“Selama kehamilan, tubuh mengalami banyak perubahan hormon. Peningkatan hormon tertentu dapat membuat produksi minyak pada kulit menjadi lebih banyak. Hal inilah yang sering membuat jerawat muncul atau bahkan terasa lebih parah,” jelas dr. Keven.
Jerawatan Parah saat Hamil, Apakah Pengaruh Hormon?

- Perubahan hormon selama kehamilan dapat meningkatkan produksi minyak kulit, sehingga jerawat muncul atau menjadi lebih parah.
- Jerawat saat hamil cukup sering terjadi pada trimester pertama ketika perubahan hormon tinggi, tetapi dapat membaik setelah tubuh beradaptasi.
- Jika jerawat meradang, menyebar luas, atau mengganggu, ibu hamil perlu berkonsultasi sebelum memakai obat maupun skincare karena tidak semua perawatan aman.
Kehamilan membawa banyak perubahan pada tubuh perempuan, termasuk kondisi kulit. Salah satu keluhan yang dapat dialami ibu hamil adalah munculnya jerawat atau kondisi jerawat yang terasa semakin parah.
Perubahan hormon selama kehamilan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi kulit. Peningkatan hormon tertentu dapat membuat produksi minyak pada kulit menjadi lebih banyak sehingga jerawat lebih mudah muncul.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Keven Tali, Sp.OG, di Instagramnya @dokterkeven menjelaskan bahwa perubahan hormon selama kehamilan memang dapat memicu munculnya jerawat.
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
Table of Content
1. Perubahan hormon saat hamil bisa memicu jerawat

Pixabay/AlexanderGrey Selama kehamilan, tubuh mengalami banyak perubahan hormon. Kondisi tersebut dapat memengaruhi produksi minyak pada kulit.
Produksi minyak yang meningkat dapat membuat kulit lebih mudah mengalami masalah jerawat. Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian ibu hamil mendapati kondisi kulitnya berubah setelah memasuki masa kehamilan.
2. Jerawat saat hamil sering muncul pada trimester awal

Freepik/wayhomestudio Jerawat dapat menjadi salah satu perubahan kulit yang dialami selama kehamilan. Kondisi ini terutama dapat muncul pada trimester pertama ketika perubahan hormon sedang tinggi.
“Jerawat saat hamil cukup sering terjadi, terutama pada trimester awal ketika perubahan hormon sedang tinggi,” ujar dr. Keven.
Meski begitu, kondisi setiap ibu hamil dapat berbeda. Pada sebagian ibu, jerawat dapat membaik seiring tubuh mulai beradaptasi dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan.
“Pada sebagian ibu hamil, kondisi ini bisa membaik seiring tubuh mulai beradaptasi dengan perubahan hormon tersebut,” lanjutnya.
Jadi, munculnya jerawat saat hamil tidak selalu berarti kondisi kulit akan terus memburuk sepanjang kehamilan.
3. Jerawat parah sebaiknya jangan diobati sembarangan

Freepik Jika jerawat terasa sangat meradang atau menyebar luas, ibu hamil sebaiknya tidak langsung memilih obat jerawat atau skincare tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
“Namun jika jerawat terasa sangat meradang, menyebar luas, atau mengganggu kenyamanan, sebaiknya konsultasikan sebelum menggunakan obat atau produk tertentu,” kata dr. Keven.
Menurutnya, tidak semua perawatan jerawat aman digunakan selama kehamilan. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter penting dilakukan agar ibu hamil mendapatkan pilihan perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit sekaligus mempertimbangkan keamanan selama kehamilan.
Dengan demikian, jerawat yang muncul akibat perubahan hormon selama kehamilan tetap dapat ditangani dengan cara yang tepat tanpa sembarangan menggunakan produk atau obat.





















