Saat Anak Dipukul Temannya, 5 Hal Ini Perlu Orangtua Lakukan

Jangan sampai salah memberikan arahan kepada anak mengenai hal ini ya!

9 Agustus 2018

Saat Anak Dipukul Temannya, 5 Hal Ini Perlu Orangtua Lakukan
www.scarymommy.com

Sebagai orangtua pasti Mama tidak ingin ada orang lain yang berbuat jahat apalagi sampai bertindak memukul.

Namun di luar rumah, termasuk saat anak sedang bergaul dengan teman-temannya pasti ada saja hal yang tidak terduga terjadi. Bahkan ini bisa saja ada hal-hal buruk yang terjadi, seperti ada teman yang memukul atau berbuat jahat pada si Anak.

Menanggapi masalah ini, Mama pasti kesal karena si Anak seolah diperlakukan tidak adil dengan temannya apalagi sampai melakukan kekerasan. Lalu, orangtua seringkali memberikan dua pilihan atas kejadian ini kepada si Anak seperti:

  • Menyarankan anak untuk membalas pukulan dari temannya. Cara ini seolah membenarkan jika kekerasan bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah atau ingi mencapai tujuan. Padahal jika Mama mengajarkan ini pada si Anak, dirinya akan menggunakan cara serupa saat menghadapi permasalahan lain.
  • Menyarankan untuk diam saja. Namun, cara ini seperti keliru karena mengajarkan untuk membenarkan tindak kekerasan atau perilaku kelliru yang orang lain perbuat terhadapnya. Jika terus dibiarkan, si Anak akan tubuh sebagai pribadi yang terbiasa memendam rasa marah dan emosi negatifnya hanya karena ingin menyenangkan perbuatan orang lain.

Pada dasarnya kedua pilihan ini salah lho, Ma. Pilihan yang diberikan ini justru akan membuat si Anak menjadi pribadi yang tidak tepat. Untuk mengatasi masalah ini, berikut rangkuman dari Popmama.com yang bisa Mama terapkan pada si Anak.

1. Melatih anak berani mengatakan “tidak”

1. Melatih anak berani mengatakan “tidak”
Unsplash/Victor Van Welden

Ma, melatih anak untuk berani perlu dilakukan sejak dini ya. Termasuk untuk berani dengan tegas mengatakan “tidak”.

Keberanian ini harus diperkenalkan dan terus dilatih agar si Anak menjadi sosok yang benar-benar tegas. Ini sangat berguna disaat dirinya merasa terjebak di dalam sebuah masalah atau situasi yang tidak mengenakkan.

“Saya tidak suka dengan apa yang kamu lakukan,” ini bisa menjadi salah satu kalimat yang bisa Mama katakan kepada dirinya. Latihlah si Anak berbicara seperti ini saat dirinya tidak menyukai perbuatan teman-temannya.

Kalimat ini seolah mempertegas kalau dirinya tidak menyukai perilaku yang teman-temannya lakukan. Ini juga akan melatih si Anak agar bisa mempertahankan dirinya sendiri dan menyelesaikan masalah meskipun dalam situasi terburuk.

2. Mengajarkan anak untuk tidak membalas perbuatan temannya

2. Mengajarkan anak tidak membalas perbuatan temannya
http://www.cotswoldsconcierge.co.uk

Pelajaran lain yang bisa Mama katakan ke si Anak yaitu dengan melatih dirinya untuk membalas.

Arahkan si Anak jangan sampai menghindari dirinya sering melakukan perbuatan yang sama buruknya dengan teman-temannya. Ini juga bisa meminimalisir tindakan bully dan lingkaran kekerasan yang terjadi pada anak-anak.

Terangkan pada dirinya untuk tidak meniru dan menjadi pribadi yang buruk juga seperti teman-temannya lakukan. Ada baiknya untuk melatih si Anak untuk segera pergi meninggalkan lokasi kejadian dengan perasaan tenang.  

Lalu berikan arahan untuk segera melaporkan dan meminta bantuan kepada orang dewasa yang bertanggung jawab dalam memonitor lingkungan tempat kejadian. Jika si Anak dipukul di sekolah, ada baiknya untuk segera melaporkan perbuatan temannya ke guru. Namun, jika ini terjadi di sekitar rumah, ajarkan dirinya untuk segera melaporkan hal ini ke Mama atau keluarga lain.

Namun, perlu diingat juga ke si Anak untuk berkata jujur. Boleh melaporkan tindakan nakal temannya ini, tetapi ceritakan sesuai fakta tanpa dilebih-lebihkan sama sekali.

Editors' Picks

3. Melatih anak agar mampu menenangkan, mengenali dan menghadapi emosinya sendiri

3. Melatih anak agar mampu menenangkan, mengenali menghadapi emosi sendiri
Unsplash/Davor Denkovski

Kenalkan si Anak terhadap pengendalian emosi dalam bentuk 3M. Jika dijabarkan berarti si Anak harus mampu menenangkan diri terlebih dahulu, mengenali rasa marah atau perasaan negatifnya lalu kemudian terbiasa menghadapi segala emosinya.

Katakan pada si Anak untuk tidak apa-apa merasa marah, kecewa atau sedih terhadap apa yang dilakukan teman-temannya sendiri. Mama harus bisa menjelaskan jika perasaan yang sedang dialaminya ini wajar dan bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang dewasa.

Setelah itu, Mama bisa mengajak si Anak untuk mengekspresikan segala jenis emosi negatifnya ini dengan cara yang benar. Bukan justru terbiasa untuk menyakiti dirinya sendiri atau membalas perlakuan orang lain. Ekspresikan dengan cara yang baik, seperti menuliskan perasaannya di buku diary atau sebatas curhat dengan Mama.

Di tahap si Anak sudah mengerti cara menyalurkan segala emosinya dengan benar, Mama bisa masuk ke dalam proses memaafkan. Meskipun tahapan ini tidak mudah karena belum tentu si Anak langsung memaafkan temannya, namun tahapan satu ini juga perlu diperkenalkan segera mungkin.

Si Anak juga perlu paham kalau konsep memaafkan ini bukan berarti membenarkan perilaku buruk teman-temannya, melainkan memaafkan segala perasaan emosi-emosi negatifnya. Hal ini membantu perasaan si Anak agar bisa memaafkan dirinya sendiri.

4. Melatih kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah

4. Melatih kemampuan anak menyelesaikan masalah
Unsplash/Hermes Rivera

Saat si Anak melaporkan kejadian buruk yang sedang dialaminya, perlu sekali untuk segera menanggapinya. Namun, harus dengan kondisi tenang tanpa ada emosi yang meledak-ledak.

Sebagai orangtua Mama harus bisa bersikap bijak, tidak terlalu panik atau merasa terburu-buru saat mengambil segala tindakan. Mama juga bisa lho melatih si Anak untuk menyelesaaikan masalahnya sendiri.

“Menurut kamu, jika sewaktu-waktu teman kamu kembali nakal. Hal apa yang akan kamu lakukan?” Pertanyaan seperti ini bisa Mama tanyakan kepada si Anak. Dari pertanyaan-pertanyaan sejenis ini, si Anak akan melatih pola pikirnya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang ada.

Ini juga bisa merangsang si Anak bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa bergantung dengan orang lain, termasuk orangtuanya sendiri. Jika dirinya belum bisa melakukan ini sendiri, Mama perlu tetap melakukan pendampingan ya.

5. Menghargai tindakan dan keputusan anak

5. Menghargai tindakan keputusan anak
Unsplash/Patricia Prudente

Jika si Anak berani menghadapi situasi seperti ini dengan sikap dan cara yang tepat, Mama bisa lho mengacungi jempol kepadanya.

Mengacungi jempol seolah memberikan tanda kalau Mama menghargai tindakan dan keputusan si Anak dengan tepat. Ini termasuk ketika si Anak memilih untuk tidak membalas perilaku buruk temannya secara langsung karena ini justru akan memperpanjang masalah.