Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI)
Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI)
Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI)
Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI)
Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Apa Itu Hari Tritura? Inilah 3 Nilai Keberanian pada Anak dari Sejarah Demo Tritura 1966

- Tritura adalah singkatan dari "Tri Tuntutan Rakyat", terjadi pada 10 Januari 1966
- KAMI, KAPI, KAPPI, KABI, KASI, KAWI, KAGI, mahasiswa, dan masyarakat terlibat dalam Tritura
- Sejarah Tritura ajarkan anak berani berpendapat, berpikir kritis, dan pentingnya kerja sama
Setiap tanggal 10 Januari, Indonesia memperingati Hari Tritura. Apakah kamu pernah mendengar istilah Hari Tritura di pelajaran sejarah Indonesia?
Berikut Popmama.com telah merangkum apa itu Hari Tritura yang bersejarah untuk Mama jelaskan pada anak.
Table of Content
1. Apa itu Tritura dan mengapa harus dikenang?

Tritura adalah singkatan dari "Tri Tuntutan Rakyat", yang artinya tiga permintaan penting dari rakyat Indonesia kepada pemerintah.
Tritura merupakan puncak dari demonstrasi yang sudah berlangsung sejak 1963-1964. Masyarakat tidak tinggal diam melihat keadaan Indonesia yang sedang sulit.
Peristiwa demonstrasi besar-besaran ini mencapai puncaknya pada 10 Januari 1966, ribuan masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Gelombang aksi protes terus berlanjut hingga Maret 1966, yang akhirnya berhasil menekan pemerintah untuk memenuhi tuntutan rakyat.
Tritura menjadi tonggak penting dalam sejarah Indonesia, bahkan disebut sebagai awal transisi menuju Orde Baru yang terbentuk pada 1966-1967.
2. Latar belakang Tritura

Pada 1963-1964, masyarakat menentang kebijakan pemerintah Soekarno yang dianggap terlalu dekat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) dan mulai menerapkan ideologi NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis).
Hal itu memberikan ruang besar bagi komunis di pemerintahan. Pada periode ini, masyarakat juga menentang konfrontasi Indonesia dengan Malaysia yang dianggap membuang-buang anggaran negara, sementara rakyat hidup susah.
Demonstrasi-demonstrasi kecil ini terus berlanjut dan situasi semakin memburuk ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi.
Harga beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya naik berkali-kali lipat dalam waktu singkat. Keluarga-keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan rakyat semakin menderita.
Kondisi politik juga semakin tidak stabil setelah peristiwa G30S/PKI pada 30 September 1965. PKI dianggap terlibat dalam tragedi tersebut, tapi pemerintah terlihat lambat mengambil tindakan tegas sepanjang Oktober-Desember 1965.
Kegelisahan mencapai puncaknya ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak pada awal Januari 1966.
Inilah yang memicu ledakan demonstrasi besar-besaran dengan tuntutan Tritura yang melibatkan puluhan ribu orang.
3. Tokoh-tokoh kunci dalam Tritura

Tritura bukan demonstrasi segelintir orang. Ini adalah demonstrasi besar yang melibatkan berbagai elemen masyarakat yang menginginkan perubahan.
Yang paling vokal dalam demonstrasi ini adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Mereka menjadi motor penggerak utama Tritura. Tidak hanya mahasiswa, para pelajar SMA juga ikut bergerak melalui Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).
Demonstrasi ini didukung oleh berbagai profesi, seperti:
4. Tiga tuntutan rakyat yang mengubah sejarah

Bubarkan PKI, setelah peristiwa G30S/PKI yang menewaskan para jenderal, rakyat menuntut agar PKI dan semua organisasi di bawahnya dibubarkan.
Bersihkan kabinet, kala itu kabinet dinilai tidak mampu mengendalikan stabilitas politik, ekonomi, dan sosial. Lebih parah lagi, banyak anggota kabinet yang merupakan simpatisan PKI. Rakyat menginginkan kabinet yang bersih dan fokus menyelesaikan masalah dalam negeri.
Turunkan harga pangan, kondisi ekonomi yang buruk membuat harga melambung tinggi. Rakyat meminta pemerintah memperbaiki kebijakan ekonomi agar kehidupan tidak lagi menderita.
Ketiga tuntutan ini sederhana tapi sangat mendasar. Rakyat hanya ingin hidup aman, pemerintahan yang bersih, dan ekonomi yang stabil.
5. Dampak Tritura terhadap politik Indonesia

Tekanan masyarakat yang terus berlanjut sejak 10 Januari 1966 akhirnya membuat Presiden Soekarno merespons. Pada 21 Februari 1966, ia merombak kabinet sebagai upaya meredakan ketegangan. Namun sayangnya, perombakan itu masih memasukkan orang-orang yang pro-PKI ke dalam pemerintahan.
Keputusan ini justru membuat masyarakat semakin kecewa. Mereka merasa tuntutan Tritura tidak benar-benar didengarkan. Hanya tiga hari kemudian, pada 24 Februari 1966, masyarakat kembali turun ke jalan dengan aksi yang lebih besar.
Dalam demonstrasi, seorang mahasiswa bernama Arif Rahman Hakim gugur tertembak. Kejadian tragis ini membuat suasana semakin memanas dan tekanan terhadap pemerintah semakin kuat.
Melihat situasi yang terus memburuk dan tidak bisa dikendalikan, Presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau yang dikenal dengan Supersemar.
Surat ini memberikan wewenang kepada Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan demi memulihkan keamanan dan ketertiban negara.
Supersemar inilah yang menjadi pintu masuk bagi Soeharto untuk naik ke tampuk kekuasaan. Pelan-pelan, terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto, dan dimulailah era yang disebut Orde Baru.
5. Monumen Tritura di Taman Menteng

Monumen Tritura dibangun untuk mengenang dan menginspirasi setiap generasi bahwa pada tahun 1966, pernah ada demonstrasi besar demi menjaga kestabilan negara.
Anies Baswedan, yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta mengatakan bahwa monumen ini mempunyai fungsi penting sebagai pengingat perjalanan sejarah republik.
Kini, monumen Tritura berada di Taman Menteng, Jalan HOS Cokroaminoto, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Dulunya, monumen ini ada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, tapi dipindahkan pada tahun 2019 karena lokasinya tertutup oleh halte Transjakarta dan rel LRT, sehingga kehadirannya sebagai monumen berkurang efektivitasnya.
Selain sebagai penanda sejarah, monumen ini juga memiliki nilai estetika yang menambah keindahan Taman Menteng. Mama bisa mengunjungi taman ini, melihat langsung monumennya sambil jalan-jalan santai. Ini bisa jadi wisata edukasi yang menyenangkan untuk keluarga.
7. Nilai Tritura yang bisa Mama ajarkan ke anak

Ada tiga nilai penting yang bisa Mama ajarkan ke anak:
- Berani menyuarakan pendapat. Dari Tritura, Mama bisa mengajarkan bahwa menyuarakan pendapat itu penting, tapi harus dilakukan dengan cara yang benar. Mama bisa melatih anak untuk mengutarakan pendapatnya jika ada yang tidak setuju atau tidak nyaman dengan sesuatu.
- Belajar kritis tapi santun. Tritura mengajarkan untuk tidak menerima segala sesuatu begitu saja tanpa berpikir. Di sekolah atau di rumah, Mama bisa melatih anak untuk bertanya "mengapa" dan "bagaimana" terhadap hal-hal yang mereka pelajari, tidak langsung percaya informasi tanpa mengecek kebenarannya.
- Kerja sama untuk perubahan. Mahasiswa, pelajar, buruh, guru, dan berbagai elemen masyarakat bersatu untuk tujuan yang sama dalam Tritura. Dari sini, Mama bisa mengajarkan anak pentingnya kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Tritura adalah bagian penting dari Indonesia yang tidak boleh dilupakan. Sejarah Tritura bisa jadi pelajaran berharga untuk si Kecil, bukan?


















