7 Makanan Tak Terduga yang Menyebabkan Hiperaktif pada Anak

Tahukah Ma, ternyata telur bisa menyebabkan anak hiperaktif lho!

14 Februari 2022

7 Makanan Tak Terduga Menyebabkan Hiperaktif Anak
Freepik/user34247930

Ketika berbicara tentang makanan yang membuat anak-anak hiperaktif, Mama mungkin berpikiran bahwa gula adalah biang keladinya. Namun, ternyata pemanis bukanlah satu-satunya penyebab hiperaktif pada anak.

Makanan yang menyebabkan hiperaktif, membuat anak-anak memiliki lonjakan energi yang luar biasa.

Inilah mengapa orangtua perlu mengetahui bagaimana reaksi anak terhadap makanan, sehingga tidak ada makanan tak terduga yang dapat membuat anak-anak mereka hiper.

Lantas makanan apa saja yang bisa berisiko menyebabkan hiperaktif pada anak?

Berikut Popmama.com telah merangkum tujuh diantaranya di bawah ini. Yuk simak!

1. Makanan dengan pewarna buatan

1. Makanan pewarna buatan
Freepik

Perlu diingat bahwa tak semua makanan dengan pewarna makanan dapat menyebabkan anak-anak hiperaktif.

Faktanya, dengan semua pewarna yang ada dalam makanan, hanya sedikit yang berisiko.

Tapi, menurut sebuah penelitian tahun 2007 yang dilakukan oleh Food Standards Agency (FSA), ada enam pewarna makanan yang telah terbukti menyebabkan anak-anak menjadi hiperaktif setelah mengonsumsinya.

Pewarna tersebut, menurut FSA meliputi:

  • Sunset yellow FCF (E110)
  • Quinoline yellow (E104)
  • Carmoisine (E122)
  • Allura red (E129)
  • Tartrazine (E102)
  • Ponceau 4R (E124)

Dilansir dari NHS, pewarna buatan ini banyak ditemukan dalam hal-hal seperti jus buah, es krim, soda, dan banyak lagi. 

Apakah pewarna ini akan mempengaruhi semua anak secara sama? Belum tentu.

Tetapi jika anak-anak mulai menunjukkan tanda-tanda hiperaktif setelah mengonsumsi makanan dengan pewarna buatan, ini mungkin menjadi salah satu penyebab energi yang berlebihan.

2. Susu sapi

2. Susu sapi
Freepik

Susu sapi merupakan salah satu minuman pertama di luar ASI dan susu formula yang dianjurkan untuk diminum anak kecil karena kandungan kalsium dan proteinnya yang tinggi. Namun, kandungan protein di dalamnya yang ternyata bisa menyebabkan anak menjadi hiperaktif.

Menurut sebuah studi dalam jurnal Archives of Disease in Childhood di tahun 2019, ditemukan anak-anak yang memiliki alergi susu sapi, khususnya protein kasein, menjadi hiperaktif setelah minum susu.

Hiperaktifnya sedemikian rupa sehingga anak-anak tidak bisa tidur karena mengonsumsi susu. Perlu dicatat juga bahwa beberapa peserta dalam penelitian ini juga ditemukan memiliki ADHD.

Namun, setelah mengubah pola makan yang tidak lagi memasukkan susu, hiperaktif pada semua anak menurun dan mereka yang tidak bisa tidur juga bisa mendapatkan istirahat yang sangat dibutuhkan.

Editors' Pick

3. Telur

3. Telur
Pexels/Estudio Gourmet

Telur kerap dijadikan makanan pokok dalam banyak menu makanan anak-anak. Bahkan jika anak tidak memakannya secara langsung, telur ditemukan sebagai bahan dalam banyak makanan.

Dilansir dari Home Health and Happiness, ketika anak-anak memiliki alergi telur yang tidak terdiagnosis, mengonsumsi telur dapat mengubah perilaku mereka sepenuhnya. Tak jarang hiperaktif yang mereka tunjukkan adalah kemarahan yang berlebihan.

Karena itu, kondisi ini diberi nama, alergi amarah telur atau egg rage allergy.

Hal positif setelah mengetahui alergi ini adalah bahwa begitu telur dikeluarkan dari pola makan anak, kemarahan berlebihan dapat ekstrem mereda.

Tetapi karena tidak banyak orangtua yang mengaitkan perilaku ini dengan alergi telur, anak-anak berisiko menghadapi perilaku hiperaktif ini selama bertahun-tahun.

4. Gandum

4. Gandum
Freepik.com/jcomp

Gandum disebut-sebut sebagai sumber serat yang bagus untuk anak-anak. Dan meskipun ini benar adanya, gandum juga mengandung gluten.

Dan bagi anak-anak yang memiliki sensitivitas atau alergi gluten yang tidak terdiagnosis, mengonsumsi produk gandum dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif.

Menurut Brain Balance, banyak dari apa yang dimakan anak-anak mengandung gandum.

Hal-hal seperti sereal, roti, biskuit, dan sejenisnya terbuat dari biji-bijian. Pada gilirannya, anak-anak juga mengonsumsi cukup banyak gluten.

Ketika gluten berinteraksi dengan tubuh secara negatif, itu dapat menyebabkan anak-anak menjadi hiperaktif dan mudah tersinggung.

Jika anak terdiagnosa ada intoleransi gluten atau alergi, disarankan untuk berbicara dengan dokter anak untuk menentukan apakah gluten harus dihilangkan sepenuhnya atau dibatasi dalam jumlah tertentu.

5. Keju

5. Keju
Pexels/Tabitha Mort

Sama seperti anak-anak yang alergi susu sapi bisa menjadi hiperaktif setelah meminum minuman tersebut, mengonsumsi keju yang terbuat dari susu sapi juga bisa menyebabkan reaksi hiperaktif yang sama pada anak-anak.

Dilansir dari NutritionCare.net, ketika anak-anak makan terlalu banyak kasein, dan memiliki alergi susu yang tidak terdeteksi, tubuh mereka tidak dapat memproses kasein.

Ketika ini terjadi, kimia tubuh berubah, mempengaruhi otak dan hasil hiperaktif. Meskipun ini umum terjadi pada anak-anak yang menderita ADHD, perilaku hiperaktif dapat terjadi tanpa kondisi ini.

Dengan demikian, jika keju tampaknya menyebabkan anak mama menjadi hiperaktif, ini bisa terjadi karena alergi susu sapi yang tidak terdiagnosis, sehingga produk susu mungkin perlu dikurangi atau dihilangkan dari menu makanan anak.

6. Saus tomat

6. Saus tomat
Freepik/dashu83

Saus tomat seringkali menjadi standar bagi banyak anak untuk mencelupkan makanan favoritnya. Kketika saus sambal terlalu pedas untuk anak-anak kecil, saus tomat bisa menjadi andalan. Namun tak disangka bahwa saus tomat ternyata dapat menyebabkan anak-anak menjadi hiperaktif setelah makan.

Dilansir dari WebMD, sayuran dari keluarga nightshade, seperti terong, paprika, dan tomat mengandung salisilat yang sangat tinggi.

Menurut Healthline, salilisat dapat memengaruhi fungsi otak dan memicu hiperaktif atau kurang perhatian. Sehingga penting untuk menghindari menambahkannya ke salad, saus, atau hidangan lain jika anak sensitif terhadap salisilat

7. Jeruk

7. Jeruk
Freepik/pch.vector

Buah yang kaya rasa manis dan asam serta penuh dengan Vitamin C dan nutrisi ini, ternyata juga penuh dengan salisilat, menurut Safe Kids. 

Dengan demikian, seperti halnya saus tomat, jeruk dapat menyebabkan tubuh anak-anak menjadi hiperaktif, terutama setelah memakannya secara konsisten. Meskipun jeruk mengandung salisilat, jeruk masih dianggap sebagai makanan sehat.

Tetapi jika melihat bahwa perilaku anak-anak berubah setelah makan buah oranye ini, Mama mungkin ingin mengurangi pemberiannya atau menghentikannya secara konsisten untuk mengurangi hiperaktif pada anak.

Nah itulah dia tujuh makanan tak terduga yang menyebabkan hiperaktif pada anak. Penting untuk diingat bahwa makanan dapat memengaruhi setiap anak secara berbeda berdasarkan pada kimia di tubuh masing-masing.

Ketika ditemukan apa yang menyebabkan kimia tubuh anak menjadi tidak seimbang, dianjurkan untuk berbicara dengan dokter atau ahli gizi untuk menentukan apakah makanan tersebut harus dihilangkan dari pola makan atau dibatasi untuk meminimalkan reaksi negatif.

Baca juga:

The Latest