5 Hal yang Menyebabkan Anak Tumbuh Menjadi Si Perfeksionis

Bukan hal yang perlu dibanggakan!

24 Desember 2018

5 Hal Menyebabkan Anak Tumbuh Menjadi Si Perfeksionis
Freepik

Terkadang, anak perfeksionis sering dianggap sebagai suatu keunggulan dibanding anak lain yang tidak perfeksionis. Padahal, perfeksionis bukan sesuatu yang perlu dibanggakan lho, Ma.

Perlu Mama ketahui, perfeksionis justru membuat anak tersiksa, karena selalu dihantui dengan rasa takut salah, takut nilainya tidak sempurna, dan takut dikalahkan temannya.

Apalagi, anak perfeksionis sering menentukan target-target yang tidak realistis! Duh, kalau sudah begini, perfeksionisme justru membuat anak mengalami persaingan tak sehat, seumur hidupnya.

Ingat, perfeksionis berbeda dengan pekerja keras lho, Ma! Pekerja keras ingin mendapatkan hasil yang baik, namun tidak takut gagal. Sedangkan si perfeksionis ingin jadi yang terbaik, namun dipenuhi rasa insecure karena takut gagal atau ada anak lain yang lebih baik dari dia. Tak sehat kan, Ma?

Lalu apa sih yang memicu anak tumbuh menjadi sosok yang perfeksionis?

Menurut laman Healthy Children dari American Academy of Pediatrics (AAP), kemungkinan ada beberapa komponen biologis yang membentuk seorang anak menjadi perfeksionis, yaitu: masalah makan dan obsessive-compulsive disorder atau yang lebih sering disebut OCD.

Namun ada juga beberapa faktor lingkungan yang membuat anak menjadi perfeksionis. Mau tahu? Menurut AAP, ini 5 penyebabnya.

1. Tekanan akademis

1. Tekanan akademis
Focusforwardcc.com

Semua orangtua tentu berharapa anaknya masuk ke sekolah terbaik, mendapatkan beasiswa, dan cerdas akademik lainnya yang kelak mempermudah anak dalam meraih sukses.

Menurut AAP, orangtua yang demikian artinya memberikan 2 beban pada anak, yaitu tekanan internal dan eksternal.

Dalam translasi awam: sekolah saja sudah sulit, apalagi jika orangtua juga menekan anak untuk selalu cemerlang, aktif di kelas dan organisasi, dan memiliki nilai sempurna tanpa ada yang mengalahkan.

Dengan tekanan seberat itu, sudah tentu si anak akan tumbuh menjadi sosok perfeksionis yang tidak berani gagal.

2. Gaya asuh permisif

2. Gaya asuh permisif
Freepik

Orangtua yang menerapkan gaya asuh permisif memang sangat hangat dan suportif pada anak-anaknya. Namun menurut AAP, orangtua permisif ini biasanya hanya menerapkan sedikit batasan dan aturan, mereka juga lebih memposisikan diri sebagai teman dibanding sebagai mentor.

Hasilnya, para remaja dengan didikan seperti ini umumnya meraih sukses sesuai kemauan orangtuanya, dan tentu saja dengan standar yang sesuai orangtuanya.

Meraih kesuksesan sempurna adalah cara mereka membahagiakan orangtua, maka anak ini tumbuh menjadi si perfeksionis yang pantang memikirkan kegagalan. Dan ketika mereka gagal atau tidak sempurna, sudah pasti rasa hancur yang dirasakan jauh lebih berat dibanding anak lainnya.

Editors' Picks

3. Sensasi sukses vs. gagal

3. Sensasi sukses vs. gagal
Freepik/Freephoto

Menurut AAP, banyak anak perfeksionis yang sangat ingin menghindari kegagalan demi orangtua mereka, terutama jika mereka dididik oleh orangtua permisif seperti di atas.

Anak lain pada umumnya bukan tak punya rasa takut gagal, mereka juga merasakan takut, namun takut pada kegagalan itu sendiri, bukan karena hal lain.

Anak yang melihat dirinya hanya berharga ketika sukses, mungkin akan mengalami perselisihan kognitif saat mencoba menerima kegagalan atau keterbatasan performa. Hasilnya, mereka memaksakan perfeksionisme, yang artinya rela menghindari kegagalan dalam bentuk apapun.

4. Takut gagal

4. Takut gagal
Freepik/predragphoto77

Semua anak tentu pernah takut gagal, namun ‘berani mencoba kembali’ adalah kunci sukses yang membedakan pekerja keras dengan perfeksionis.

Menurut AAP, biasanya anak perfeksionis menghindari kegagalan karena tidak ingin mengecewakan orangtua. Namun banyak juga yang takut gagal karena takut merasakan kekecewaan berkepanjangan.

Anak perfeksionis sering melihat dirinya berharga hanya ketika sedang sukses, dan sebaliknya, ia merasa sangat tak berharga ketika gagal. Sungguh citra diri yang berlebihan.

Tak heran, perfeksionis tidak menerima alasan apapun untuk gagal, dan mau melakukan cara apapun untuk sukses.

5. Menerapkan profesionalisme kerja pada anak

5. Menerapkan profesionalisme kerja anak
Freepik

Orangtua mana yang tidak berharap anaknya sukses di dunia kerja? Sayangnya, beberapa orangtua berharap terlalu jauh. Persiapan sukses bekerja itu bahkan sudah mulai dilakukan sejak (terlalu) dini.

Menurut AAP, beberapa orangtua mempersiapkan anaknya untuk dunia kerja, namun menerapkan standar yang sama pada efisiensi, produktivitas, dan performa kerja di kehidupan pribadi si anak.

Ketika hal itu terjadi, anak menganggap orangtua mereka adalah barometer kesuksesan, dalam hal apapun. Hal ini tentu saja bisa membuat anak tertekan, karena tekanan orangtua atau karena anak menjalani hidupnya untuk memuaskan orangtua.

Ingin meraih yang terbaik itu oke saja dilakukan, namun menjadi perfeksionis bukan hal yang keren, Ma.

Baca juga: