Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Viral Video Anak SD Dikomentari Tak Pantas, Orangtua Harus Apa?

5 min read
Viral Video Anak SD Dikomentari Tak Pantas, Orangtua Harus Apa?
Instagram.com/dekezone
  • Video dua anak berseragam SD menyebar dari TikTok ke X dan Instagram, lalu dipenuhi komentar bernuansa dewasa dan tidak pantas.

  • Keamanan anak di ruang digital memerlukan pengawasan orangtua terhadap aplikasi, interaksi, privasi, serta batas penggunaan gawai.

  • Komunikasi terbuka, screen time, parental control, dan pelaporan interaksi tidak nyaman menjadi bagian dari pendampingan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Viral video memperlihatkan dua anak berseragam SD tengah berjoget di media sosial. Video itu tampaknya beredar luas awalnya di TikTok hingga sampai ke X dan Instagram. Mirisnya, video itu dipenuhi oleh beragam komentar yang bernuansa dewasa dan tidak pantas terhadap anak.

Unggahan ini banyak di-repost oleh beberapa akun di X dan Instagram, dua diantaranta adalah akun @dekezone dan @viral.sekalii. Tentunya kejadian ini memicu keprihatinan soal keamanan anak di ruang digital. Anak memang perlu belajar menggunakan teknologi, tetapi orangtua juga perlu memastikan penggunaan gawai dan media sosial tetap sesuai usia serta berada dalam pendampingan.

American Psychological Association (APA) bahkan merekomendasikan pengawasan orang dewasa terhadap penggunaan media sosial, khususnya pada usia awal remaja sekitar 10-14 tahun.

Pengawasan ini bukan sekadar memeriksa gawai, tetapi juga mencakup diskusi, pendampingan, dan mengajarkan anak memahami konten yang mereka lihat.

Berikut Popmama.com rangkum hal yang bisa dipelajari orangtua dari viralnya video tersebut.

  1. 1. Video dua anak SD viral dan justru dipenuhi komentar tidak pantas

    Video dua anak SD viral dan justru dipenuhi komentar tidak pantas
    Instagram.com/viral.sekalii

    Dalam video yang beredar yang kemungkinan berasal dari TikTok, terlihat dua anak berseragam SD membuat konten bersama di lingkungan yang tampak seperti sekolah. Setelah tersebar luas, video tersebut justru mendapat sejumlah komentar yang menilai fisik anak hingga mengarah pada pembicaraan bernuansa seksual.

    Komentar itu kebanyakan bernuansa seksual, mulai dari mempertanyakan kematangan tubuh anak, menyinggung bagian tubuh tertentu, hingga melontarkan kalimat yang mengarah pada tindakan seksual.

    Kondisi ini tentunya menjadi perhatian karena anak-anak seharusnya tidak menjadi objek komentar bernuansa dewasa. Terlepas dari jenis konten yang dibuat, tanggung jawab atas komentar tidak pantas tetap berada pada orang yang menuliskannya, bukan pada anak.

  2. 2. Anak SD perlu mendapat perlindungan lebih ketat di ruang digital

    Anak SD perlu mendapat perlindungan lebih ketat di ruang digital
    Unsplash/Georgia de Lotz

    Memberikan ponsel kepada anak bukan berarti tugas orangtua selesai. Anak usia sekolah dasar belum tentu memahami bahwa satu video yang terlihat sederhana bisa disimpan, disebarkan ulang, atau dilihat orang asing yang sama sekali tidak mereka kenal. Kasus dua siswi SD ini menunjukkan bahwa risiko di ruang digital tidak selalu datang dari konten yang dibuat anak, tetapi juga dari cara orang lain merespons dan berinteraksi dengan mereka.

    Pemerintah sendiri kini memperketat perlindungan anak di internet lewat Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, aturan pelaksana dari PP Nomor 17 Tahun 2025 atau PP TUNAS.

    Salah satu kebijakannya adalah menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk sejumlah layanan media sosial. Implementasinya dilakukan bertahap sejak 28 Maret 2026.

    Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bukan untuk melarang anak menggunakan teknologi, melainkan melindungi mereka dari risiko seperti kecanduan gawai, konten berbahaya, hingga kontak dengan orang dewasa yang berniat tidak baik. Pemerintah bahkan menyoroti fitur kontak sebagai salah satu risiko karena memungkinkan orang dewasa berkomunikasi dengan anak tanpa sepengetahuan orangtua atau guru.

    Karena itu, khusus untuk anak usia SD, orangtua sebaiknya tidak hanya melihat berapa lama anak menggunakan ponsel, tetapi juga aplikasi apa yang digunakan, siapa yang dapat menghubunginya, apakah akun bersifat publik, dan apakah anak memahami risiko membagikan foto atau video dirinya sendiri.

  3. 3. Batasi screen time agar media sosial tidak mengambil alih keseharian anak

    Batasi screen time agar media sosial tidak mengambil alih keseharian anak
    Unsplash/Bayu Syaits

    Pengawasan juga perlu dibarengi dengan batas waktu penggunaan gawai. Tujuannya bukan sekadar membuat anak lebih sedikit bermain ponsel, tetapi memastikan media sosial tidak mengganggu tidur, aktivitas fisik, belajar, dan interaksi langsung dengan keluarga.

    APA merekomendasikan agar penggunaan media sosial dibatasi ketika mulai mengganggu tidur maupun aktivitas fisik yang dibutuhkan untuk perkembangan anak dan remaja. Organisasi tersebut juga mengingatkan orangtua untuk memperhatikan tanda penggunaan bermasalah, misalnya ketika anak sulit berhenti atau penggunaan media sosial mulai mengganggu rutinitas sehari-hari.

    Karena kebutuhan setiap anak berbeda, batas waktu tidak harus selalu sama. Orangtua bisa membuat jadwal penggunaan gawai sesuai usia, aktivitas sekolah, waktu tidur, dan kebiasaan keluarga.

  4. 4. Manfaatkan parental control di ponsel anak

    Manfaatkan parental control di ponsel anak
    apple.com

    Selain membuat aturan bersama, orangtua dapat memanfaatkan fitur parental control pada perangkat anak. Pada perangkat Android, misalnya, Google menyediakan Family Link yang memungkinkan orangtua mengatur batas waktu pemakaian perangkat, menentukan aplikasi yang boleh digunakan, menetapkan waktu tidur, dan melihat berapa lama anak menggunakan aplikasi tertentu.

    Orangtua juga dapat membatasi aplikasi atau konten berdasarkan usia, mengatur izin aplikasi, serta memblokir aplikasi tertentu. Namun, parental control sebaiknya tetap dibarengi komunikasi.

    Teknologi dapat membantu membatasi akses, tetapi tidak menggantikan kemampuan anak untuk mengenali risiko ketika suatu hari ia menggunakan perangkat tanpa pengawasan langsung.

  5. 5. Ajarkan anak menjaga privasi dan melapor jika mendapat interaksi tidak pantas

    Ajarkan anak menjaga privasi dan melapor jika mendapat interaksi tidak pantas
    Pixabay/tranmautritam

    Anak perlu memahami bahwa tidak semua orang yang berinteraksi dengannya di internet memiliki niat baik. Karena itu, orangtua dapat mengajarkan sejak dini agar anak tidak memberikan nama lengkap, alamat rumah, nama sekolah, lokasi, nomor telepon, atau informasi pribadi lainnya kepada orang asing.

    Jika mendapat komentar, pesan pribadi, permintaan foto, atau percakapan yang membuatnya tidak nyaman, biasakan anak untuk tidak membalas, memblokir akun tersebut, menyimpan bukti jika diperlukan, dan segera memberitahu orang dewasa yang dipercaya. Pendampingan seperti ini penting karena desain dan fitur media sosial pada dasarnya tidak selalu dibuat sesuai kemampuan perkembangan anak.

    Viralnya video dua siswi SD ini bisa menjadi pengingat bahwa keamanan digital anak bukan hanya soal berapa lama mereka memegang ponsel.

    Orangtua juga perlu tahu apa yang dilakukan anak, siapa yang dapat berinteraksi dengannya, serta bagaimana anak merespons ketika menemui situasi yang tidak aman.

    Membatasi screen time dan mengaktifkan parental control dapat membantu, tetapi pondasi terpenting tetap komunikasi terbuka. Anak perlu tahu bahwa ketika sesuatu yang tidak nyaman terjadi di internet, ia bisa datang kepada orangtuanya tanpa takut langsung dimarahi atau disalahkan.

    Itulah tadi informasi mengenai viral video anak SD dikomentari tak pantas dan apa yang perlu dilakukan orangtua. Ingat, orangtua bukan hanya sekedar memberikan ponsel atau gawai tetapi juga mengawasi keamanan anak di ruang digital.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More