Alasan Anak Terlalu 'Nempel' dan Bagaimana Cara Mengatasinya

Maunya sama Mama terus, normalkah?

17 Oktober 2019

Alasan Anak Terlalu 'Nempel' Bagaimana Cara Mengatasinya
Freepik/prostooleh

Selalu ada alasan di balik setiap tingkah yang dilakukan si Kecil. Termasuk saat ia memilih terus-terusan menempel Mama.

Perilaku ini bisa tergolong posesif. Biasanya, balita berumur 2 sampai 3 tahun sering berada di fase ini. Mereka akan 'nempel' dengan orang yang paling dekat dengannya.

Pertanda apakah perilaku seperti ini? Serta, apa yang harus dilakukan agar perilaku terlalu nempel ini bisa berakhir? Simak penjelasan lengkapnya yang telah dirangkum oleh Popmama.com:

1. Anak yang pemalu dan bertemperamen tinggi biasanya akan posesif

1. Anak pemalu bertemperamen tinggi biasa akan posesif
Freepik/senivpetro

Menurut peneliti senior dari asosiasi Invest in Kids di Toronto, Kanada, Carol Crill Russel, beberapa anak bisa jadi terlalu nempel dengan orangtuanya. 

Kedekatan atau 'nempel' ini memperlihatkan kualitas hubungan antara ibu dan anak. 

Anak-anak dengan sifat pemalu atau yang memiliki temperamen tinggi lebih terlihat nempel pada orangtuanya. Mereka membutuhkan kedekatan untuk membantunya berkembang dan menuntun jalan. 

Hal ini tergolong normal, tak perlu panik berlebihan ya, Ma.

2. Hanya Mama yang bisa diandalkan

2. Ha Mama bisa diandalkan
Freepik/prostooleh

Menurut Dadgold.com, anak yang terlalu nempel dengan Mama menganggap hanya ibunya yang mampu melakukan segalanya.

Mama selalu ada saat si Kecil takut, atau selalu menolong saat si Kecil terluka, atau selalu menemaninya saat ia sakit. Dari sana, akan timbul pemahaman bahwa hanya Mama yang bisa membantunya.

Jika itu masalahnya, coba dilihat lagi ya, Ma. Apakah Mama selalu mengurus segala sesuatu untuk si Kecil seorang diri? Tak ada salahnya mendelegasikan beberapa tugas ringan ke Papa atau nenek serta kakeknya.

Hal ini tak hanya meringankan tugas Mama, namun menumbuhkan rasa percaya anak. Ia akan melihat bahwa orang lain juga mampu melakukan apa yang Mama lakukan. 

Lalu, bagaimana caranya untuk mengatasi anak yang terlalu nempel dengan Mama?

3. Hindari menarik diri

3. Hindari menarik diri
Pixabay/Adinavoicu

Menarik diri dari anak yang sedang sangat menempel pada Mama bukanlah hal yang bagus. Yang akan terjadi adalah, mereka akan lebih panik dan makin ingin nempel pada Mama. 

Semakin Mama menarik diri, semakin lengket ia akan terus berada di dekat Mama. Hal ini disebabkan oleh perasaan makin takut kehilangan sang Mama. 

Editors' Picks

4. Perbanyak waktu keluarga

4. Perbanyak waktu keluarga
Freepik/prostooleh

Mungkin selama ini tidak sadar bahwa semua hanya dilakukan oleh Mama saja. Tak ada salahnya memperbanyak waktu si Kecil bersama Papa. 

Delegasikan beberapa hal sederhana untuk dilakukan oleh Papa agar si Kecil bisa mengerti bahwa ia bisa mengandalkan orang lain.

Tak lupa, ajak si Kecil lebih banyak bermain bersama Papa supaya ia bisa mencari sumber kesenangan lain. 

5. Kenalkan dengan perasaan takut dan khawatir

5. Kenalkan perasaan takut khawatir
tulsapediatricsleepconsulting.com

Perasaan takut kehilangan yang berujung pada sikap menempel pada Mama mungkin belum dikenali oleh si Kecil. Kenalkan dengan perasaan tersebut.

Saat mereka terlalu menempel karena takut kehilangan Mama, kenalkan bahwa itu adalah rasa takut. Serta, ajarkan juga cara untuk mengatasi rasa tersebut.

Dari sana, ia bisa mengenali perasaan yang dialami dan belajar bagaimana mengatasi perasaan tersebut. 

6. Bicara sebelum pergi

6. Bicara sebelum pergi
Freepik/Jcomp

Saat Mama harus meninggalkan ia sebentar, bicaralah dengan baik dan jujur. Katakan Mama harus ke mana dan akan memakan waktu berapa lama. 

Pastikan untuk menepati janji Mama. Dengan begitu, ia akan belajar percaya dengan perkataan orang lain dan jadi anak yang lebih percaya diri. 

Selama Mama pergi, bisa meminta Papa atau anggota keluarga lain untuk menemani si Kecil. Dengan begitu, mereka bisa mendekatkan diri sekaligus anak bisa belajar bersosialisasi.

Menghadapi anak yang terlalu nempel memang butuh banyak kesabaran. Namun nikmati saja, karena masa-masa ini tidak akan terjadi selamanya. 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!