- Sensitif terhadap kemasan makanan tertentu
- Susah menerima makanan dengan bentuk berbeda dari biasanya
- Marah kalau warna makanan tidak sesuai ekspektasi, misalnya roti panggang harus kecokelatan, kalau putih saja bisa bikin anak kecewa berat!
Anak Picky Eater Bisa Jadi Gangguan Sensorik, Ini Penjelasan Dokter

Urusan memberi makan anak itu memang sering kali bikin kita pusing tujuh keliling ya, Ma. Entah soal pemilihan menu harian, atau soal si Kecil yang menolak dan memilih makanan yang diberikan.
Tenang, Mama nggak sendirian. Banyak oran tua menghadapi anak picky eating. Namun, tahukah Mama bahwa di balik itu, bisa jadi ada masalah sensorik yang membuat anak benar-benar tidak nyaman dengan makanan tertentu?
Dokter spesialis anak, dr. Citra Amelinda, SpA, membagikan fakta penting bahwa makan adalah salah satu aktivitas sensorik paling kompleks yang dilakukan manusia.
Nah, biar lebih paham dan bisa bantu optimalkan tumbuh kembang si Kecil lewat makanan bernutrisi, berikut Popmama.com rangkumkan penjelasan dr. Citra untuk Mama.
1. Mengenal apa itu sensory food aversion

Anak dengan sensory food aversion, atau penolakan terhadap makanan karena faktor sensorik, itu bukan hanya pilih-pilih makanan saja, Ma.
Mereka punya respons negatif yang nyata terhadap, rasa, tekstur, tampilan, aroma, suhu, bahkan sampai ke cara penyajian.
Nah, kalau anak mama mengalami hal seperti ini, akibatnya ia bisa menolak makan, muntah, atau bahkan menangis hanya karena melihat makanan tertentu.
Ini bukan karena mereka manja, Ma, tapi karena sistem sensorik mereka bekerja secara berlebihan terhadap rangsangan dari makanan.
2. Ciri anak dengan isu sensorik saat makan

Nah, biar Mama lebih paham, dr. Citra juga bagikan ciri yang bisa kita kenali ketika anak alami gangguan sensorik saat makan. Ini bisa dilihat berdasarkan indra yang terlibat, yaitu:
1. Penglihatan (mata)
2. Sentuhan (kulit & mulut)
- Hanya mau makanan yang lembut dan meleleh di mulut, atau sebaliknya, hanya mau makanan renyah/keras
- Ada yang harus menyentuh makanan dulu sebelum mau makan, tapi ada juga yang langsung menolak menyentuh sama sekali
- Tidak suka atau justru sangat suka suhu ekstrem, seperti dingin, panas, atau hangat
3. Gerakan (keseimbangan & postur)
- Sulit duduk tenang di meja makan
- Sering bergerak, kaki menggantung, atau lebih suka makan sambil berjalan ke sana kemari
4. Suara (pendengaran)
- Mudah kesal atau teralihkan oleh suara sekitar, termasuk suara orang lain makan
- Menghindari makanan renyah karena bunyi "kriuk-kriuk" mengganggu, atau makan sangat perlahan agar tidak berbunyi
5. Penciuman (hidung)
- Mual hanya karena mencium aroma tertentu
- Sering mengeluh atau rewel mencium bau makanan, bahkan sebelum mencicipinya
6. Pengecapan (lidah)
- Suka memuntahkan makanan setelah mencoba
- Sering mengusap-usap lidah (seperti mau membersihkan sisa rasa)
- Minum terlalu banyak atau terlalu cepat untuk menghilangkan rasa makanan
- Baru menolak makanan setelah makanan menyentuh lidah, sebelumnya mungkin masih mau
- Selalu minta saus yang sama (misal saus tomat) karena hanya mau rasa yang familiar setiap hari
- Tidak tertarik kalau makanan terlalu hambar
Dari masing-masing ciri di atas sesuai dengan indra, anak mama ada mengalami di antaranya nggak, nih?
3. Ini yang harus Mama lakukan

Kalau si Kecil mungkin memiliki isu sensorik, yang perlu Mama lakukan sesuai arahan dr. Citra adalah jangan pernah memaksa atau memarahi anak saat ia menolak makan, karena paksaan hanya akan membuat makan jadi pengalaman menakutkan dan memperburuk keengganannya ke depan.
Sebaliknya, cobalah menjadi detektif bagi si Kecil dengan mencatat pola penolakannya, misalnya makanan apa, warna, tekstur, suhu, atau aroma apa yang memicu reaksi negatif. Nah, dari situ Mama jadi lebih paham pemicu sensoriknya.
Setelah tahu, barulah Mama bisa ajak anak berkenalan dengan makanan baru secara perlahan tanpa tekanan. Bisa mulai dari yang paling sederhana, seperti membiarkan anak melihat makanan di piring, lalu menyentuhnya, mencium baunya, dan baru mencicipi sedikit demi sedikit.
Pastikan setiap prosesnya tidak terburu-buru mengharapkan anak langsung menghabiskan porsi besar ya, Ma. Yang terpenting adalah membangun hubungan positif dengan makanan, bukan memenangkan pertarungan di meja makan.
Terakhir, jangan ragu untuk konsultasikan ke dokter spesialis anak atau terapis okupasi jika memang ciri sensorik ini sangat terlihat dan mulai mengganggu pertumbuhan atau berat badan anak.
Dengan penanganan profesional, nantinya anak akan lebih terbantu secara bertahap, serta tetap menjaga kenyamanan dan kebahagiaannya.
Dengan kesabaran dan pendekatan yang tepat, perjalanan makan si Kecil pasti bisa dilalui bersama untuk optimalkan tumbuh kembangnya.


















