Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Dampak Anak yang Sering Dicuekin, Bisa Memengaruhi Perkembangan Otak

7 Dampak Anak yang Sering Dicuekin, Bisa Memengaruhi Perkembangan Otak
Pexels/cottonbrostudio
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan pengabaian emosional pada anak usia dini dapat mengganggu perkembangan otak, terutama area yang mengatur emosi, perhatian, memori kerja, dan kontrol impuls.
  • Anak yang sering dicuekin berisiko mengalami kesulitan sosial, sulit mengatur emosi, menurunnya rasa aman serta kepercayaan diri, hingga lebih mudah cemas dan overthinking.
  • Respons sederhana orangtua seperti mendengarkan atau menoleh saat dipanggil terbukti penting untuk membangun rasa aman, kelekatan emosional, dan perkembangan otak anak yang sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Setiap orangtua tentu pernah sibuk. Ada kalanya Mama atau Papa tidak bisa langsung merespons saat anak memanggil, bercerita, atau meminta perhatian. Hal tersebut wajar terjadi sesekali.

Namun, ketika anak terlalu sering merasa diabaikan dalam jangka waktu lama, dampaknya ternyata tidak hanya membuatnya sedih. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengabaian emosional dapat memengaruhi perkembangan otak anak, terutama pada usia 0-5 tahun yang merupakan masa emas tumbuh kembang.

Dilansir dari penelitian yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine, mengabaikan anak dapat mengganggu perkembangan area otak yang berperan dalam pengaturan emosi, perhatian, memori kerja, hingga kontrol impuls lho, Ma.

Berikut Popmama.com rangkum apa saja dampaknya bagi si Kecil?

1. Perkembangan otak sosial anak bisa terhambat

Seorang anak bermain mobil mobilan dan di belakang papa bekerja
Pexels/kseniachernaya

Masa balita adalah periode ketika otak berkembang dengan sangat cepat. Pada fase ini, anak belajar memahami emosi, membangun hubungan, hingga mengenali rasa aman melalui interaksi dengan orang-orang terdekatnya.

Studi yang dipublikasikan dalam Brain and Mind (2002) menemukan bahwa anak yang sering mengalami pengabaian berisiko mengalami gangguan pada perkembangan sistem saraf sosial.

Akibatnya, kemampuan anak untuk berinteraksi dan membangun hubungan sosial yang sehat dapat ikut terdampak.

2. Anak lebih sulit mengatur emosinya

Mama bekerja dan anaknya tertunduk lesu di sampingnya
Pexels/matildawormwood

Saat anak menangis, kecewa, atau marah, respons dari orangtua sebenarnya membantu otaknya belajar mengenali dan mengelola emosi tersebut.

Sebaliknya, jika perasaannya sering diabaikan, anak bisa kesulitan memahami apa yang sedang dirasakannya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat anak lebih mudah meledak secara emosional atau justru kesulitan mengekspresikan perasaannya dengan sehat.

3. Rasa aman dan kepercayaan dirinya bisa menurun

Seorang anak duduk di samping papa yang sedang berkerja
Pexels/paveldanilyuk

Bagi anak kecil, perhatian dari orangtua bukan hanya soal kasih sayang. Respons sederhana seperti menoleh saat dipanggil atau mendengarkan ceritanya membantu anak merasa dirinya penting dan berharga.

Ketika kebutuhan emosional ini tidak terpenuhi secara konsisten, anak bisa tumbuh dengan rasa aman yang lebih rapuh dan kepercayaan diri yang lebih rendah.

Mereka mungkin lebih sering mempertanyakan apakah dirinya dicintai atau diterima oleh orang-orang di sekitarnya.

4. Anak menjadi lebih mudah cemas dan overthinking

Mama sedang bekerja dan sang anak bermain di belakangnya
Pexels/vitalygariev

Pengabaian yang terjadi terus-menerus dapat membuat tubuh anak berada dalam kondisi stres berkepanjangan.

Penelitian menunjukkan bahwa stres kronis akibat pengabaian dapat meningkatkan kadar hormon kortisol dalam tubuh. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memengaruhi cara otak merespons tekanan.

Tidak heran jika sebagian anak yang sering merasa tidak diperhatikan menjadi lebih mudah cemas, khawatir berlebihan, atau sensitif terhadap situasi tertentu.

5. Kemampuan fokus dan belajar dapat terganggu

Mama bekerja dan sang anak bermain di belakang
Pexels/vitalygariev

Menurut penelitian, pengabaian juga dapat memengaruhi area otak yang berkaitan dengan perhatian dan memori kerja (working memory).

Padahal kedua kemampuan ini sangat penting untuk proses belajar anak, mulai dari mengikuti instruksi sederhana hingga memahami pelajaran saat memasuki usia sekolah.

Karena itu, perhatian dan interaksi sehari-hari dari orangtua memiliki peran besar dalam mendukung perkembangan kemampuan kognitif anak.

6. Anak lebih sensitif terhadap penolakan

Papa diganggu anaknya saya sedang bekerja
Pexels/timurweber

Anak yang sering merasa diabaikan cenderung lebih peka terhadap berbagai bentuk penolakan.

Misalnya, mereka bisa merasa sangat sedih ketika tidak diajak bermain, tidak mendapat perhatian dari teman, atau menerima kritik kecil dari orang lain.

Hal ini terjadi karena otak mereka terbiasa berada dalam kondisi waspada terhadap ancaman sosial, sehingga respons emosinya menjadi lebih kuat dibandingkan anak lain.

7. Sulit percaya pada orang lain saat tumbuh besar

Papa bekerja di atas sofa dan sang anak bermain di lantai
Pexels/kseniachernaya

Hubungan pertama yang dipelajari anak adalah hubungan dengan orangtuanya.

Jika sejak kecil anak merasa kebutuhan emosionalnya tidak mendapatkan respons yang konsisten, ia bisa mengalami kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain di kemudian hari.

Anak mungkin menjadi lebih tertutup, takut ditolak, atau kesulitan membuka diri dalam hubungan pertemanan maupun hubungan sosial lainnya.

Kabar baiknya, membangun kedekatan emosional dengan anak tidak selalu membutuhkan hal besar atau mahal.

Respons sederhana seperti mendengarkan ceritanya, menjawab pertanyaannya, memeluk saat ia menangis, atau sekadar menoleh ketika dipanggil ternyata memiliki dampak besar bagi perkembangan otaknya.

Jadi, jika si Kecil sedang mencari perhatian Mama atau Papa hari ini, ingatlah bahwa momen-momen kecil tersebut bukan sekadar bentuk kasih sayang. Di baliknya, otak anak sedang belajar merasa aman, dicintai, dan tumbuh dengan lebih sehat. 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More