Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

10 Puisi R.A. Kartini untuk Anak SD

10 Puisi R.A. Kartini untuk Anak SD
Digitalcollections.universiteitleiden.nl
  • Artikel Popmama.com menghadirkan 10 puisi bertema perjuangan dan kehidupan perempuan untuk memperingati Hari Kartini, mengajak pembaca merenungkan makna emansipasi diri.
  • Puisi-puisi karya berbagai penulis seperti Siti Nuraini, Rieke Saraswati, hingga Joko Pinurbo menggambarkan semangat, kegelisahan, dan kekuatan perempuan dalam menghadapi realitas hidup.
  • Kumpulan puisi ini menjadi refleksi atas nilai kebebasan dan keteguhan hati perempuan Indonesia yang diwariskan dari semangat R.A. Kartini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mama, Hari Kartini bukan hanya perihal merayakan hari lahir Kartini dan perjuangan apa yang telah dilakukannya untuk memajukan pendidikan perempuan.

Hari Kartini ada, juga agar kita bisa merenungkan ulang kesadaran akan emansipasi diri kita sendiri. Kebebasan apa yang saat ini belum bisa kita capai. 

Berikut adalah 10 puisi R.A. Kartini untuk anak SD yang Popmama.com kumpulkan dari berbagai sumber. Puisi-puisi ini berhubungan dengan perjuangan dan tantangan kehidupan perempuan:

  1. 1. Perempuan (Siti Nuraini)

    Perempuan lena mematah-matahkan
    seranting kering, bersandar di jendela tinggi
    empat persegi, rahasia kejauhan
    di luar memanggil, di hatinya hingga rasa ganjil

    Jiwanya mesra, danau terbuka
    alam kedua bagi kehidupan di pinggir
    Kasih dan dambanya
    beriak di dasar, tiada sekali diberinya gilir.

    Rumahnya pudar didekap sunyi
    burung-burung dihalaunya masuk malam
    Ia sendiri menggigil, lalu berdiri
    di ambang ia gugup sekali, ketika ke dalam
    disentaknya pintu dan wajahnya terkatup.

    September, 1949

    Sumber: Mimbar Indonesia, No. 46, Th. III, 12 November 1949 lewat Tonggk 2 (Gramedia, 1987)

  2. 2. Sajak Kartini

    Betapa si anak manusia,

    Betapa asing mula tadinya,

    Cuma sekilas, hati ikrar setia,

    Tinggal menetap, tunggal dan esa.

     

    Betapa hati di dada,

    Tersayat dengan suara,

    Betapa asing mula tadinya,

    Lama, lama gaungi diri laksana doa.

     

    Betapa ini jiwa,

    Dalam sorak-sorai melanglang,

    Jantung pun gelegak berdenyar,

    Bila itu mata sepasang,

    Ramah pandang menatap,

    Jabat tangan hangat diulurkan!

     

    Tahu kau, samudra biru,

    Menderai dari pantai-ke pantai?

    Di mana, bisikan padaku,

    Di mana, mujizat bersemai?

     

    Bayu tangkas, katakan padaku,

    Pendatang dari daerah-daerah tanpa nama,

    Siapa gerangan dia, pendatang tanpa dipinta,

    Mengikat hati abadi begini?

     

    Oi, bisikan padaku, surya bercaya kencana

    Sumber sinar, sumber panas kuasa,

    Apa gerangan mukjizat agung,

    Nikmatkan hati bahagia begini,

    Lembutkan, lunakkan derita,

    Yang selalu datang dengan manjanya?

     

    Sepancar surya, habis tembusi dedaunan,

    Jatuh di laut pasang mengimbak-imbak,

    Terang sekarang, gemilang dunia,

    Dalam paduan caya kencana surya.

     

    Permainan caya dan warna,

    Pameran ditentang mata mesra, dan hati kecil yang terpesona,

    Hembuskan doa-syukur tulus-rela.

     

    Mukjizat ternyata tiga!

    Di hamparan mutiara cair gemerlapan,

    Dipahatkan aksara padanya oleh surya:

    Cinta, Persahabatan, Simpati.

     

    Cinta, Persahabatan, Simpati,

    Berdesau ombak datang bisikan kembali,

    Berdendang baju dan pohon,

    Pada si anak manusia menganga bertanya.

     

    Manis membelai terdengar,

    Nyanyi gaib ombak dan bayu,

    "Seluruh, seluruh dunia,

    Jiwa setia bakal bersua!"

     

    Tiada tenaga kuasa lerai,

    Apapun, pangkat, martabat,

    Tiada peduli segala,

    Tangan pun berjabatan!

     

    Dan bila jiwa telah seia,

    Retak tidak, tali abadi,

    Mengikat erat, setia arungi segala,

    Rasa, Jarak, dan Masa.

     

    Tunggal dalam suka, satu dalam duka,

    Seluruh hidup gagap ditempuh!

    Oi, berbahagia dia si penemu jiwa seia,

    Yang mahakuasa dia suntingkan

  3. 3. Dalam Mata Ibu (Komang Ira Puspitaningsih)

    Ada langit dalam mata ibu

    Menjadi hujan membuat semut-semut berlarian

    Dari sarang menuju tembok-tembok yang berlubang

     

    Ada kelabu dalam mata ibu

    Meyinggung kenangan anjing-anjing,

    Kupu-kupu, atau setumpuk boneka

    di kamar tidurku

     

    Senja ini langit kelabu

    Tercekam dalam mata ibu

    Senja ini langit kelabu

    Mencekam dalam mata ibu

  4. 4. Perempuan Muda di Jendela (Rieke Saraswati)

    sisa-sisa hujan menggelincir di kaca jendela

    bau stroberi dari kotak makanku melumer

    bersama ketakutan dari layar ponsel

    anak kecil di belakang kursiku terus berteriak

     

    tanganku dingin dadaku berdebar

    meminta teh hangat dan selimut

    ini bukan lelucon

    tak ada waktu untuk lelucon

     

    cairan kuing keluar dari gendang telingaku

    mengeluarkan suara hore yang bertumpuk-tumpuk

    kadang aku ingin mati

    kadang aku ingin hidup

  5. 5. Prosa Pengantin (Rieke Saraswati)

    para pengiring pengantin berdiri berjejer

    di tangan mereka, buket-buket mawar putih

    seseorang tertawa di atas balkon gereja

    oh, peri-peri khayangan yang tersesat

    begitu katanya

     

    di mana si cantik?

    para om dan tante bertanya

    aku, yang kalian cari,

    tidak mampu pergi ke mana-mana

    kecuali ke kamar rias

     

    impian-impian masa kecilku

    terselip di bawah pintu kamar

    rupanya mereka masih bertahan 

    menolak terbakar oleh tangan mama papa

     

    sementara bayiku menendang keras perut

    suatu hari ia akan merasakan sakit

    sakit dan mati tapi tetap kulahirkan

    semua perempuan diharapkan membawa kematian

    dan orang-orang menganggapnya anugerah

     

    di dalam telingaku

    lonceng gereja terus-menerus berdentang

  6. 6. Wanita (Toeti Heraty)

    Untuk Ajeng

    hari ini minggu pagi kulihat tiga wanita tadi

    berjalan lambat karena kainnya kain berwiru

    meninggalkan rumah depan menuju jalan

    terlentang antara pohon palma berderetan

     

    jari hari-hati memegang wiru kataku

    sedangkan tangan lincah mengelus rambut rapi

    kenakalan kerikil menggoyahkan tumit selop tinggi

    belum lagi angin melambaikan selendang warna-warni

     

    menengok ke kiri ke kanan mereka berhenti gelisah

    karena kain berwiru dan bertumit tinggi, rambut

    terbelai angin dan panas matahari, — becak lalu —

    mereka segera musyawarah suaranya tinggi

     

    nada-nada tinggi tawar-menawar rupanya dimulai

    entah mengapa kusak-kusuk terhenti, ternyata —

    bung becak mengayunkan kakinya lagi dan mereka

    asyik dan riang akhirnya tidak tampak olehku lagi

     

    meninggalkan halaman depan agaknya mencari

    rindang

    deretan pohon sepanjang jalan, asyik dan riang

    gerak, warna, irama rapi membawa kesungguhan

    arisan pada minggu pagi ini —

     

    wanita ...

     

    berapalah kemesraan sepanjang umur

    tiada berlimpah tiada mencukupi

    karena kau dengan tak acuh, tidak peduli

    membawa pilu yang tak tersembuhkan dan

    tak kau sadari, tak kau sadari

  7. 7. perempuan dan gelisah (Theoresia Rumthe)

    perempuan dan gelisah,

    bagai belahan bumi dua musim

    kalau kau bertanya tentang rindu

    ia akan menjawab dengan

    menggugurkan daun-daun jati

    perempuan dan gelisah,

    layaknya lautan biru

    kalau kau berdiri di pantai

    dan bertanya tentang rindu

    maka ia akan memberimu satu ombak

    untuk menghapus jejak kaki

    dan menyiapkan seribu lainnya

    supaya engkau terus kembali

    perempuan dan gelisah,

    selalu seperti nusa ina

    kalau kau bertanya tentang jalan

    menuju puncak gunung binaiya

    jawabnya ada di selimut kabut

    yang menutupi lembah-lembahnya

    supaya engkau berpaling pergi, atau

    terus datang dan tak dapat pergi lagi

    [WJ // Saumlaki, 30 Juli: 15.30]

  8. 8. Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem (Joko Pinurbo)

    untuk Linus Suryadi AG

    Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk
    di bawah cahaya lampu remang-remang.
    Demam mulai merambat ke leher,
    encok menyayat-nyayat punggung dan pinggang.
    Dan angin pantai Jepara yang kering
    berjingkat pelan di alis yang tenang;
    di pelupuknya anak-anak kesunyian
    ingin lelap berbaring, ingin teduh dan tenteram.

    "Terimalah salam damaiku
    lewat angin laut yang kencang, dinda.
    Resah tengah kucoba.
    Sepi kuasah dengan pena.
    Kaudengarkah suara gamelan
    tak putus-putusnya dilantunkan
    di pendapa agung yang dijaga
    tiang-tiang perkasa
    hanya untuk mengalunkan
    tembang-tembang lara?
    Kaudengarkah juga
    derap kereta di jauhan
    datang melaju ke arah jantungku."

    Kereta api hitam berderap membelah malam,
    melintasi hamparan kelabu perkebunan tebu.
    Kesedihan diangkut ke pabrik-pabrik gula,
    di belakangnya perempuan-perempuan pemberani
    berduyun-duyun mengusung matahari.

    "Perahu-perahu kembara, dinda,
    telah kulepas dari pantai Jepara.
    Berlayarlah tahun-tahunku, mimpi-mimpiku
    ke gugusan hijau pulau-pulau Nusantara.
    Berlayarlah ke negeri-negeri jauh,
    ke Nederland sana.
    Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon
    dan Stella: ingin rasanya aku
    menembus gerbang cakrawala."

    Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk
    di bawah cahaya lampu remang-remang.
    Tangan masih menyurat di atas kertas.
    Hati melemas pada berkas-berkas cemas.
    Angin merambat lewat kain dan kebaya.
    Dingin merayap hingga sanggulnya.
    Dan anak-anak kesunyian bergelayutan
    pada bulu matanya yang sayup,
    yang mengungkai cahaya redup.

    "Sering kubayangkan, dinda,
    perempuan-perempuan perkasa
    berbondong-bondong menyunggi matahari,
    menggendong bukit-bukit tandus
    di gugusan pegunungan seribu
    menuju hingar-bingar pasar palawija
    di keheningan langit Jogja.
    Kubayangkan pula
    ladang-ladang karang
    dirambah, disiangi
    kaki-kaki telanjang
    dengan darah sepanjang zaman."

    Kereta api hitam berderap membelah malam,
    membangunkan si lelap dari tidur panjang.
    Jari masih menulis bersama gerimis,
    bersama angin dan kenangan.
    Di telapak tangannya perahu-perahu dilayarkan
    ke daratan-daratan hijau, negeri-negeri jauh
    tak terjangkau.

    "Badai, dinda,
    badai menyerbu ke atas ranjang.
    Kaudengarkah kini biduk mimpiku
    sebentar lagi karam
    di laut Rembang?"

    Raden Ajeng Kartini terkantuk-kantuk
    di bawah cahaya lampu remang-remang.
    Demam membara, encok meruyak pula.
    Dan sepasang alap-alap melesat
    dari ujung pena yang luka.
    (1997)

  9. 9. Apakah Kartini (Sosiawan Leak)

    kartini, apakah kau akan tersenyum

    tahu astronot wanita kita gagal mengangkasa lantaran keburu tua

    sementara amerika menunda peluncuran pesawatnya

    dan kita belum mampu meracik roket sendiri

     

    kartini, apakah kau akan tertawa

    lantaran sekarang wanita dapat menjadi birokrat

    atau wakil rakyat di parlemen

    bahkan presiden

     

    kartini, apakah kau akan menangis

    lantaran kini untuk yang pertama kali

    presiden wanita kita sudah turun tahta

    dan entah nanti apakah terpilih lagi atau frustasi

     

    kartini, apakah kau akan menderita

    tatkala di koran kau baca

    ada ibu rumah tangga rela menjadi pengedar ganja dan narkoba

    untuk membantu suaminya menghadapi keruwetan ekonomi

    atau seorang ibu yang membunuh suami

    lantaran selingkuh dengan teman sendiri

     

    kartini, apakah kau akan susah

    ketika kau jumpa para remaja

    kehormatannya diobral murah

    di tanah sendiri atau di negeri tetangga

     

    kartini, kalau kau lahir di jaman ini

    mungkin bingung mencari arti emansipasi

    seperti kami linglung mengingat nama dan arti kartini

     

    untung kau lahir 127 tahun lalu

    sehingga tak mengalami,

    betapa susahnya menjadi wanita berkelamin ganda;

    ibu rumah tangga sekaligus pekerja!

    pelangi, mojosongo-solo, 25 april 2004

  10. 10. Layar Lebar (Cyntha Hariadi)

    Lihat sendok ini Sayang
    berenang seperti kecubung ke arahmu

    Lihat kuali ini
    melindungimu dari serangan senjata musuh

    Lihat kolong meja ini
    persembunyian kita dari binatang buas

    Lihat karpet ini
    menerbangkan kita ke negeri berlapis emas

    Lihat sapu lidi ini
    memberikan kau kekuatan sihir

    Lihat sarung guling ini
    menggulungmu menjadi kupu-kupu

    Lihat bak mandi ini
    ke arah mana layar kau bentang?

    Lihat tangga ini
    mari mendaki pelangi

    Lihat remah-remah roti ini
    memandu jalan kita pulang

    Lihat kunci ini
    membuka pintu sebuah puri di atas awan

    Lihat lemari ini
    menjelma menjadi negeri salju abadi

    Lihat jendela ini
    seorang anak manusia dan peri mengintaimu

    Lihatlah tembok ini
    dengarlah ia bicara:

    runtuhkan aku dengan krayon-krayonmu
    mainkan layar lebar yang menayangkan mimpi-mimpi
    kau dan ibumu.

    Sumber: Ibu Mendulang Anak Berlari (Gramedia, 2016)

    Itulah kumpulan 10 puisi R.A. Kartini, dikumpulkan oleh Popmama.com dari berbagai sumber. Indah sekali, bukan? Kata-katanya mampu menyentuh hati dan mengajak kita merenungi makna sejati dari emansipasi. Jika Mama menyukainya, jangan lupa untuk mencatatnya dan kembali lagi ke sini, ya!

    FAQ Seputar Puisi R.A. Kartini untuk Anak SD

    Cara menulis puisi untuk anak SD?

    Membuat puisi untuk anak SD dapat dilakukan dengan menentukan tema sederhana (hewan, alam, keluarga), memilih kata-kata deskriptif yang mudah, dan menyusunnya menjadi bait-bait pendek. Gunakan rima yang berulang agar iramanya menyenangkan. Pastikan puisi mengandung imajinasi dan pesan positif.

    Ceritakan secara singkat siapa RA Kartini?

    RA Kartini (21 April 1879 - 17 September 1904) adalah pahlawan nasional pelopor emansipasi wanita Indonesia. Lahir di Jepara, ia memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi perempuan pribumi yang saat itu terkekang adat pingitan. Pemikiran modernnya dituangkan melalui surat-surat kepada teman-teman Belandanya, yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

    Apa yang diteladani dari RA Kartini?

    R.A. Kartini adalah sosok pahlawan emansipasi yang tangguh, cerdas, dan berjiwa sosial tinggi, berjuang untuk kesetaraan pendidikan dan hak-hak perempuan Indonesia. Sikap teladannya meliputi semangat belajar, berani bermimpi, gigih pantang menyerah, rendah hati, serta menghormati adat tanpa mengabaikan kemajuan zaman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More