“Menambahkan momen-momen kecil untuk menjalin koneksi sebelum atau sesudah sekolah dapat membuat perbedaan besar,” kata Anne Welsh.
Cara Mengatasi Anak Mogok Sekolah usai Libur Panjang Menurut Psikolog

- Psikolog menjelaskan bahwa mogok sekolah setelah libur panjang adalah hal wajar karena anak butuh waktu beradaptasi kembali dengan rutinitas belajar yang terstruktur.
- Setiap jenjang usia memiliki tantangan berbeda, mulai dari kebutuhan rasa aman pada anak TK hingga tekanan akademik dan sosial pada siswa SMP dan SMA.
- Orangtua disarankan menjaga komunikasi terbuka, menciptakan rutinitas konsisten, serta memberi dukungan emosional agar anak lebih siap dan semangat kembali ke sekolah.
Setelah menikmati libur panjang, tak sedikit anak yang mengalami kesulitan untuk kembali ke rutinitas sekolah. Perubahan suasana dari waktu santai di rumah menuju aktivitas belajar yang terstruktur sering kali memicu rasa enggan, bahkan penolakan.
Kondisi ini kerap dikenal sebagai ‘mogok sekolah’ pasca libur, dan bisa terjadi pada anak usia berapa pun. Menurut psikolog, situasi ini sebenarnya wajar karena anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali dengan ritme harian yang berbeda.
Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, mogok sekolah bisa berdampak pada motivasi belajar hingga kondisi emosional anak.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut terkait cara mengatasi anak mogok sekolah usai libur panjang menurut psikolog melansir dari laman Parents.
Table of Content
1. Anak usia taman kanak-kanak (TK)

Anak-anak di usia TK sering kali merasa lelah atau kewalahan ketika harus kembali ke lingkungan sekolah, apalagi setelah libur panjang.
Selain itu, mereka juga kerap mengalami kesulitan saat harus berpisah dari orangtua, sehingga muncul penolakan untuk berangkat sekolah.
Psikolog Anne Welsh menjelaskan bahwa saat anak usia TK menolak sekolah, sebenarnya mereka sedang mencari rasa aman dan kedekatan dengan orangtua.
Di sisi lain, anak-anak juga membutuhkan rutinitas yang konsisten. Ahli neuropsikologi Sanam Hafeez menyarankan orangtua untuk menciptakan kebiasaan pagi yang sama setiap hari, seperti sarapan bersama atau memiliki salam khusus yang menyenangkan sebelum berangkat sekolah. Hal sederhana ini bisa membantu anak merasa lebih siap dan nyaman.
2. Anak usia sekolah dasar (SD)

Memasuki usia SD, anak mulai belajar mandiri dan memiliki preferensi sendiri, termasuk terhadap pelajaran maupun lingkungan sosialnya.
Tak jarang, rasa tidak suka terhadap hal-hal tersebut membuat anak jadi enggan kembali ke sekolah.
Menurut Hafeez, melibatkan anak dalam keputusan kecil sehari-hari bisa membantu meningkatkan rasa kontrol dan motivasi mereka.
Misalnya, membiarkan anak memilih bekal makan siang yang ingin dibawa ke sekolah. Selain itu, orangtua juga dianjurkan untuk mengajukan pertanyaan terbuka tentang pengalaman anak di sekolah.
Contohnya seperti, “Apa yang membuatmu tertawa hari ini?” atau “Apa hal baru yang kamu pelajari?” Pendekatan ini dapat membantu anak lebih nyaman berbagi cerita.
Direktur Klinis Kesehatan Perilaku di Nemours Children's Health, Monica Barreto, juga menekankan pentingnya pola tidur yang sehat.
Salah satu caranya adalah dengan membatasi penggunaan gadget di malam hari agar anak bisa beristirahat dengan cukup.
3. Anak usia sekolah menengah pertama (SMP)

Masa SMP menjadi fase yang lebih kompleks bagi anak. Mereka mulai menghadapi tekanan akademik yang lebih tinggi, dinamika pertemanan yang lebih rumit, hingga mulai mengenal ketertarikan romantis.
"Siswa SMP cenderung merasakannya lebih intens, terutama jika ada drama dengan teman, tekanan untuk berprestasi, atau guru yang mereka rasa tidak memahami mereka," kata Hafeez.
Dalam kondisi ini, orangtua perlu hadir sebagai tempat yang aman bagi anak untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Selain itu, membantu anak menghubungkan pelajaran dengan minat dan passion mereka juga bisa membuat aktivitas sekolah terasa lebih bermakna serta menyenangkan.
4. Anak usia sekolah menengah atas (SMA)

Di jenjang SMA, tekanan untuk meraih kesuksesan semakin terasa, terutama karena anak mulai memikirkan rencana kuliah dan karier di masa depan.
Hal ini bisa membuat mereka merasa pelajaran di sekolah tidak relevan dengan tujuan hidupnya, sehingga muncul rasa malas atau enggan bersekolah.
"Hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk mempromosikan hubungan yang sehat dengan sekolah adalah menumbuhkan pola pikir berkembang (growth mindset)," kata Hafeez.
Orangtua bisa menanamkan pemahaman bahwa sekolah adalah tempat untuk mencoba, belajar, bahkan gagal tanpa rasa takut.
Selain itu, penting juga memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi dan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan tetap memberikan dukungan saat dibutuhkan.
Pada akhirnya, cara mengatasi anak yang mogok sekolah perlu disesuaikan dengan usia serta kebutuhan emosional mereka.
Kunci utamanya adalah menjaga komunikasi tetap terbuka, memahami alasan di balik penolakan anak, dan memberikan dukungan yang tepat agar anak bisa kembali menjalani aktivitas sekolah dengan semangat.
Semoga informasinya membantu ya, Ma!


















