Pentingnya Memenuhi Hak Anak Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19

Kebutuhan dasar anak bisa terabaikan ketika ia kehilangan orangtua karena Covid-19

17 Agustus 2021

Penting Memenuhi Hak Anak Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19
Freepik/Pvproduction

Di masa pandemi seperti saat ini, tidak banyak orang yang sadar bahwa anak sebenarnya juga sangat berdampak. Bukan tidak sedikit anak yang akhirnya harus kehilangan orangtua mereka akibat menderita Covid-19.

Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kesehatan fisik dan psikologis anak, terlebih mereka masih membutuhkan pengasuhan orangtua. Kendati anak akan berakhir diangkat oleh keluarga lain ataupun dikirim ke institusi, pemenuhan hak-hak anak bisa jadi tidak optimal.

Inilah yang menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia sehingga menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional pada Kamis (12/8/2021) untuk membahas mengenai "Pemenuhan dan Perlindungan Hak Anak Korban Kehilangan Orangtua pada Pandemi Covid-19".

Popmama.com telah merangkum sejumlah informasi yang perlu Mama ketahui mengenai pentingnya memenuhi hak anak kehilangan orangtua akibat Covid-19. Simak rangkumannya, yuk!

1. Kerentanan anak dan orangtua terhadap Covid-19

1. Kerentanan anak orangtua terhadap Covid-19
Pixabay/Ronnysefria

Mama mungkin sudah pernah membaca berita bahwa anak sejatinya bukanlah termasuk kelompok rentan terhadap jangkitan virus Corona. Hanya saja, ini bukan berarti mereka tidak bisa menderita Covid-19.

Tata Sudrajat, selaku Deputy Program Impact and Policy, menjelaskan bahwa semua anak, tanpa terkecuali, memiliki risiko rendah terkena virus Corona. Terutama, ketika anak tidak patuh menerapkan protokol kesehatan (prokes). Risiko anak tertular tentu akan meningkat apabila orangtuanya mengidap Covid-19 dengan gejala sedang ataupun berat.

Setidaknya ada sejumlah skenario yang dapat meningkatkan kerentanan anak dan keluarga terpapar Covid-19. Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati, menjelaskan:

  • Kondisi normal sekalipun anak dan keluarga memiliki kerentanan terpapar;
  • Sekeluarga isolasi mandiri (isoman) di rumah;
  • Salah satu orangtua mengurus anak dan orangtua lain yang terkena Covid-19 di rumah;
  • Anak isoman di rumah, sedangkan orangtua di rumah sakit;
  • Anak isoman di tempat lain, sedangkan orangtua di rumah sakit;
  • Anak dan orangtua sama-sama dirawat di rumah sakit.

Editors' Picks

2. Dampak yang dirasakan oleh anak kehilangan orangtua akibat Covid-19

2. Dampak dirasakan oleh anak kehilangan orangtua akibat Covid-19
Popmama.com/Fria Sumitro

Terpaparnya anak dengan Covid-19 bukan hanya berdampak pada kesehatannya saja, tapi juga terhadap keberlangsungan kehidupannya, Ma. Kondisi ini akan semakin parah terutama ketika anak tersebut ditinggal orangtuanya yang meninggal akibat Covid-19.

Kanya Eka Santi, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, mengatakan bahwa salah satu risiko utama anak kehilangan orangtua akibat Covid-19 ialah terabaikannya kebutuhan fisik. Akibatnya, si Anak menjadi tidak mendapatkan asupan makanan bergizi secara optimal untuk membantu tumbuh-kembangnya.

Bukan hanya secara fisik saja, Kanya menyebutkan beberapa dampak non-fisik yang akan dialami anak ketika pengasuh utama (orangtua) sudah tidak ada lagi, yaitu:

  • Semakin berisiko tidak mendapat pengasuhan atau ditelantarkan;
  • Terabaikannya hingga terputusnya pendidikan anak, terutama setelah dipindahkan ke keluarga utama yang miskin dan buta huruf;
  • Terabaikannya hak-hak anak terkait identitas;
  • Masalah psikososial, meliputi luka mendalam akibat ditinggal orangtua sehingga perkembangan psikologis dan sosial anak akan terganggu.

Rita juga menambahkan bahwa anak kehilangan orangtua akibat Covid-19 sangat rentan mengalami kekerasan, perdagangan, dan penjualan data.

3. Anak kehilangan orangtua akibat Covid-19 merupakan situasi darurat

3. Anak kehilangan orangtua akibat Covid-19 merupakan situasi darurat
Popmama.com/Fria Sumitro

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA), Nahar, menjelaskan bahwa anak kehilangan orangtua akibat Covid-19 termasuk ke dalam kategori anak dalam situasi darurat.

Lebih jauh lagi, ia memaparkan lewat presentasinya bahwa Anak dalam Situasi Darurat sendiri diartikan sebagai "anak yang berada dalam situasi lingkungan yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan anak yang disebabkan, baik oleh faktor alam, nonalam, dana/sosial".

Lantas, situasi seperti apa yang dikategorikan sebagai darurat bagi anak? Beberapa di antaranya:

  • Anak yang menjadi pengungsi;
  • Anak korban kerusuhan;
  • Anak dalam situasi konflik bersenjata;
  • Anak korban bencana sosial;
  • Anak korban bencana alam;
  • Anak dari narapidana/tahanan perempuan;
  • Anak korban bencana nonalam (pandemi Covid-19).

Dalam situasi-situasi darurat tersebut, anak wajib mendapatkan perlindungan khusus. Ini seperti yang telah tercantum dalam Pasal 6 RPP Perlindungan Khusus Anak, yaitu:

  • Pencegahan agar anak tidak menjadi korban dalam situasi darurat;
  • Mendata jumlah anak yang memerlukan perlindungan khusus dalam situasi darurat;
  • Memetakan kebutuhan dasar dan spesifik anak yang memerlukan Perlindungan Khusus dalam situasi darurat;
  • Jaminan keamanan dan keselamatan anak dalam situasi darurat;
  • Pendataan anak dan keluarganya untuk penelusuran dan reunifikasi keluarga;
  • Prioritas tindakan darurat penyelamatan, evakuasi, dan pengamanan;
  • Pemulihan kesehatan fisik dan psikis;
  • Pemberian bantuan hukum, pendampingan, rehabilitasi fisik, psikis, dan sosial anak dalam situasi darurat;
  • Pengasuhan;
  • Perbaikan fasilitas yang dibutuhkan anak dalam situasi darurat;
  • Pemenuhan kebutuhan dasar dan spesifik anak yang terdiri atas pangan sandang pemukiman pendidikan pemberian layanan kesehatan belajar dan berekreasi jaminan keamanan dan persamaan perlakuan;
  • Pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak penyandang disabilitas dan anak yang mengalami masalah psikososial;
  • Pembebasan biaya pendidikan baik yang dilakukan di lembaga pendidikan formal maupun nonformal selama masa darurat;
  • Pemberian layanan pemenuhan hak identitas anak dan dokumen penting yang hilang karena situasi darurat;
  • Pemberian layanan reintegrasi sosial.

4. Rita: "Pengalihan pengasuhan anak sebaiknya kepada keluarga inti"

4. Rita "Pengalihan pengasuhan anak sebaik kepada keluarga inti"
Freepik/Rawpixel-com

Salah satu hal yang paling mungkin akan terjadi pada anak kehilangan orangtua akibat Covid-19 adalah dialihkannya pengasuhan anak. Rita menyebutkan bahwa ada dua macam pilihan terkait pengalihan pengasuhan anak, yakni pengasuhan utama dan pengasuhan alternatif.

Untuk pengasuhan utama sendiri, anak nantinya akan dialihkan kepada keluarga besarnya yang meliputi keluarga inti dan keluarga sedarah garis lurus ke atas/bawah/menyamping sampai dengan derajat ketiga.

Sedangkan untuk pengasuhan alternatif sendiri terdiri atas pengasuhan berbasis keluarga pengganti (foster care, perwalian, dan pengangkatan anak) dan pengasuhan dalam lembaga (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak).

Mengenai kedua metode tersebut, Rita tetap menekankan agar anak dialihkan pengasuhannya kepada keluarga sendiri, bukan ke institusi/lembaga.

"Dengan keluarga besar berarti sebenarnya dia (anak) lebih nyaman untuk beradaptasi [karena] bukan orang baru. Kemudian, lingkungannya juga bukan sesuatu yang asing bagi dia sehingga mengurangi situasi yang tidak mudah," jelas Rita.

5. Diperlukannya kerja sama lintas sektor untuk memastikan pemenuhan hak anak

5. Diperlukan kerja sama lintas sektor memastikan pemenuhan hak anak
Popmama.com/Fria Sumitro

Dalam rangka menyelenggarakan perlindungan anak kehilangan orangtua akibat Covid-19, diperlukan adanya peran dari sektor kementerian maupun lembaga. Sebagai contoh, Nahar menuturkan bahwa pemerintah daerah memiliki peranan penting untuk memenuhi hak identitas anak dan dokumen penting yang hilang karena situasi darurat.

"Jangan sampai kelak di kemudian ada anak-anak yang kehilangan kedua orangtuanya, kemudian terungkap bahwa dulu pernah dibawa orang tertentu tapi tanpa dokumen, atau ada yang mengaku mengangkat anak tetapi tidak prosedural," Nahar menjelaskan.

Selain itu pula, Nahar mengimbuhkan bahwa untuk menyukseskan penyelenggaraan perlindungan anak, perlu ada kerja sama lintas sektor. Yang dimaksud adalah:

  • Melakukan pendataan bersama lintas kementerian/lembaga (K/L) terkait anak terdampak Covid 19 termasuk anak yang menjadi korban kehilangan atau terpisah dengan orangtua akibat Covid-19;
  • Mendorong peran semua sektor K/L, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam upaya penanganan dan pendampingan anak terdampak Covid-19;
  • Mendesain sistem yang cepat, komprehensif, dan terintegrasi untuk penanganan dan pendampingan anak terdampak Covid-19;
  • Membangun sekber anak covid lintas K/L, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penyiapan data dan pemenuhan hak anak Covid-19 (yatim/piatu/yatim piatu).

Adanya kerja sama tersebut akan membantu anak agar tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan bakat dan minatnya.

Itulah tadi informasi tentang pentingnya memenuhi hak anak kehilangan orangtua akibat Covid-19. Dari ulasan tadi, Mama sadar bahwa anak juga sangat perlu diperhatikan lebih hak-hak dan kebutuhannya di masa pandemi ini.

Oleh sebab itu, selalu jaga kesehatan diri demi masa depan dan kelangsungan hidup anak ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.