Siapa yang belum pernah merasa frustrasi dengan sikap mama mertua yang terkesan terlalu ikut campur, terlalu protektif, atau susah untuk didekati? Perasaan itu sangat nyata dan sangat manusiawi. Tapi ada sisi lain dari cerita itu yang jarang kita dengar.
Meriam Bellina Sebut Tak Ada Mertua Idaman, Ini Alasannya

Sikap mama mertua yang terkesan keras atau sinis kerap lahir dari rasa cinta dan ketakutan kehilangan, bukan dari niat menyakiti.
Meriam Bellina berbagi pandangan mendalam tentang karakter mama mertua yang ia perankan dalam film Keluarga Suami adalah Hama.
Memahami sudut pandang mertua bisa menjadi kunci untuk membangun hubungan yang lebih damai dalam keluarga besar.
Keresahan ini rupanya bukan cuma dirasakan satu dua orang. Dalam press conference yang digelar pada Kamis (14/5/2026), Meriam Bellina yang memerankan mama mertua dalam film Keluarga Suami adalah Hama justru membagikan perspektif yang membuat banyak orang berhenti sejenak dan berpikir ulang.
Berikut Popmama.com telah merangkum apa yang disampaikan Meriam Bellina di press conference tersebut, lengkap dengan refleksi yang mungkin terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak keluarga di Indonesia.
Yuk, disimak!
1. Mencintai dengan cara yang ia tahu, bukan selalu dengan cara yang kita harapkan

Meriam Bellina membuka penjelasannya dengan sesuatu yang mungkin tidak banyak orang sadari, yaitu mama mertua yang tampak menyulitkan bukan berarti tidak mencintai. Ia hanya mencintai dengan cara yang ia pahami, cara yang terbentuk dari pengalaman hidupnya sendiri yang panjang.
"Mamanya Damar mencintai anak-anaknya sebagaimana dia tahu cara mencintai. Kalau dipandang orang lain itu salah, tapi itulah dia. Dia mencintai anak-anaknya sedemikian rupa, apalagi setelah kehilangan suaminya," ujar Meriam Bellina.
Kalimat ini bukan pembelaan, melainkan sebuah undangan untuk melihat lebih dalam, bahwa setiap orang punya bahasa cinta yang berbeda, dan ketika bahasa itu tidak dipahami, yang muncul adalah konflik, bukan kejahatan.
2. Saat semua tanggung jawab tiba-tiba jatuh ke pundak yang belum siap

Ada konteks yang sering terlewat ketika menilai sikap mama mertua, yaitu kondisi yang sedang ia hadapi. Dalam film Keluarga Suami adalah Hama, karakter mama mertua baru saja kehilangan suaminya, dan secara otomatis seluruh tumpuan harapannya berpindah ke anak laki-laki tertua yang kini sudah berkeluarga.
"Begitu suami sudah nggak ada, semua tanggung jawab itu otomatis jatuh ke Damar. Mamanya pun mengharapkan Damar bisa menjadi sosok seperti suaminya dulu, karena dia anak laki-laki tertua," ujar Meriam Bellina.
Beban harapan yang tidak terucap inilah yang sering menjadi akar dari ketegangan antara mama mertua dan menantu, bukan soal tidak suka, tetapi soal rasa takut kehilangan kendali atas satu-satunya yang tersisa.
3. Ketakutan yang manusiawi di balik sikap yang sering disalahpahami

Salah satu momen paling berkesan di press conference ini, yakni saat Meriam Bellina menyinggung soal rasa cemburu yang dirasakan seorang mama ketika anaknya menikah. Menurutnya, perasaan itu sangat manusiawi dan tidak seharusnya langsung diberi label negatif.
"Kalau anak laki-laki menikah, seorang mama merasa kehilangan anaknya. Ketakutan itu otomatis keluar, dan sangat manusiawi kalau sikapnya terkesan jahat atau sinis, padahal yang diinginkan hanya yang terbaik untuk anaknya. Jadi, nggak ada mertua idaman, yang ada mertua penuh harapan," ujar Meriam Bellina.
Kalimat penutup itu terasa seperti kunci dari keseluruhan cerita, yaitu memahami mertua bukan berarti membenarkan semua sikapnya, melainkan mencoba melihat dari mana rasa takut itu berasal agar kita bisa merespons dengan lebih bijak.
Itulah refleksi mendalam dari Meriam Bellina di press conference film Keluarga Suami adalah Hama yang mengingatkan untuk tidak terlalu cepat menghakimi. Mertua yang terkesan menyulitkan mungkin hanya sedang mencintai dengan cara yang belum kita pahami.


















