidak terkena alergi makanan, konsumsi makanannya harus dihindari. 

    Konsep ini salah sebab agar daya tahan tubuhnya kuat, Mama perlu mengenalkannya terlebih dahulu kemudian lihat reaksi yang muncul setelah mengonsumsi apakah aman atau muncul gejala alergi. Mama dapat hentikan jika timbul gejala, jika tidak muncul gejala makanan aman untuk dikonsumsi.

  3. 3. Daging, ikan, dan telur dapat dikonsumsi saat bayi berusia 8-12 bulan

    Daging, ikan, dan telur dapat dikonsumsi saat bayi berusia 8-12 bulan
    freepik/freepik

    Mitos berikutnya yang kerap beredar di masyarakat adalah tentang konsumsi protein hewani. Banyak yang percaya bahwa pemberian daging, ikan, dan telur harus ditunda sampai bayi berusia 8-12 bulan. 

    Faktanya, pemberian protein hewani sudah bisa sejak Mama mengenalkan MPASI pada si Kecil. Sebaiknya pilih daging dalam keadaan segar agar kondisinya baik. Jika memilih ikan, pastikan yang kandungan merkurinya rendah, Ma.

  4. 4. Kenalkan sayur terlebih dahulu sebelum buah

    Kenalkan sayur terlebih dahulu sebelum buah
    Freepik/freepik

    Banyak anggapan mengenalkan buah terlebih dahulu dapat membuat bayi mengonsumsi sayur. Ini merupakan mitos sebab keduanya dapat dikenalkan di waktu yang bersamaan.

    Sebaiknya makanan yang dikonsumsi si Kecil seimbang, artinya pemberian sayur dan buah serta makanan lain pada bayi juga harus seimbang, ya, Ma.

  5. 5. Hati ayam dapat menjadi sumber racun

    Hati ayam dapat menjadi sumber racun
    Unsplash/hui sang

    Mitos selanjutnya adalah memberikan hati hewan khususnya ayam dapat meracuni tubuh bayi. Anggapan ini tidak benar sebab hati merupakan salah satu sumber zat besi yang penting dalam pembentukan hemoglobin.

    Hati juga dapat membantu perkembangan saraf dan otak si Kecil. Untuk itu mitos bahwa hati dapat meracuni tubuh bayi itu salah.

  6. 6. Hindari penggunaan garam dan gula pada MPASI

    Hindari penggunaan garam dan gula pada MPASI
    Freepik/freepik

    Beberapa orangtua mungkin bingung apakah aman untuk memberikan perasa tambahan pada MPASI, sehingga penggunaan garam dan gula kerap dilupakan. Sebenarnya boleh-boleh saja asalkan pemberiannya sedikit, Ma. 

    Jangan terlalu banyak dan sesuaikan dengan kebutuhan gula dan garam harian pada bayi. Sebaiknya garam yang diberikan tidak lebih dari 2 gram per hari dan gula nya tidak lebih dari 25 gram per hari.

  7. 7. MPASI yang disajikan harus habis

    MPASI yang disajikan harus habis
    Freepik/prostooleh

    Banyak orangtua yang ingin anak menghabiskan seluruh sajian MPASI yang diberikan. Memang makanan yang dikonsumsi sampai habis menandakan nafsu makan si Kecil lahap, namun jika tidak sampai habis jangan dipaksakan, Ma.

    Bukan karena tidak suka, bisa jadi si Kecil sudah merasa kenyang. Jika terus dipaksakan perutnya dapat kekenyangan dan bayi akan rewel karena merasa tidak nyaman. 

    Demikian mitos seputar MPASI yang penting diketahui faktanya. Banyak mitos dan hal-hal yang kebenarannya tidak pasti dan perlu diluruskan agar pemberian MPASi dapat maksimal.

    Semoga bermanfaat, Ma!

Share Article

Related Articles

See More