5 Langkah untuk Mencegah Anak Berbuat Curang

Karena juara sejati tidak pernah curang

21 Juli 2020

5 Langkah Mencegah Anak Berbuat Curang
Freepik/asierromero

Mama pasti mau si Kecil aktif dan percaya diri untuk mengikuti berbagai lomba, tentunya dengan menjalankan kompetisi yang sehat dan bebas curang.

Mama tentu tidak mau anak Mama dicurangi temannya, tetapi bagaimana kalau yang curang adalah anak Mama sendiri?

Melansir Parents, biasanya anak usia 5 tahun sudah mulai bisa berbuat curang.

Anak di bawah 5 tahun juga bisa berbuat curang, namun bisa mereka hanya berusaha bermain, belum bermaksud melakukan tindakan buruk.

Sedangkan anak usia 5 sampai 7 tahun, sudah menganggap curang sebagai cara pintas untuk mengalahkan lawan. 

Curang yang dimaksud bisa berarti banyak, bisa curang saat bermain, bisa juga curang dalam mengerjakan soal di sekolah (mensontek).

Lawrence Balter, PhD, psikolog anak dari New York, mengatakan pada Parents bahwa anak usia 5 sampai 7 tahun biasanya sudah tahu kalau mereka melakukan hal yang salah, tetapi mereka tidak peduli.

Sedangkan anak usia 8 tahun sudah sangat mengerti kalau curang adalah tindakan yang salah.

Jika mereka tetap curang, maka artinya ia memang sangat ingin menang dan tidak mau kalah.

Akibatnya fatal, karena anak lain bisa melabeli mereka dengan “tukang nyontek” atau sebutan buruk lainnya. Kalau sudah begini, anak bisa minder dan sulit bergaul ya, Ma.

Nah, sebelum semua itu terjadi, sebaiknya Mama menerapkan beberapa cara mudah untuk mencegah anak berbuat curang di kemudian hari.

Apa saja cara tersebut? Ikuti langkah-langkah dari Popmama.com di bawah ini yuk, Ma.

1. Beri contoh yang baik

1. Beri contoh baik
Freepik/Phanuwatnandee

Lihat pada diri Mama sendiri, apakah Mama atau Papa selama ini sering curang? Apakah jika kasir memberi kembalian lebih banyak, Mama akan mengembalikannya? Apakah Mama sering curang agar penghasilan Mama berlipat ganda? Jika tidak, maka Mama sudah memberikan beberapa contoh yang baik untuk si Kecil agar tidak tumbuh menjadi anak yang curang.

Ingat, anak adalah peniru ulung. Baik sikap baik maupun buruk, anak bisa menirunya.

Maka jadilah contoh yang baik, dan beritahukan si Kecil kalau berbuat curang tidak akan menjadikannya seorang pemenang.

Editors' Picks

2. Tekankan kalau menang bukanlah segalanya

2. Tekankan kalau menang bukanlah segalanya
Freepik/freephoto

Biasanya anak berbuat curang karena ia ingin menang, atau tidak mau kalah. Bilang pada si Kecil, “Apa hebatnya jadi pemenang, kalau ternyata menangnya karena berbuat curang?”

Anak harus tahu kalau menang bukanlah segalanya, dan Mama tidak bangga kalau anaknya menang karena curang. Mama sudah cukup bangga jika si Kecil berani berkompetisi, berani mengikuti aneka lomba. Menang kalah itu biasa, dan anak akan selalu jadi pemenang di hati Mama. “Ingat, menang bukan segalanya, Nak.”

3. Turunkan ekspektasi

3. Turunkan ekspektasi
Freepik/Prostooleh

Ada kalanya anak mungkin panik karena lawan-lawannya di sebuah kompetisi sangat hebat dan sulit dikalahkan.

Saking paniknya, anak mulai memikirkan cara-cara curang agar bisa menang.

Sekali lagi, apalah artinya menang jika harus berbuat curang?

Kalau sudah dalam posisi seperti ini, ajarkan anak untuk menurunkan ekspektasi dan meningkatkan motivasi.

Anak harus tahu kalau terlalu berharap menang bisa menurunkan motivasi, yang justru membuatnya tampil kurang maksimal saat berlomba.

Tidak ada salahnya untuk menurunkan ekspektasi, sehingga anak tidak terlalu sibuk mengkhawatirkan kekalahan, dan bisa lebih fokus untuk tampil semaksimal mungkin.

4. Ingatkan anak untuk selalu melakukan hal yang benar

4. Ingatkan anak selalu melakukan hal benar
Freepik/Freephoto

Anak suka untuk merasa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar. Untuk itu, penting bagi Mama untuk membuat si Kecil mampu menghargai kejujuran.

Beri semangat anak untuk melakukan hal yang benar, dan mengadopsi kecintaan untuk belajar dan berani mencoba berbagai hal baik.

Beri anak beberapa kalimat motivasi seperti, “Kemenangan hanya akan terasa hebat jika kamu melakukannya dengan benar.” Dengan begitu, anak akan terinspirasi untuk melakukan hal benar, dan berani berkompetisi tanpa curang.

5. Ajarkan cara menerima kegagalan

5. Ajarkan cara menerima kegagalan
Freepik/Freephoto

Sebagai contoh yang baik, tidak ada salahnya jika Mama dan Papa juga pernah gagal dalam berkompetisi.

Namun sekali lagi, kalah lomba tidak akan terasa begitu pahit dibanding menang karena sudah berbuat curang.

Ajarkan pada anak kalau kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kegagalan justru bisa membangkitkan Mama menjadi sosok yang lebih kuat lagi, dan akhirnya Mama bisa memenangkan lomba tersebut.

Beri tahu anak, kalau orang hebat sekelas Albert Einstein pun pernah gagal, dan lihat betapa gigih ia melawan kegagalan hingga namanya bisa selalu diingat hingga saat ini.

Intinya, anak tidak boleh takut gagal, karena rasa takut akan kegagalan itulah yang memicu anak untuk melakukan hal curang.

Itulah 5 langkah mencegah anak dari perbuatan curang. Terus menginspirasi si Kecil untuk tidak berbuat curang ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.