Waspadai Bipolar pada Anak, Gejalanya Mirip Autisme

Bipolar tidak hanya menyerang orang dewasa lho, Ma!

9 Januari 2019

Waspadai Bipolar Anak, Gejala Mirip Autisme
Pixabay/mandyme27

Bipolar termasuk ke dalam penyakit mental serius, yang sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya.

Suasana hati naik-turun mendadak, penderita bisa berubah seketika dari senang menjadi marah, atau ceria kemudian sedih.

Dilansir dari bphope.com, Bipolar ternyata tak hanya menjangkiti orang dewasa, tapi bisa terjadi pada anak-anak bahkan batita.

Pada anak, gejala bipolar mirip dengan tanda awal autisme dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Dissorder). Rata-rata anak kecil mengalami mood swing hampir setiap hari.

Tapi naik-turunnya mood pada anak yang mengalami bipolar berbeda dengan mood swing biasa.

Anak yang mengidap bipolar sejak kecil perlu terapi dan penanganan sesegera mungkin. Jika dibiarkan, ia akan kesulitan mengelola emosi saat memasuki usia remaja.

Lalu bagaimana mengidentifikasi tanda-tanda awal bipolar pada anak?

Simak ulasannya di bawah ini yuk, Ma!

1. Mengalami fluktuasi mood

1. Mengalami fluktuasi mood
Pixabay/ikon

Hampir semua balita sering mengalami fluktuasi mood, sehingga gejala bipolar yang satu ini sulit diamati. Anak kecil mudah bosan dengan lingkungan dan situasi di sekitarnya.

Tapi mudah juga tertarik pada satu hal, lalu kembali ceria seperti semula. Poin yang perlu Mama amati adalah, apakah perubahan mood-nya terjadi secara mendadak?

Jika perubahan mood mendadak sering terjadi, perbanyaklah pendekatan secara emosional.

Amati juga apakah fenomena ini hilang dengan sendirinya seiring pertambahan usia.

Konsultasikan segera dengan psikiater atau dokter ahli kejiwaan jika terus berlanjut.

2. Menunjukkan kemarahan dan kebahagiaan yang berlebih

2. Menunjukkan kemarahan kebahagiaan berlebih
Pixabay/superkiki

Pernah mendengar istilah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Dissorder)?

ADHD sama dengan hiperaktif, di mana seorang anak terlalu berlebihan mengekpresikan emosinya.

Ia bisa menjadi tantrum saat sedang marah, atau terlalu bersemangat ketika bahagia. Banyak yang menyangka fenomena ini adalah gejala autisme.

Padahal bisa menjadi awal bipolar juga, lho!

Editors' Picks

3. Perubahan drastis prestasi di sekolah

3. Perubahan drastis prestasi sekolah
Pixabay/masterstudio

Selain dua gejala di atas, setelah si Kecil memasuki usia sekolah akan muncul tanda lain.

Jika prestasi belajarnya di sekolah mengalami perubahan drastis tanpa alasan jelas, Mama perlu waspada pada kondisi kejiwaannya.

Tidak selalu negatif, perubahan prestasi belajar bisa juga ke arah positif.

Misal, si Kecil lemah dalam kegiatan berhitung sehingga sering mendapat nilai jelek pada mata pelajaran matematika.

Kemudian dalam waktu singkat, ia jadi semangat belajar berhitung dan mampu menyelesaikan soal matematika dengan baik.

Mungkin Mama dan Papa seketika bangga.

Tapi jangan puas dulu, cari tahu kenapa si Kecil bisa berubah drastis seperti ini.

4. Menunjukkan respon tidak wajar pada beberapa penyakit

4. Menunjukkan respon tidak wajar beberapa penyakit
Pixabay/sasint

Gejala bipolar yang satu ini sangat mudah diamati.

Anak-anak masih polos dan sulit menyembunyikan perasaan. Maka ketika ia terserang penyakit, tubuhnya menjadi lemas dan tidak bersemangat.

Selain itu, ia juga mudah mengeluhkan rasa sakit jika ada bagian tubuhnya yang terluka.

Mama perlu waspada ketika si Kecil menunjukkan respon tidak wajar pada penyakit yang dideritanya.

Ia tetap lincah dan aktif meski sedang demam, padahal mestinya ia lemas tak bersemangat.

Atau, saat kakinya terluka akibat jatuh, bukannya mengaduh kesakitan ia malah terus asyik berlarian.

5. Anggota keluarga ada yang mengidap bipolar

5. Anggota keluarga ada mengidap bipolar
Pixabay/RyanMcGuire

Bipolar bukanlah penyakit genetik tapi dapat dipengaruhi dari hubungan keluarga.

Jika dalam rumah yang sama ada satu anggota keluarga mengidap bipolar, hal ini bisa berimbas pada kondisi kejiwaan yang lain terutama anak.

Usia anak-anak sangat mudah meniru tingkah orang di sekitarnya.

Sehingga apa yang dilakukan si pengidap bipolar memberi sugesti serupa pada si Kecil.

Mama tidak perlu secara frontal memisahkan si Kecil dari kerabat yang mengidap bipolar. Karena tindakan ini bisa melukai hati si penderita dan memperparah kondisi kejiwaannya.

Cukup dengan mengawasi lebih ketat, dan baru mengambil tindakan tegas jika situasinya mengkhawatirkan.

Jika tanda-tanda di atas dialami oleh anak mama, sebaiknya Mama melakukan konsultasi kepada psikiater agar anak mendapatkan penanganan khusus.

Baca juga: Penting! Kenali Gejala, Penyebab dan Pengobatan ADHD