Bagaimana Rasanya saat Air Ketuban Pecah?

Seperti apa rasanya saat air ketuban pecah?

2 Maret 2019

Bagaimana Rasa saat Air Ketuban Pecah
Freepik

Jika kamu baru pertama kali hamil, terkadang agak sulit untuk mengetahui bahwa air ketuban sudah pecah. Seringkali ibu hamil tidak menyadari hal ini.

Secara bentuk cairan, memang air keruban berwarna bening sedikit kekuningan. Bagi sebagian perempuan, ada juga yang mengalami ketuban pecah dan mendapati sedikit kemerahan karena telah bercampur dengan darah. Hal tersebut bisa dibilang wajar terjadi.

Pecah air ketuban adalah kondisi yang dialami perempuan saat hamil tua pada umumnya. Ini bisa jadi salah satu tanda waktu persalinan sudah semakin dekat.

Meski begitu, ada juga yang mengalami pecah air ketuban, namun di saat belum waktunya melahirkan.

Untuk itu, ibu hamil harus peka akan hal tersebut. Meski baru pertama kali mengalami, sebaiknya sudah mengetahui tentang bagaimana rasanya pecah air ketuban.

1. Seperti apa rasanya ketika air ketuban pecah?

Saat air ketuban pecah, kamu akan merasa seperti urine keluar. Rasanya mirip, agak sulit dibedakan.

Pada umumnya, saat pecah air ketuban kamu akan merasa basah di vagina. Kemudian ada air mengalir tanpa bisa dikontrol dan ditahan.

Jika urine yang keluar, ada rasa kebelet pipis sebelumnya. Namun jika air ketuban yang keluar, kamu tidak merasakan sensasi seperti ingin pipis.

Volume air ketuban berbeda-beda, tekanan keadaan juga bisa berlainan pada setiap ibu hamil.

Jadi belum tentu ibu hamil yang satu dengan yang lain akan mendapat pengalaman yang sama.

Tapi seperti itulah saat air ketuban pecah, keluar begitu saja dan tidak dapat diberhentikan.

Baca juga: Hati-Hati! Kenali Penyebab Air Ketuban Keruh Saat Hamil Tua

Editors' Picks

2. Kenali tanda air ketuban pecah

Untuk membuat ibu hamil semakin peka dan waspada, berikut ini Popmama.com sebutkan tanda air ketuban pecah yang perlu diketahui:

  • Terasa seperti ada yang meletup

Sensasi seperti ada letupan terasa di area vagina. Ini terjadi pada sebagian ibu hamil.

Pada kondisi seperti ini biasanya air ketuban keluar secara menyembur dan langsung membanjiri vagina kemudian mengalir ke kaki.

  • Mengalir

Air ketuban yang pecah juga bisa mengalir seperti keran terbuka. Seperti yang sudah dijelaskan, rasanya sulit untuk ditahan.

  • Menetes

Ada pula air ketuban pecah dalam keadaan menetes. Jika kamu dalam posisi duduk, hanya terasa vagina basah setempat kemudian rembes ke pakaian.

Jika kamu sedang berdiri, air tetesannya akan jatuh ke lantai menembus pakaian dalam. Perhatikan warnanya, berusahalah jangan panik dan tetap tenang.

  • Pecah sempurna dan melegakan

Rasa tegang seolah mulai mereda, ada perasaan lega setelah air ketuban pecah.

Ibu hamil hanya membiarkan air ketuban pecah, tidak diikuti rasa sakit. Setelah itu, jangan lupa untuk segera ke rumah sakit dan laporkan pada dokter kandungan kamu.

  • Pecah saat ibu hamil tidur

Ini pasti mengagetkan. Kamu terpaksa bangun dari tidurmu. Rasanya seperti ada air keluar dari vagina, bisa jadi pakaian dan kasur yang kamu tiduri basah. Ada sensasi hangat yang mengalir tanpa bisa dihentikan.

3. Jumlah air ketuban yang keluar

3. Jumlah air ketuban keluar
Freepik/pressfoto

Sampai pada masa akhir kehamilan, air ketuban yang keluar kira-kira sekitar 800 ml. Jika air ketuban pecah maka segeralah pergi ke rumah bersalin. Temui dokter kandungan mama agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan Mama dan janin.

Catatan yang perlu diingat bagi ibu hamil yang belum melewati usia kandungan 9 bulan, jika mengalami air ketuban pecah berusahalah untuk tenang. Atur nafas dan minum air putih. Gunakan pembalut saat mengalami hal ini agar tidak mengotori pakaianmu.

Mintalah pada suami atau orang terdekat untuk mengantar ke dokter kandungan. Jangan terlalu banyak bergerak ketika masih berada di rumah dan di perjalanan.

Itulah yang perlu Mama ketahui mengenai bagaimana rasanya air ketuban pecah dan hal apa saja yang perlu dilakukan ketika sedang terjadi.

Baca juga: Cara Alami Tingkatkan Jumlah Cairan Ketuban

Topic:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!