Cara Menangani Sifat Pemarah pada Balita di Usia Preschool

Balita sering sulit mengontrol emosinya, terutama pada saat memasuki usia prasekolah

20 Oktober 2021

Cara Menangani Sifat Pemarah Balita Usia Preschool
Pexels/mohamed abdelghaff

Balita yang berada di masa preschool sering memiliki emosi yang masih belum dapat dikelola dengan baik. Tidak jarang Mama melihatnya menjadi lebih sering marah-marah bahkan secara tidak sadar bersikap kasar pada saudaranya.

Namun, Mama tidak perlu khawatir karena hal ini merupakan tindakan yang wajar dan sering terjadi pada anak-anak yang memasuki usia sekolah. Bentuk dari tindakan agresif ini merupakan bagian dari perkembangannya yang terjadi dalam kurun waktu sementara.

Si Kecil bertindak seperti ini biasanya karena masih kurangnya keterampilan bahasa yang mereka miliki.

Menurut Patricia Mikell, asisten dari direktur Graham Windham Manhattan Mental Health Center dan terapis anak New York City, menyebutkan bahwa terdapat beberapa anak-anak yang mengekspresikan keinginannya dengan cara memukul orang lain.

Kebiasaan seperti ini merupakan murni impulsif alami yang dialami oleh anak ketika mereka merasa kesulitan dalam mengatur emosi.

Lalu, bagaimana cara menanganinya?

Berikut Popmama.com rangkum cara menangani sifat pemarah pada balita saat usia pra sekolah.

1. Menunjukkan ketidaksetujuan terhadap tindakannya

1. Menunjukkan ketidaksetujuan terhadap tindakannya
Pexels/Monstera

Langkah pertama yang dapat dilakukan ketika anak tiba-tiba marah adalah, Mama dapat menunjukkan ketidaksetujuan terhadap tindakannya. Terlebih ketika ia mulai melempar barang atau mulai memukul saudaranya.

Namun, Mama dapat melakukan ini bukan dengan cara memarahinya. Tetapi dapat mengajaknya berbicara dan jelaskan bahwa hal tersebut tidak baik dilakukan.

Jelaskan secara tegas dan berulang-ulang setiap kali anak memulainya guna membuat anak memahami hal ini, sehingga anak dapat mengurangi dan belajar mulai mengontrol emosinya tersebut.

2. Bawa anak atau jauhkan ia saat sedang marah

2. Bawa anak atau jauhkan ia saat sedang marah
Pexels/August de Richelieu

Cara lain yang dapat Mama lakukan yaitu, Mama dapat menjauhkan anak sementara waktu sambil mengajaknya berbicara. 

Ketika anak mulai kesal dan menjadi marah, bahkan ia sudah mulai melempar barang atau mulai memukul saudaranya maka bawalah ia ke sudut atau ke tempat yang lebih tenang.

Kemudian, beri pemahaman bahwa tindakan memukul, menggigit bahkan melempar barang tersebut merupakan tindakan yang tidak baik. Tindakan ini akan memberi anak sedikit waktu untuk dapat tenang kembali.

Editors' Picks

3. Cegah serangan anak

3. Cegah serangan anak
Pexels/Juan Pablo Serrano Aren

Ketika anak mulai melancarkan serangannya dengan melempar atau memukul, maka Mama dapat mencegahnya dengan menahan atau menangkap tangannya sesaat sebelum ia mulai melempar serangannya.

Dengan cara ini tentu akan membuat anak jadi menarik perhatiannya dan akan menghentikan tindakannya tersebut. Sesaat setelah ini barulah kemudian Mama dapat mengajaknya berbicara atau mengalihkan perhatiannya dengan hal yang lain.

Hal ini berguna untuk menghalangi anak dari serangan marahnya yang tiba-tiba.

4. Minta maaf atas kesalahan anak

4. Minta maaf atas kesalahan anak
Pexels/Ron Lach

Ketika suasana hati anak tiba-tiba berubah, terkadang saat bermain dengan teman sebayanya ia pun dapat menjadi marah dan memukul temannya tersebut. 

Pada saat situasi ini terjadi, selain mengajaknya untuk meminta maaf, Mama juga dapat mengalihkan perhatiannya kepada korban atau teman anak. Kemudian, Mama dapat meminta maaf kepada teman sebayanya karena telah memukulnya.

Pastikanlah saat Mama meminta maaf si Kecil dapat mendengarnya. Hal ini akan membantu anak agar dapat merasakan simpati dan empati kepada teman sebayanya secara bertahap.

Anak-anak yang usianya lebih besar umumnya tidak melaporkan tindakan tersebut karena takut apabila diolok-olok, namun berbeda dengan anak yang memasuki usia preschool. Biasanya kebanyakan dari mereka akan banyak mengadu.

Si Kecil umumnya masih belum mengerti tindakan yang ia lakukan termasuk intimidasi, namun anak-anak yang memiliki sifat pendiam biasanya akan merasa takut, menangis, bahkan menarik dirinya untuk tidak pergi ke sekolah.

5. Jangan memarahi atau memukul balik

5. Jangan memarahi atau memukul balik
Pexels/Nataliya Vaitkevich

Ketika anak mulai menunjukkan bentuk emosionalnya dengan marah atau melakukan serangan. Maka tindakan yang tepat yang dapat dilakukan pada anak untuk menunjukkan bahwa tindakan tersebut tidak diterima adalah dengan tidak memarahinya balik.

Tidak hanya itu, apabila si Kecil tiba-tiba mulai kesal atau merengek ketika ia mulai bermain dengan teman sebayanya, misalnya seperti temannya yang mulai mengambil alih permainannya.

Pada langkah ini Mama dapat mengajarkan pada anak untuk dapat menjelaskan kepada temannya agar dapat bermain secara bergantian, bukan dengan melakukan serangan seperti marah atau memukulnya. 

Memarahi kembali adalah cara yang tidak efektif untuk menunjukkan kepada si Kecil bagaimana perasaan tindakannya kepada orang lain. Sebaliknya, itu menyampaikan bahwa perilaku semacam ini dapat diterima.

Tindakan ini akan membantunya agar dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.

6. Menghindari bermain dengan cara yang kasar

6. Menghindari bermain cara kasar
Pexels/Monstera

Ketika si Kecil sedang bermain, ajarkanlah kepadanya agar dapat bermain dengan baik dan tidak menyerang teman sebayanya secara kasar. 

Bermain dengan cara yang kasar tentu akan membuat anak menjadi salah paham dan akhirnya menjadi bermasalah dengan teman sepermainannya. Jika si Kecil melakukan penyerangan kepada temannya maka laranglah dan katakan bahwa tindakan tersebut dapat menyakitinya.

Hal ini akan membuat anak semakin lama menjadi mengerti bahwa tindakannya tersebut salah.

7. Mengajarkan anak mengekspresikan kata-kata

7. Mengajarkan anak mengekspresikan kata-kata
Pexels/Eren Li

Si Kecil yang memasuki usia preschool masih belum dapat berkomunikasi dengan baik. Terkadang mereka pun hanya dapat mengekspresikan kata-kata sederhana untuk menunjukkan keinginan mereka.

Apabila Mama menghargai dan membantu anak dalam menentukan kata-katanya pada saat berkomunikasi tentu akan membuat anak menjadi menyadari bahwa kata-kata yang dikeluarkan merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhannya daripada melakukan kekerasan.

Untuk melatih berbicara, Mama juga dapat mengajak anak bermain dengan mempraktekkannya menggunakan boneka atau mainan. Kemudian bermainlah seolah-olah boneka atau mainan tersebut memang sedang berbicara.

Mama juga dapat memberikan kesempatan yang sama pada anak agar anak dapat berlatih dan mulai dapat menunjukkan ekspresinya dengan berbicara.

Nah, itulah berbagai cara mengatasi sifat pemarah anak pada masa usia preschool. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Mama dalam mengasuh si Kecil ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.