“Kamu bilang gimana?” tanya sang Mama.
Belum Ngerti Uang, Anak SD Ini Hargai Website Buatannya Rp20 Ribu

- Anak SD bantu Papa buat website dengan HTML, CSS, dan JavaScript.
- Anak ingin membuat website profesional seperti JFX, dihargai Rp20 ribu.
- Belajar otodidak, les coding setelah viral di media sosial.
Seorang anak SD baru-baru ini mencuri perhatian warganet setelah pengakuannya soal nominal yang dipasang untuk membuat sebuah website. Percakapan yang diunggah oleh sang Mama lewat akun TikTok @the.marestro mengundang sorotan.
Sebab, terungkap bahwa anak tersebut sudah mampu menciptakan website sendiri, padahal usianya masih sangat belia. Karena belum paham sepenuhnya mengenai nominal uang, website yang diciptakannya dihargai sekitar Rp20 ribu.
Percakapan polos itu menuai banyak reaksi karena menunjukkan bagaimana anak tersebut sudah memiliki kemampuan teknis di bidang pembuatan website, meski belum benar-benar memahami nilai jasa yang ia kerjakan.
Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan.
1. Awalnya membantu sang Papa membuat website
Anak tersebut bercerita bahwa awalnya ia membantu Papanya membuat website.. Dalam percakapannya dengan sang Mama, ia menjelaskan bahwa website yang dibuat harus mendukung HTML, CSS, dan JavaScript.
Bahkan, ia juga memastikan layanan hosting yang digunakan bisa menampung dua website sekaligus. Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, anak ini sudah memahami proses dasar pembuatan website.
“Nggak bisa, ini nanti Papa yang beli hostingnya. Pah, make sure website-nya bisa support HTML, CSS, dan JavaScript dan make sure itu juga bisa dua website,” cerita sang anak.
“Terus kamu bikin lah?” tanya sang Mama.
“Oh iya, aku lagi proses soalnya Papa belum kasih aku fotonya, textnya. Aku masih menunggu,” jawab anaknya.
2. Membuat website profesional

Tak hanya sekadar membuat website sederhana, anak ini juga mendapat arahan untuk membuat tampilan website yang profesional.
Ia menyebut bahwa Papanya ingin website tersebut memiliki struktur seperti JFX, sebuah perusahaan yang dijadikan referensi.
Ketika Mamanya bertanya apakah ia mampu mengerjakannya, anak itu menjawab dengan jujur bahwa ia bisa membuatnya, meski ia merasa hasilnya mungkin belum sempurna.
Kepolosannya terlihat saat ia berkata bahwa tidak masalah jika hasilnya masih terlihat ‘jelek’, yang penting website tersebut bisa berfungsi dengan baik.
“Papa suruhnya itu bikin website-nya itu kayak JFX. Udah itu aja strukturnya,” cerita anak tersebut.
“JFX itu apaan?” tanya sang Mama.
“Perusahaan juga,” jawab anak tersebut.
“Terus kamu bisa nih kan?” tanya sang Mama memastikan.
“Bisa, cuma ya jelek nggak papa ya pah,” jawab anaknya.
3. Menghargai hasil websitenya senilai Rp20 ribu

Bagian paling menarik dari percakapan tersebut adalah ketika sang Mama bertanya tentang nilai jasa yang pantas untuk pekerjaannya.
Anak itu mengatakan bahwa jika membantu keluarga, ia bersedia melakukannya secara gratis. Namun, jika untuk orang lain, ia memperkirakan harga jasanya sekitar Rp100 ribu, tergantung tingkat kesulitan.
Meski begitu, ia merasa angka tersebut terlalu mahal. Saat kembali ditanya berapa bayaran yang pantas untuk ukuran dirinya sekarang, ia dengan polos mengatakan bahwa Rp20 ribu saja sudah cukup.
“Menurutmu kalau kamu udah ngerjain hal kayak gitu Itu patut dihargai berapa?” tanya sang Mama.
“Kalau keluarga, gratis lah,” jawab anak tersebut.
“Oh, tapi kalau untuk ukuran sekarang kamu dihargai berapa lah menurutmu?” tanya Mamanya lagi.
“Nah, aku jelek. Terus orang minta. Terus aku deg-degan, ya Rp20 ribu masih boleh lah,” jawab anak tersebut dengan polos.
4. Berawal dari belajar otodidak dan berujung les coding

Akibat percakapan tersebut, banyak warganet yang meninggalkan komentar lantaran penasaran dengan kemampuan sang anak. Apalagi, di usianya yang baru duduk di bangku SD, anak tersebut sudah mampu membuat website sendiri.
Sang Mama pun angkat bicara bahwa putranya ini belajar secara mandiri mengenai cara membuat website. Tidak mau menyiakan bakat sang anak, akhirnya ia memutuskan untuk mendaftarkan anaknya les coding.
“Kok bisa belajar di mana?” tanya salah satu warganet.
“Belajar sendiri awalnya kaka, akhirnya di les-in,” jawab sang Mama.
“Les nya di bidang apa bu, spesifiknya?” tanya warganet lain.
“Coding kak,” jawabnya lagi.
Demikian cerita anak SD hargai website buatannya Rp20 ribu. Kisah ini bukan sekadar cerita lucu yang viral di media sosial.
Dari percakapan polos tersebut, orangtua bisa melihat bahwa anak-anak sebenarnya memiliki potensi besar yang perlu diarahkan dengan tepat.
Apakah Mama pernah mengalami pengalaman serupa?


















