5 Alasan Anak Berani Melawan Orangtua dengan Pola Asuh Otoriter

Merasa tertekan, orangtua perlu memahami ini

22 Juli 2020

5 Alasan Anak Berani Melawan Orangtua Pola Asuh Otoriter
Unsplash/Jonathan Cosens Photography

Orangtua memiliki masing-masing aturan dalam menerapkan pola asuh. Sebagian menerapkan pola asuh otoriter. 

Pola asuh otoriter adalah salah satu karakteristik dalam membesarkan anak dengan gaya pengasuhan yang cenderung keras dan menuntut anak. Meski harapan orangtua pada anak sangat tinggi, respons penghargaan untuk anak terbilang rendah.

Meski anak berhasil mencapai standar yang tinggi sesuai apa yang diminta orangtua, penghargaan atau bahkan ucapan selamat pun bisa dinilai kurang.

Rata-rata anak yang memiliki orangtua otoriter bisa saja melawan dan sulit diatur.

Berikut ini Popmama.com telah merangkum alasan anak berani melawan orangtua jika menerapkan pola asuh otoriter. Yuk, simak penjelasannya Ma!

1. Anak tidak suka diatur dan diperintah dengan keras

1. Anak tidak suka diatur diperintah keras
Unsplash/Luz Fuertes

Penyebab utama anak melawan orangtua yang otoriter adalah karena sebagian anak tidak suka jika dirinya diatur-atur dan diperintah.

Terlebih jika orangtua memerintah dengan nada kasar dan di depan banyak orang. 

Sebagian anak akan merasa harga dirinya terciderai. Anak pun bisa sakit hati dengan tindakan orangtua yang seperti ini.

Akhirnya untuk membalas rasa kecewa anak, ia bisa melakukan hal menyebalkan seperti berbuat kebalikan dari kemauan orangtuanya.

Editors' Picks

2. Anak merasa tertekan karena pola asuh otoriter

2. Anak merasa tertekan karena pola asuh otoriter
Unsplash/Sergei Solo

Mengasuh anak dengan cara otoriter malah akan membuatnya tertekan. Sulit bagi anak bisa tenang dan tetap merasa nyaman. Yang banyak terjadi adalah anak tumbuh dalam keadaan tertekan.

Ini bahaya bagi kesehatan anak. Terlebih lagi jika anak tidak memiliki saudara atau teman untuk berbagi cerita.

Jika anak bisa beradaptasi dengan pola asuh otoriter, anak bisa menjadi pribadi yang keras ketika ia dewasa.

3. Anak jadi pemberontak ketika keinginannya tidak dituruti

3. Anak jadi pemberontak ketika keinginan tidak dituruti
Unsplash/Darya Ogurtsova

Anak berani melawan orangtua karena ia tidak terima ketika keinginannya tidak didengar atau diabaikan.

Pada umumnya, orangtua yang otoriter kurang mendengar pendapat anak. Orangtua justru memiliki keinginan anak dengan sukarela mengikuti pilihannya.

Jika suara dan harapan anak terus tidak didengarkan maka anak bisa saja memberontak dan melawan perkataan orangtuanya.

4. Tidak merasa disayang orangtuanya dengan tulus

4. Tidak merasa disayang orangtua tulus
Unsplash/Ken Mages

Anak yang tidak didengarkan, lama-kelamaan akan meemiliki keluhan. Anak bisa merasa hidupnya tidak adil dan membosankan.

Lalu anak juga merasa tidak benar-benar disayang kalau orangtuanya otoriter.

Mendidik anak itu memang penting, tapi jangan lupakan juga kalau mereka butuh banyak kasih sayang dan afeksi yang membuatnya merasa diinginkan dan dicintai.

Tidak perlu terlalu memanjakannya, namun pastikan bahwa dia tahu kalau kamu menyayanginya.

5. Tidak mendapat kebebasan dan merasa terkekang

5. Tidak mendapat kebebasan merasa terkekang
Freepik/Jcomp

Hak kebebasan terasa seperti dirampas dan anak merasa terkekang jika memiliki orangtua otoriter.

Pola asuh seperti ini mungkin ada sisi baiknya, misal anak jadi lebih patuh dan mudah untuk mengikuti aturan di rumah. Namun sisi buruknya ialah anak tidak pernah punya pilihan selain menuruti orangtua apapun bentuknya.

Padahal penting bagi orangtua untuk membuat anak mandiri dan cerdas dalam membuat pilihan atau pendapat akan suatu hal agar tumbuh sebagai orang yang bijak.

Meskipun ada sisi baiknya, namun anak yang dibesarkan dengan cara otoriter justru cenderung mudah melawan dan sulit diatur. Itulah 5 alasan anak berani melawan orangtua yang otoriter. Semoga bermanfaat ya Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.