Obesitas & Kesuburan: Bagaimana Berat Badan Memengaruhi Fertilitas

- Obesitas terbukti berpengaruh besar terhadap berbagai aspek tubuh, termasuk fungsi reproduksi pada perempuan dan laki-laki.
- Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara obesitas dan infertilitas yang dapat menghambat kemampuan untuk hamil secara alami.
- Seseorang dikategorikan obesitas jika memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 30 atau lebih, kondisi ini berdampak langsung pada kesuburan.
Sekilas, berat badan sering dianggap sebagai masalah yang sepele. Padahal, obesitas memengaruhi banyak aspek dalam tubuh, termasuk kesuburan.
Obesitas memiliki efek yang cukup banyak pada tubuh seseorang. Di tengah meningkatnya angka obesitas, peneliti menemukan adanya hubungan signifikan antara obesitas dan infertilitas. baik pada perempuan maupun laki-laki.
Tidak hanya memengaruhi kualitas hidup secara umum, tapi juga berdampak langsung pada kemampuan seseorang untuk bisa hamil spontan dan memiliki keturunan. Seseorang dianggap obsesitas ketika memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 30 atau lebih. Penelitian ini menunjukkan kalau obesitas berhubungan erat dengan gangguan pada fungsi reproduksi.
Seperti apa detilnya? Popmama.com akan merangkumkannya untuk Mama.
1. Obesitas pada kesuburan perempuan

Obesitas pada perempuan telah dibuktikan memiliki hubungan dengan berbagai gangguan reproduksi, termasuk ketidakseimbangan hormon, gangguan ovulasi, dan PMOS. Selain itu, perempuan dengan obesitas sering mengalami resistensi insulin yang kemudian meningkatkan produksi androgen atau hormon pria.
Nantinya, hormon ini bisa mengganggu siklus menstruasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BMC Public Health, perempuan yang mengalami obesitas memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk mengalami infertilitas dibanding mereka yang memiliki berat badan normal.
Tak hanya kehamilan spontan, namun juga berpengaruh pada program hamil. Menurut penelitian, obesitas juga bisa mempersulit keberhasilan program IVF, di mana perempuan dengan berat badan berlebih cenderung gagal dalam proses implantasi embrio.
2. Obesitas pada kesuburan laki-laki

Pada laki-laki, obesitas berpengaruh langsung pada kualitas sperma. Laki-laki yang obesitas seringkali memiliki kualitas sperma yang lebih rendah, dan juga jumlah sperma yang lebih sedikit. Tak hanya itu, laki-laki dengan berat badan berlebih cenderung memiliki motilitas sperma yang buruk.
Hal ini disebabkan karena adanya perubahan hormonal yang terjadi akibat kelebihan lemak tubuh, yang akhirnya menyebabkan penurunan kadar testosteron dan peningkatan estrogen.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di ScienceDirect, ditemukan bahwa laki-laki obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan spermatogenesis. Tentu saja, hal ini berdampak langsung pada kemampuan laki-laki untuk membuahi sel telur yang menghasilkan kehamilan secara alami.
3. Gangguan hormon yang berpengaruh pada kesehatan organ reproduksi

Kelebihan lemak tubuh mampu memengaruhi keseimbangan hormon reproduktif, baik pada perempuan maupun laki-laki. Lemak tubuh yang berlebih, terutama lemak visceral yang menumpuk di sekitar organ, bisa meningkatkan produksi hormon estrogen.
Pada perempuan, kelebihan hormon estrogen bisa mengganggu siklus menstruasi dan ovulasi, yang berpengaruh pada proses pelepasan sel telur. Bahkan hal ini bisa berujung pada masalah seperti anovulasi atau tidak ada ovulasi yang menjadi salah satu penyebab utama infertilitas.
Pada laki-laki, kelebihan lemak tubuh bisa meningkatkan hormon estrogen dan menurunkan kadar testosteron. Hormon testosteron yang rendah mampu berpengaruh pada kualitas dan motilitas sperma.
4. Mengalami resistensi insulin

Masalah lain yang tak kalah besar karena obesitas adalah terjadinya resistensi insulin, kondisi di mana tubuh tidak lagi merespon insulin secara efektif. Pada perempuan, resistensi insulin sering dikaitkan dengan PMOS.
PMOS sendiri adalah suatu kondisi hormonal yang menyebabkan menstruasi tidak teratur, gangguan ovulasi, pertumbuhan kista, dan merangsang produksi androgen, yang menyebabkan gejala seperti pertumbuhan rambut berlebihan, jerawat, dan mengganggu ovulasi.
Sedangkan pada laki-laki, resistensi insulin mampu mengganggu produksi testosteron yang sangat penting untuk kesehatan reproduksi laki-laki. Penurunan kadar testosteron juga memengaruhi libido, yang memperparah kesuburan yang disebabkan karena obesitas.
5. Terjadi peradangan kronis

Lemak tubuh berlebih pada penderita obesitas bisa berujung pada peradangan kronis. Sel-sel lemak memproduksi zat peradangan seperti sitokin yang memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk sistem reproduksi. Peradangan ini bisa merusak jaringan ovarium pada perempuan dan jaringan testis pada laki-laki. Pada akhirnya, mengganggu proses pembentukan sel telur dan sperma yang sehat.
pada perempuan, peradangan kronis bisa mengganggu siklus ovulasi dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada implantasi embrio di dinding rahim, yang bisa menurunkan peluang keberhasilan kehamilan, terutama pada perempuan yang menjalani program IVF.
Pada laki-laki, peradangan kronis karena obesitas bisa menurunkan kualitas sperma, mengurangi motilitas sperma, dan meningkatkan fragmentasi DNA sperma.
Untuk mengurangi risiko tersebut, kamu bisa melakukan perubahan gaya hidup, menerapkan pola makan sehat dan rutin berolahraga untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan keseimbangan hormon.


















