Tim Popmama.com telah mendapatkan izin dari pihak keluarga untuk mengangkat cerita ini menjadi artikel berita.
Viral Kisah Anak 8 Tahun Alami Pubertas Dini, Jalani Terapi Hormon

- Mama Amelia menyadari Gempi mengalami pubertas dini pada usia 7 tahun 11 bulan.
- Gempi mengalami perubahan bau badan dan pertumbuhan payudara, memerlukan pemeriksaan lanjutan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
- Dokter menyarankan pemeriksaan rontgen tulang, darah, dan terapi hormon untuk memperlambat laju hormon pubertas.
Seorang Mama bernama Amelia Yusuf menceritakan kronologi putrinya, Gempi (8), mengalami pubertas prekoks atau pubertas dini. Kisah tersebut dibagikan melalui akun TikTok @ragamgempita.
Mulanya, Amelia menyangka bahwa putrinya memiliki gizi yang bagus, sehingga tumbuh kembangnya begitu pesat.
Tak disangka, gejala-gejala yang diperlihatkan justru menjadi pertanda bahwa Gempi mengalami pubertas dini.
Untuk informasi selengkapnya, berikut Popmama.com siap membahas kisah anak 8 tahun alami pubertas dini.
1. Awal mula menyadari anaknya mengalami pubertas dini

Mama Amelia mengaku tidak pernah menyangka bahwa putrinya yang masih kecil ternyata didiagnosis pubertas dini.
Ia awalnya berpikir pertumbuhan Gempi yang pesat, terutama tinggi badannya, adalah hasil dari asupan gizi yang baik sejak kecil.
Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ada yang tidak biasa dari putrinya. Di usia Gempi yang kala itu menginjak 7 tahun 11 bulan, Mama Amelia menyadari adanya perubahan aroma badan pada putrinya.
Mama Amelia mencari tahu bahwa perubahan bau badan bisa menjadi salah satu gejala pubertas prekoks. Tanpa menunda lebih lama, ia langsung membawa Gempi untuk berkonsultasi ke dokter anak subspesialis endokrin
“Gak pernah nyangka anak se imut kiyuut ini di diagnosis “Pubertas Dini”. Mamak kira Empi cepat tumbuh tinggi karena gizinyabagus temyata mamak salah. Awal notice di usia 7 thn 11 bulan bau badan nya yang tiba-tiba berubah, setelah aku browsing, ternyata ini adalah gejela pubertas prekoks,” cerita Mama Amelia di akun TikTok @ragamgempita.
“Dari pada mamak ovt langsung aja dibawa konsul ke A dokter anak sub endokrin,” lanjutnya.
2. Adanya perubahan bau badan hingga pertumbuhan payudara

Sayangnya, di kota tempat mereka tinggal tidak tersedia dokter anak sub endokrin. Hal ini membuat Mama Amelia dan keluarga harus menempuh perjalanan cukup jauh demi mendapatkan pemeriksaan yang tepat.
Pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk pergi ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan waktu tempuh sekitar empat jam dari Purwokerto ke Jogja.
“Karena di kota kami dokter anak sub endokrin tidak ada, jadi kita bawa konsulnya ke RS Sardjito Yogyakarta. PWT-Jogja 4 jam. Otw RS pagi banget,” ceritanya.
Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dokter menyatakan bahwa Gempi memang menunjukkan tanda-tanda pubertas dini.
Selain perubahan bau badan, pertumbuhan payudara juga dialami Gempi, sehingga dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan berupa rontgen untuk mengecek usia tulang atau bone age.
“Singkat cerita setelah konsul dengan dokter dan diperiksa keseluruhan, ternyata benar anak kami ada tanda-tanda pubertas prekoks karena selain bau badannya yang mulai berubah, 'PD' (payudara) pun dicek sudah mulai tumbuh. Dan dokter suruh ronsen tangan untuk dicek bone agenya,” lanjutnya.
3. Menjalani rangkaian pemeriksaan

Tak berhenti di rontgen tulang, dokter juga menyarankan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hormon dalam tubuh Gempi.
Pemeriksaan ini penting untuk memastikan seberapa aktif hormon pubertas bekerja pada anak. Karena berasal dari luar kota, Mama Amelia disarankan untuk melakukan tes hormon di laboratorium terdekat dari tempat tinggal mereka.
Selain itu, dokter juga meminta untuk mempertimbangkan secara matang apakah Gempi perlu menjalani terapi hormon atau tidak.
"Selain ronsen bone age, dokter juga nyuruh untuk cek darah dan kadar hormon. Karena kami dari luar kota, dokter menyarankan untuk pemeriksaan kadar hormonnya di lab terdekat di kota kami. Dan disuruh memikirkan matang-matang kira-kira anak kami perlu atau tidak untuk terapi memperlambat laju hormon,” ungkapnya.
4. Menjalani terapi untuk memperlambat laju hormon

Setelah satu tahun berlalu, Mama Amelia kembali mengamati perkembangan Gempi yang semakin pesat. Tinggi badannya terus bertambah, mulai tumbuh bulu ketiak halus, dan muncul tanda-tanda pubertas dini lainnya yang semakin jelas.
Dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium sebelumnya, pihak keluarga kembali ke RS Sardjito dan akhirnya memutuskan untuk memulai terapi hormon.
“Setahun berlalu setelah memikirkan dan melhat perkembangan anak kami yang makin cepat tumbuh tinggi, mulai tumbuh bulu ketiak halus dan tanda-tanda gejela pubertas prekoks lainnya. Akhirnya kami balik lagi ke Sardjito sambil membawa hasil lab setahun lalu dari Prodia dan memutuskan untuk diterapi hormon. Karena jujur kami sebagai orangtua belum siap secara mental kalo anak kami menstruasi di usia dini,” tulis Mama Amelia.
5. Terapi hormon dengan suntik tiga bulan sekali

Dalam proses terapi, Mama Amelia mengungkapkan bahwa biaya pengobatan menjadi tantangan tersendiri. Sebenarnya, terdapat pilihan suntikan hormon yang dilakukan sebulan sekali dengan biaya relatif lebih terjangkau.
Namun, karena keterbatasan jarak dan waktu untuk bolak-balik ke rumah sakit setiap bulan, keluarga akhirnya memilih terapi suntik hormon yang dilakukan setiap tiga bulan sekali agar lebih memungkinkan.
“Ini dia obat yang bikin kantong mamak bergetar. Sebenarnya ada opsi obat yang disuntiknya sebulan sekali harganya sedikit lebih murah, tapi karena kami dari luar kota dan tidak memungkinkan juga waktunya untuk bolak balik ke RS sebulan sekali. Jadi kami memutuskan untuk terapi suntik yang 3 bulan sekali saja,” jelasnya.
Gejala Pubertas Prekoks atau Pubertas Dini yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Pubertas prekoks adalah kondisi ketika tanda-tanda pubertas muncul lebih awal dari usia normal, yaitu sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum 9 tahun pada anak laki-laki.
Perubahan ini sering kali membuat orangtua kaget karena terjadi saat anak masih berada di usia sekolah dasar. Gejalanya bisa muncul secara bertahap maupun cukup cepat.
Karena itu, penting bagi Mama dan Papa untuk mengenali tanda-tanda awal pubertas dini agar anak bisa segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Berikut gejalanya:
- Bau badan berubah seperti orang dewasa dan muncul tiba-tiba
- Pertumbuhan payudara pada anak perempuan sebelum usia 8 tahun
- Tinggi badan bertambah sangat cepat dalam waktu singkat
- Tumbuh rambut halus di ketiak atau area kemaluan
- Perubahan bentuk tubuh, seperti pinggul mulai melebar
- Perubahan emosi, anak lebih sensitif atau mudah marah
- Menstruasi dini pada anak perempuan
Jika gejala-gejala ini muncul lebih awal dari usia seharusnya, sebaiknya orangtua segera berkonsultasi ke dokter anak untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Semoga kisah ini bisa membuat orangtua lebih aware tentang adanya pubertas dini.


















