- Masa Transisi Hormonal & Perinatal: Studi klinis menemukan bahwa risiko OCD pada wanita melonjak drastis selama periode perinatal (kehamilan hingga pascapersalinan). Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron memicu atau memperparah pikiran obsesif (seperti ketakutan berlebihan akan bahaya pada bayi) dan perilaku kompulsi secara signifikan.
- Peristiwa Hidup Tramatis dan Stres: Risiko kecenderungan OCD pada perempuan lebih erat kaitannya dengan riwayat stres pascatrauma (PTSD), trauma masa kecil, atau tekanan sosial yang tinggi.
- Penyakit Komorbiditas: Peningkatan gejala OCD pada wanita sering kali berjalan beriringan (komorbid) dengan peningkatan gangguan kecemasan (anxiety disorder) serta depresi mayor.
5 Jenis Gangguan Mental yang Umum Terjadi setelah Melahirkan

OCD Pasca Persalinan: 50% perempuan penyintas OCD memiliki pikiran mengganggu untuk menyakiti bayi atau diri sendiri, sulit dihentikan.
Distimia: Suasana hati konsisten murung hingga dua tahun pasca melahirkan, rentan menyerang perempuan dengan riwayat depresi sebelumnya.
Postpartum Anxiety: Cemas tingkat lanjut yang sulit dihentikan, membuat sulit beristirahat dan terus menerus merasa tegang.
Kehadiran buah hati yang membahagiakan seringkali hadir bersama dengan berbagai tanggung jawab baru dan perubahan besar dalam hidup mama. Mulai dari perubahan fisik, cara pandang, lingkungan sosial, kebiasaan dan kebutuhan diri serta keluarga, hingga perubahan hormon dan psikis selama proses penyesuaian pasca kehadiran si Kecil.
Salah satu fenomena yang dialami sangat banyak perempuan pasca melahirkan adalah gangguan mental. Meski tidak terlihat selayaknya sakit fisik, kondisi gangguan mental setelah melahirkan sama berbahayanya jika tidak segera diidentifikasi dan ditangani.
Yuk, mulai kenali lima jenis gangguan mental yang umum terjadi setelah melahirkan melalui artikel Popmama.com yang satu ini!
1. OCD Pasca Persalinan
Mama mungkin sudah familiar dengan istilah Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), tapi tahukah Mama bahwa ada jenis OCD khusus yang dialami pasca persalinan?
Penelitian meta-analisis tersebut dipublikasikan pada tahun 2020 di jurnal ilmiah The Journal of Clinical Psychiatry dengan judul "Women Are at Greater Risk of OCD Than Men: A Meta-Analytic Review of OCD Prevalence Worldwide" oleh Fawcett et al mengungkap tentang gangguan OCD pada ibu setelah melahirkan.
Meta-analisis global (The Journal of Clinical Psychiatry) mencatat bahwa perempuan memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami OCD sepanjang hidupnya dibandingkan laki-laki. Prevalensi hidup (lifetime prevalence) OCD pada perempuan mencapai sekitar 1,5%, sementara pada laki-laki berada di angka 1,0%.
Faktor Pemicu Peningkatan OCD pada Perempuan
2. Distimia

Freepik Gangguan depresi persisten yang satu ini adalah kondisi di mana suasana hati mama konsisten murung berkepanjangan hingga dua tahun atau lebih setelah melahirkan. Â Mama penyintas distimia cenderung kehilangan minat dalam beraktivitas normal sehari-hari, sering merasa putus asa dan rendah diri.
Kondisi ini rentan menyerang perempuan yang memiliki riwayat depresi atau distimia sebelumnya. Penting untuk segera mencari pertolongan ahli untuk membantu mengatasi kondisi ini ya, Ma!
3. Postpartum Anxiety

Freepik/cookie_studio Jika Mama hampir selalu merasa cemas sepanjang kehamilan dan proses persalinan, waspadai kondisi yang satu ini. Postpartum anxiety adalah kondisi cemas tingkat lanjut yang lebih parah dari baby blues, di mana Mama tidak dapat menghentikan berbagai kekhawatiran yang terus muncul dalam pikiran.
Kondisi ini akan membuat Mama sulit beristirahat serta terus menerus merasa tegang dan ketakutan. Tapi jangan khawatir, postpartum anxiety tetap dapat disembuhkan melalui perawatan intensif dari dokter ahli kejiwaan.
4. Depresi Postpartum

Freepik/jcomp Tahu nggak sih, Ma? Data BKKBN tahun 2024 menunjukkan kalau sekitar 57% ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues setelah melahirkan. Angka yang cukup tinggi ini bahkan menempatkan Indonesia di posisi teratas sebagai negara dengan risiko baby blues tertinggi di Asia, lho.
Salah satu gangguan mental yang paling umum dirasakan perempuan pasca melahirkan adalah depresi postpartum. Gangguan pada suasana hati yang terjadi dalam tiga minggu pertama pasca melahirkan ini dipicu oleh perubahan hormon dan pengaruh stres.
Gejalanya beragam, mulai dari perasaan sedih, kesulitan untuk fokus, tidak bisa menikmati kegiatan yang sebelumnya sangat disukai, hingga depresi akut. Perempuan dengan riwayat depresi selama kehamilan lebih rentan mengalami depresi postpartum.
5. Postnatal PTSD

Freepik/drobotdean Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca trauma yang satu ini terjadi setelah Mama melahirkan.
Kondisi ini membuat penyintasnya sering merasakan kembali kilas balik memori kejadian traumatis saat melahirkan yang kemudian meninggalkan rasa takut mendalam, terutama ketika mendapat pemicu ingatan kejadian tersebut seperti mendengar tangisan bayi atau melihat alat bedah.
Lima jenis gangguan mental yang umum terjadi setelah melahirkan tersebut dapat dicegah atau ditangani sedini mungkin agar tidak menjadi semakin parah dan membahayakan.
Jangan sepelekan, lakukan konsultasi rutin kepada dokter kepercayaan, psikolog, atau psikiater pada bulan-bulan awal pasca melahirkan agar dapat memastikan kondisi mental mama tetap sehat. Semoga bermanfaat!























