Berbincang dengan Anak Bisa Meningkatkan Kecerdasannya

Berbincang panjang lebar dengan anak, apakah ia bisa mengerti?

23 Mei 2019

Berbincang Anak Bisa Meningkatkan Kecerdasannya
Freepik

Dilansir dari moms.com, sebuah penelitian yang dilakukan University of York menunjukkan bahwa semakin sering orangtua berbicara dengan anak, semakin besar pula pengaruhnya pada kecerdasan mereka.

Hasil studi tersebut menemukan, orangtua yang sering berinteraksi dengan anaknya, terbukti mampu mendorong keterampilan kognitif anak. Mengapa bisa demikian?

1. Penguasaan kosakata lebih variatif

1. Penguasaan kosakata lebih variatif
Pexels/Daria Shevtsova

Katrine d’Apice, mahasiswa PhD yang menjadi peneliti utama dalam penelitian itu mengatakan bahwa jumlah kata yang dituturkan orang dewasa dan didengar anak memiliki hubungan positif dengan kemampuan kognitif mereka.

Namun, masih perlu eksplorasi lebih jauh dari pendapat tersebut. Bisa jadi paparan bahasa yang demikian memberi anak kesempatan belajar lebih banyak. Atau sebaliknya, potensi kecerdasan anaklah yang membuat orang dewasa terdorong bercerita lebih banyak hal, yang berarti lebih banyak kosakata pada anak.

2. Kualitas pembicaraan orang dewasa berpengaruh pada perkembangan bahasa anak

2. Kualitas pembicaraan orang dewasa berpengaruh perkembangan bahasa anak
Freepik/bearfotos

Selama ini mungkin Mama dan Papa beranggapan percuma membicarakan hal-hal rumit atau kompleks pada anak. Dia juga nggak akan mengerti saat ini.

Bisa pula muncul pendapat, ngapain repot-repot mengajak bayi atau balita bicara, bercerita, atau membacakan buku, anak juga tidak tahu apa yang kita bicarakan.

Akan tetapi, hasil penelitian mengatakan sebaliknya. Saat orang dewasa (orangtua) membicarakan sesuatu yang berbobot atau berkualitas, hal ini berpengaruh pada perkembangan bahasa anak.

Anak yang berinteraksi lebih sering dengan orangtua, mampu menguasai kosakata beragam daripada anak yang sering menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak seusianya.

3. Luangkan waktu bicara sesering mungkin dengan anak

3. Luangkan waktu bicara sesering mungkin anak
Freepik/wavebreakmedia

Tim peneliti mendorong orangtua berbicara sebanyak dan sesering mungkin dengan anak. Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk berbincang dengan mereka. Mama bisa melakukannya kapan saja, saat bermain bersama, makan bersama, ketika bepergian, atau menjelang tidur.

Satu hal yang pasti, jika diasuh oleh orangtua yang responsif, anak juga cenderung lebih patuh dan tenang dalam kesehariannya.

Itu membuktikan bahwa kehadiran Mama dan Papa secara 100% dalam setiap momen bersama anak itu sangat penting. Selalu ada berarti Mama fokus pada kebutuhan dan keinginan anak, bukan sekadar hadir secara fisik tapi pikiran ke mana-mana.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak

Mama tentu menginginkan si Kecil tumbuh sebagai anak pintar. Lalu, faktor apa saja sih yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak, selain hasil studi di atas tadi?

Editors' Picks

1. Pola pengasuhan orangtua.

1. Pola pengasuhan orangtua.
Freepik

Faktor ini menegaskan hasil studi tersebut, bahwa perkembangan otak tidak hanya bergantung pada genetika. Pengalaman dan pembelajaran langsung pada masa awal kehidupan anak berdampak besar bagi perkembangan otak anak.

Lupakan mainan mahal atau “sekolah” bayi. Mama cukup berbicara, bercerita, membaca buku, dan berikan anak pengalaman menarik lewat kunjungan ke taman, kebun binatang, atau perpustakaan. Dari situ mereka akan terstimulasi dan mendorong rasa ingin tahu tumbuh dalam dirinya.

2. Kecerdasan emosi anak

2. Kecerdasan emosi anak
Pexels/Naomi Shi

Mama nggak bisa hanya fokus pada bagaimana menggenjot IQ anak semata. Jangan lupakan juga pentingnya kecerdasan emosi anak agar ia bisa sukses di sekolah dan dalam kehidupan.

Pastikan semua kebutuhan psikologisnya terpenuhi. Maka, anak bisa belajar dengan maksimal dan memanfaatkan seluruh potensi dirinya.

3. Gaya belajar anak

3. Gaya belajar anak
Freepik/freepic.diller

Ma, gaya belajar anak itu berbeda satu sama lain. Mama tidak bisa memaksakan anak kinestetik untuk duduk manis membaca buku.

Sama ketika melarang anak auditori belajar sambil mendengarkan musik, ini juga berlaku saat mengajak anak visual belajar di tempat bising.

Kenali gaya belajar anak adalah solusi tepat untuk membantu anak mempelajari berbagai hal lebih mudah dengan caranya sendiri.

4. Bermain

4. Bermain
Freepik

Tahukah, Ma, bermain itu ternyata “me-time” anak? Berikan anak kesempatan untuk bermain sesuai apa yang ia mau.

Jangan terlalu sering mengarahkan anak agar melakukan ini, seharusnya begitu, dan sebagainya. Biarkan ia menciptakan sendiri cerita, menyelesaikan apa yang telah dimulai, atau memecahkan masalahnya.

Sesekali boleh-boleh saja membiarkan anak bosan. Ini membuat anak terdorong untuk mengatasi sendiri kebosanan itu dengan melakukan hal-hal yang ia sukai.

5. Nutrisi

5. Nutrisi
Pexels/Pixabay

Tentu saja semua usaha di atas tak lengkap jika Mama tidak memberikan asupan nutrisi yang baik bagi tumbuh kembang anak.

Makanan yang mengandung omega-3 diyakini sebagai nutrisi terbaik untuk otak selama masa tumbuh kembang anak. Selain memberikan buah-buahan dan sayuran, telur dan ikan salmon juga bisa diandalkan dalam pemenuhan kebutuhan omega-3.

Sekarang Mama sudah tahu kan apa yang bisa dilakukan untuk mendorong kecerdasan anak? Lakukan sedini mungkin, apalagi jika anak masih berusia 0-5 tahun atau dalam periode emas. Siapa tahu, suatu hari si Kecil akan menjadi pemimpin bangsa yang cakap dan cerdas?

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;