Mama Perlu Tahu, 5 Hal Pemicu Kerontokan Rambut Anak

Kerontokan rambut anak bukan hanya dipicu ketidakcocokan pemakaian produk tata rambut

22 November 2020

Mama Perlu Tahu, 5 Hal Pemicu Kerontokan Rambut Anak
Pexels/Cottonbro

Rambut rontok bukan hanya masalah bagi orang dewasa dan lansia. Bayi dan anak-anak pun bisa mengalaminya.

Jika pada orang dewasa dan lansia kerontokan rambut kebanyakan disebabkan karena efek penggunaan produk dan penataan rambut atau pun dari segi penurunan kualitas karena usia, pada anak-anak penyebabnya bisa beragam.

Berikut Popmama.com beberapa penyebab kerontokan rambut pada anak, mulai dari infeksi hingga reaksi terhadap pengobatan tertentu, dilansir dari verywellhealth.com.

1. Infeksi kulit kepala

1. Infeksi kulit kepala
Freepik/Kwanchaichaiudom

Kurap pada kulit kepala yang disebut tinea capitis merupakan salah satu penyebab kerontokan rambut pada anak. Kurap yang menginfeksi ini menyebabkan gejala yang menunjukkan ciri seperti lesi berupa lingkaran merah, bercak bersisik yang gatal dan rambut rontok.

Gejala kurap kulit kepala biasanya tak begitu kentara. Minim rasa gatal pada kulit kepala dan tidak ada rambut yang rusak meskipun rontok. 

Infeksi bakteri juga dapat menyebabkan kerontokan rambut yang tamak mirip dengan tinea capitis skaling 1. Biasanya disebabkan oleh bakteri bernama Staph aureus.

Editors' Picks

2. Kebiasaan buruk menarik rambut

2. Kebiasaan buruk menarik rambut
todaysparent.com

Menarik atau membelai rambut bisa menjadi kebiasaan sebagian bayi dan anak-anak, layaknya mengisap jempol. Kebiasaan ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya saat anak menginjak usia 3-5 tahun.

Kebiasaan buruk ini seringkali diabaikan, tetapi bisa menjadi pemicu kerontokan rambut. Cobalah mengalihkan anak dari kebiasaan ini jika memang mengganggu dan membuat rambut anak rontok lebih banyak.

3. Alopecia traksi

3. Alopecia traksi
Freepik

Selain kebiasaan buruk di atas, alopecia traksi juga bisa menjadi penyebab kerontokan rambut anak. Disebabkan oleh penataan rambut yang konsisten dan menimbulkan tarikan, alopecia traksi banyak dialami oleh anak perempuan yang rambutnya sering dikuncir atau dikepang. 

Selain itu, alopecia traksi juga bisa terjadi pada bayi baru lahir yang kehilangan rambut di bagian belakang karena sering bergesekan dengan bantal atau alas tidurnya.

4. Masalah autoimun

4. Masalah autoimun
allpurposesolutions.com

Alopecia areata merupakan gangguan autoimun yang dapat menyebabkan kerontokan rambut di tubuh anak.

Selain alopecia areata, ada kondisi autoimun lain yang serupa, yaitu alopecia totalis dan alopecia universalis. 

Alopeia areata sering disalahartikan sebagai kurap kulit kepala. Tidak seperti kurap, alopecia areata menyebabkan bercak berbentuk bulat dan halus di kulit kepala tanpa adanya kemerahan atau kerak.

5. Reaksi terhadap obat-obatan

5. Reaksi terhadap obat-obatan
Freepik/Lifeforstock

Salah satu penyebab klasik kerontokan rambut yang dialami anak adalah pengobatan terhadap penyakit tertentu, misalnya kanker. Pada pengobatan kanker, seperti radiasi dan kemoterapi, memang berdampak pada kerontokan rambut anak, bukan penyakit kanker itu sendiri.

Selain pengobatan kanker, telogen effluvium adalah penyebab lain yang memicu kerontokan rambut anak.

Anak yang mengalami telogen effluvium akan mengalami demam tinggi, kehilangan berat badan drastis dan stres emosional yang memicu rontoknya rambut secara spontan enam hingga 12 minggu kemudian.

Selain lima penyebab di atas, kerontokan rambut anak juga bisa dipicu karena kelainan tiroid, penyakit lupus, kekurangan zat besi, malnutrisi dan keracunan vitamin A.

Faktor lainnya bisa juga disebabkan oleh kelainan struktural batang rambut yang menyebabkan rambut mudah patah, kering dan rapuh. Konsultasikan dengan dokter anak jika Mama menemukan kejanggalan lain yang mengiringi kerontokan rambut yang dialami anak. 

Itulah beberapa hal pemicu rambut rontok pada anak. Jika rambut anak sudah rontok parah, segera konsultasikan ke dokter ya Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.