7 Penyebab Kanker Paru-Paru yang Bisa Terjadi dari Lingkungan

- Perokok aktif menyumbang 80-90% kasus kanker paru-paru, dengan risiko 15-30 kali lebih tinggi dibanding non-perokok.
- Perokok pasif juga berisiko terkena kanker paru, dengan asap rokok membawa zat berbahaya ke paru-paru.
- Paparan radon, bahan kimia di tempat kerja, riwayat keluarga, terapi radiasi dada, dan diet tertentu juga dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.
Kanker paru-paru termasuk salah satu penyakit paling mematikan dan sering datang tanpa disadari. Banyak orang mengira penyakit ini hanya menyerang perokok, padahal risikonya bisa muncul dari berbagai faktor lain.
Mengetahui risiko sejak dini penting supaya Mama bisa lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan. Kesadaran sejak awal membantu melindungi kesehatan paru-paru dan keluarga tercinta.
Berikut Popmama.com rangkum berdasarkan sumber Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tentang apa saja penyebab kanker paru-paru yang perlu Mama ketahui, agar bisa mulai menjaga paru-paru lebih baik sejak sekarang.
Table of Content
1. Perokok aktif

Merokok tetap menjadi penyebab utama kanker paru-paru, menyumbang sekitar 80–90% kasus di seluruh dunia. Tidak hanya rokok, cerutu dan pipa juga membawa risiko serupa. Setiap tarikan asap membawa ratusan zat kimia berbahaya, termasuk yang bisa memicu kanker.
Para perokok memiliki risiko 15–30 kali lebih tinggi terkena kanker paru dibanding orang yang tidak merokok sama sekali. Risiko ini meningkat seiring jumlah rokok yang dikonsumsi dan lamanya kebiasaan merokok.
Berhenti merokok adalah cara paling efektif menurunkan risiko. Bahkan mereka yang berhenti di usia 50–60 tahun tetap bisa menurunkan kemungkinan terkena kanker paru dibanding yang terus merokok.
2. Perokok pasif

Bukan hanya perokok aktif, orang yang sering menghirup asap rokok orang lain juga berisiko terkena kanker paru. Di AS, 2–3 ribu orang meninggal tiap tahun akibat perokok pasif, sementara di Indonesia menurut data dari WHO sekitar 1,2 juta kematian terkait paparan asap rokok.
Asap rokok yang dihirup orang lain tetap membawa zat karsinogenik ke paru-paru. Risiko ini berlaku untuk anak-anak, pasangan, atau rekan kerja yang berada di dekat perokok.
Melindungi diri dari asap rokok adalah langkah penting, terutama di rumah atau lingkungan tertutup. Memastikan area tinggal bebas asap rokok bisa menurunkan risiko kanker paru secara signifikan.
3. Radon

Radon adalah gas radioaktif alami yang tidak berbau dan tidak terlihat. Gas ini bisa masuk ke rumah melalui retakan lantai atau dinding dan terperangkap di dalam ruangan. Radon menjadi penyebab kedua terbesar kanker paru pada perokok yang tidak merokok.
Paparan radon dalam jangka panjang dapat merusak sel paru-paru secara perlahan. Gas ini berbahaya meski Mama atau keluarga tidak merokok sama sekali.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan pengukuran radon di rumah, terutama di area rawan radon, dan tindakan mitigasi bila levelnya tinggi. Ini bisa secara nyata menurunkan risiko kanker paru di rumah Mama.
4. Paparan bahan kumia di tempat kerja

Beberapa zat di lingkungan kerja, seperti asbestos, arsenik, kromium, dan diesel exhaust, dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru. Pekerja yang terpapar zat ini dalam jangka panjang bahkan berisiko 2–5 kali lebih tinggi, terutama jika mereka juga merokok.
Paparan ini biasanya terjadi di pabrik, pertambangan, bengkel, atau lokasi industri tertentu. Meskipun terlihat “biasa”, paparan kecil tapi konsisten selama bertahun-tahun bisa berakumulasi dan merusak paru-paru.
Penggunaan alat pelindung, ventilasi yang baik, dan mengikuti standar keselamatan kerja adalah langkah penting untuk mencegah paparan berbahaya. Kesadaran di tempat kerja bisa menyelamatkan nyawa.
5. Riwayat keluarga atau genetik

Jika anggota keluarga dekat seperti orang tua atau saudara pernah terkena kanker paru, risiko Mama bisa meningkat hingga 2 kali lipat. Faktor ini bisa karena genetik atau pola lingkungan yang sama.
Faktor genetik mempengaruhi cara tubuh memperbaiki DNA yang rusak akibat paparan zat karsinogenik. Meski bukan berarti pasti akan terkena kanker, Mama tetap perlu waspada.
Membicarakan riwayat keluarga dengan dokter bisa membantu menilai risiko pribadi dan menentukan langkah pencegahan, termasuk skrining lebih dini.
6. Terapi radiasi dada sebelumnya

Bagi Mama yang pernah menjalani radioterapi di area dada untuk kanker lain memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker paru di masa depan. Paparan radiasi bisa merusak sel paru-paru dan memicu pertumbuhan sel abnormal.
Risiko ini meningkat bila kombinasi dengan faktor lain, seperti merokok atau paparan bahan kimia berbahaya. Radiasi tidak bisa dihindari sepenuhnya jika diperlukan untuk menyelamatkan nyawa, tapi tetap menjadi faktor risiko yang harus diwaspadai.
Dokter biasanya akan menyarankan pemantauan rutin bagi Mama yang pernah menerima radioterapi untuk mendeteksi gejala awal kanker paru.
7. Diet dan suplemen tertentu

Beberapa penelitian menunjukkan perokok yang mengonsumsi suplemen beta-carotene justru berisiko lebih tinggi terkena kanker paru. Meski hubungannya masih diteliti, ini menjadi contoh bahwa diet dan suplemen tertentu tidak selalu menurunkan risiko.
Gaya hidup sehat tetap penting: makan buah dan sayuran, rutin olahraga, serta menjaga berat badan ideal dapat mendukung kesehatan paru. Namun, berhenti merokok dan menghindari paparan berbahaya tetap prioritas utama.
Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen, terutama jika Mama memiliki faktor risiko lain atau riwayat keluarga dengan kanker paru.
Nah, dengan memahami penyebab kanker paru-paru dan mulai menjaga paru-paru sejak sekarang, Mama sudah selangkah lebih dekat melindungi diri dan keluarga tercinta. Kesadaran hari ini bisa menyelamatkan kesehatan di masa depan!


















