7 Tantangan Menghadapi Anak umur 1-3 Tahun

Siapkan hati dan banyak bersabar untuk menghadapi tantangan ini ya, Ma.

22 Agustus 2019

7 Tantangan Menghadapi Anak umur 1-3 Tahun
todaysparent.com

Memasuki umur batita, si Kecil tumbuh semakin pintar. Keingintahuan mereka semakin besar, dan mereka cenderung sudah memiliki keinginan sendiri. 

Jika dulu saat masih bayi, Mama dihadapkan dengan tantangan kurang tidur atau mendengar si Kecil menangis terus, di umur 1-3 tahun akan ada banyak hal yang lebih menantang yang harus Mama hadapi. 

Nah, buat Mama yang baru memiliki anak berusia 1-3 tahun, terdapat tujuh tantangan dalam menghadapi anak batita. Apa saja? Cek di Bawah ini, yuk!

1. Tantrum akan dialami anak usia batita

1. Tantrum akan dialami anak usia batita
parents.com

Anak usia 1-3 tahun, sudah memiliki keinginan sendiri dan dapat merasakan emosi, meski belum bisa mengontrolnya.

Di usia ini, Mama akan sering menghadapi si Kecil dengan emosinya yang berlebihan. Emosi ini biasa dikenal dengan tantrum. Tantrum sangat umum terjadi khususnya untuk anak umur 1-3 tahun.

Jangan heran jika saat sedang berada di tempat umum, si Kecil bisa menangis meledak-ledak hanya karena keinginannya tidak terpenuhi.

Namun, bukan berarti karena tidak tahan dengan sikap si Kecil ini lantas Mama jadi selalu mengikuti keinginannya. Mama perlu tegas dan mencari cara untuk mengalihkan perhatiannya.

Selain itu, tantrum juga bisa disebabkan karena anak sulit mengutarakan keinginannya kepada Mama. Keterbatasan bahasa bisa menjadi kendalanya.

Cobalah bacakan buku cerita sebelum tidur untuk melatih kemampuan berbahasa si Kecil agar ia mampu mengutarakan isi hatinya sehingga emosinya bisa terjaga.

Baca juga:

2. GTM akan dialami batita

2. GTM akan dialami batita
anasalwa.com

Meski Gerakan Tutup Mulut (GTM)bukan hanya dialami oleh anak umur 1-3 tahun. Tapi kebanyakan anak mengalaminya di umur batita.

Biasanya terjadi karena anak ingin mengeksplor berbagai macam rasa, peduli terhadap tampilan makanan, dan ingin meniru orang sekitarnya yaitu makan sendiri tanpa disuapi. Selain itu mereka juga bisa merasakan bosan terhadap rutinitas dan berujung pada GTM.

Dari sekian banyak tantangan yang dirasakan oleh seorang ibu, rata-rata menyatakan jika GTM adalah hal yang paling bikin stres! Eits, tapi jangan stres dulu, Ma. GTM terjadi karna berbagai faktor, Mama perlu meneliti satu-satu apa yang membuat Si Kecil menjadi GTM. 

Yang terpenting, jangan memaksakan makan ketika si Kecil sedang GTM ya, Ma. Anak bisa trauma dan malah membenci sesi makan jika dipaksa.

Baca juga:

3. Menyapih menjadi momen terpenting sekaligus tantangan Mama

3. Menyapih menjadi momen terpenting sekaligus tantangan Mama
onlinebabystore.com.au

Sesuai anjuran IDAI, umur 2 tahun adalah umur dimana si Kecil dikatakan cukup umur untuk berhenti minum ASI.

Meski menyapih dilakukan di umur 2 tahun, Mama perlu menyiapkan diri, mental, dan hati sedini mungkin. Menyapih itu bukan hanya beban yang akan dirasakan oleh si Kecil, tapi juga oleh Mama.

Siapa sih yang tidak sedih harus melepaskan si Kecil yang selalu bonding bersama Mama selama 2 tahun?

Menyapih benar-benar membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan komitmen bersama pasangan. Jadi selain Mama, Papa juga harus ikut andil dalam proses ini. 

Baca juga:

Editors' Picks

4. Waspada anak belajar berjalan

4. Waspada anak belajar berjalan
majalahpama.my

Pada umur ini, biasanya si Kecil baru bisa berjalan dan mengeksplor dunianya dengan cara berbeda dibanding saat mereka masih bayi. 

Mama perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap si Kecil lebih intens lagi. Gerakan mereka yang semakin cepat dan lincah, benar-benar dapat membuat kewalahan. 

Selain itu, Mama juga perlu mewaspadai setiap sudut meja, laci, benda tajam dan berbahaya, cipratan air di lantai, dan semua yg bisa membahayakan keselamatan si Kecil. Tidak ada lagi kata lengah di periode ini ya, Ma.

5. Toilet Training

5. Toilet Training
Kandoo Kids

Mengajarkan anak menggunakan toilet dapat dimulai sejak umur 1 tahun. Meski toilet training lebih maksimal jika di ajarkan saat si Kecil sudah bisa berbicara, tapi tidak ada salahnya mengenalkan toilet sejak umur 1 tahun.

Ketika anak sudah bisa berbicara, atau paling tidak mampu memberikan tanda pada Mama, anak Mama sudah mampu untuk bisa diajarkan toilet training.

Hal ini tentu tidak mudah dan pasti akan banyak kegagalan yang terjadi. Misal, anak tidak dapat menahan pipis atau poop sebelum sampai kamar mandi, anak lupa tidak memakai popok, dan sebagainya. Tapi segala sesuatu yang dibiasakan pasti akan dipelajari dan dipahami anak. Jangan menyerah ya, Ma! 

6. Mengatasi anak yang suka melempar, menjatuhkan, atau merusak barang

6. Mengatasi anak suka melempar, menjatuhkan, atau merusak barang
babycenter.com

Pada umur ini, selain suka mengeksplor barang-barang baru. Anak juga cenderung suka melakukan suatu tindakan hanya untuk melihat respon dari Mama atau Papa. 

Menjatuhkan atau melempar sebuah barang, dilakukan anak secara sengaja untuk mendapat perhatian. Terkadang respon berlebihan seperti teriak, marah, atau kecewa yang kita tunjukan pada si Kecil, justru membuatnya semakin penasaran untuk terus melakukannya.

Namun, tak selalu karena cari perhatian, saat anak menjatuhkan atau melempar barang, hal itu juga bisa terjadi karena mereka masih belum bisa mengontrol tenaga mereka sendiri. 

Jadi jangan langsung dimarahi ya Ma. Meski terlihat melelahkan harus memberitahu berulang-ulang, si Kecil tentu belajar sesuatu ketika kita dengan sabar mengambil kembali barang yang ia jatuhkan, atau ia lempar.

7. Menanyakan hal yang sama berulang kali

7. Menanyakan hal sama berulang kali
holeparent.com

Momen ketika si Kecil bisa mengucapkan kata pertama, tentu menjadi momen yang tidak akan terlupakan. Tapi setelah lancar berbicara, momen ini justru menjadi tantangan yang harus Mama dan Papa lewati.

Pasalnya, ketika anak sudah lancar berbicara, ia jadi dapat mengutarakan semua yang ada di otaknya. Dan rasa ingin tahunya yang besar membuat ia sering menanyakan pertanyaan berulang kali. 

Tugas Mama dan Papa adalah menjawab pertanyaan si Kecil sesingkat dan sejelas mungkin, supaya si Kecil tidak menanyakan hal yang sama berulang kali. 

Meski prakteknya akan terasa sangat sulit, tetap kendalikan emosi dan tetap sabar menghadapi si Kecil ya, Ma. Karena segala respon dan tindakan kita saat ini, akan mempengaruhi sikap dan sifat si Kecil di kemudian hari. 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;