Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Magnific.com/pvproductions
  • Atresia duodenum adalah kelainan bawaan langka ketika bagian awal usus halus tertutup, sehingga ASI, susu formula, dan cairan pencernaan tidak dapat lewat.

  • Gejala umumnya muncul setelah bayi minum, termasuk muntah kuning, hijau, atau cokelat muda, perut atas membengkak, sembelit, serta penyakit kuning.

  • Diagnosis dapat dilakukan sejak kehamilan atau setelah lahir; penanganan utama berupa operasi, lalu pemantauan dan pemberian nutrisi bertahap selama pemulihan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Atresia duodenum adalah kelainan bawaan langka ketika duodenum, bagian pertama usus halus bayi, tertutup sepenuhnya sehingga ASI, susu formula, dan cairan pencernaan tidak dapat melaluinya.
  • Who?
    Bayi baru lahir dapat mengalami kondisi ini, terutama bayi dengan kondisi genetik tertentu seperti Down syndrome. Dokter menangani diagnosis, persiapan operasi, dan perawatan setelah tindakan.
  • Where?
    Penyumbatan terjadi pada duodenum di saluran pencernaan bayi. Pemeriksaan dan penanganan dilakukan di fasilitas kesehatan, termasuk ruang perawatan intensif neonatal atau NICU setelah operasi.
  • When?
    Kelainan terbentuk saat perkembangan janin, terutama sekitar minggu kelima hingga keenam. Gejala umumnya muncul beberapa jam setelah lahir, terutama setelah bayi menerima ASI atau susu formula pertama.
  • Why?
    Atresia terjadi ketika pembentukan saluran berongga pada duodenum saat janin tidak berlangsung sebagaimana mestinya, sehingga saluran tetap tertutup. Paparan lingkungan tertentu belum dikaitkan sebagai penyebab langsung.
  • How?
    Dokter mendeteksi kondisi melalui USG, MRI janin, rontgen perut, atau pemeriksaan zat kontras. Penanganan utama berupa operasi, biasanya dalam dua hingga tiga hari pertama setelah kelahiran, disertai infus dan selang lambung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada bayi yang usus bagian awalnya tertutup sejak lahir. Jadi ASI atau susu tidak bisa lewat dan bayi bisa muntah hijau. Dokter bisa melihatnya saat bayi di kandungan atau sesudah lahir. Bayi perlu operasi agar usus tersambung. Setelah itu, bayi dirawat sampai bisa minum susu dan berat badannya naik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap bayi memiliki kondisi kesehatan yang berbeda sejak dilahirkan. Ada beberapa kondisi yang mungkin belum banyak diketahui orangtua, salah satunya atresia duodenum yang berkaitan dengan perkembangan saluran pencernaan bayi.

Meski terdengar asing, penting bagi Mama untuk mengenal kondisi ini agar lebih memahami kesehatan si Kecil sejak dini.

Jika Mama masih bingung, mari simak penjelasan Popmama.com tentang mengenal atresia duodenum pada bayi mengutip dari Cleveland Clinic.

1. Apa itu atresia duodenum?

Magnific.com/pvproductions

Atresia duodenum merupakan kelainan bawaan langka yang menyebabkan duodenum atau bagian pertama usus halus bayi tertutup sepenuhnya. 

Normalnya, makanan yang keluar dari lambung akan melewati duodenum sebelum melanjutkan proses pencernaan di usus halus.

Pada bayi dengan kondisi ini, penyumbatan membuat ASI, susu formula, dan cairan pencernaan tidak dapat melewati bagian usus tersebut sebagaimana mestinya.

Atresia duodenum termasuk kondisi serius yang membutuhkan penanganan segera.

Meski demikian, kondisi ini dapat diobati melalui operasi dan sebagian besar bayi memiliki peluang pemulihan yang baik setelah mendapatkan perawatan yang sesuai.

Atresia duodenum juga dapat terjadi bersamaan dengan kondisi bawaan lainnya, seperti kelainan jantung atau Down syndrome.

2. Mengenal jenis-jenis atresia duodenum

Magnific.com/jcomp

Atresia duodenum terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan bentuk penyumbatan yang terjadi pada usus halus bayi, yaitu:

  1. Atresia tipe 1: Pada tipe ini, lapisan tipis jaringan di dalam duodenum menutup saluran usus, sedangkan lapisan otot di sekitarnya tetap utuh. Kondisi ini juga dikenal sebagai duodenal diaphragm.

  2. Atresia tipe 2: Pada tipe ini, kedua ujung duodenum terpisah, tetapi masih terhubung oleh jaringan berbentuk seperti tali.

  3. Atresia tipe 3: Pada tipe ini, kedua ujung duodenum terpisah sepenuhnya tanpa jaringan yang menghubungkan keduanya.

Selain atresia duodenum, terdapat pula kondisi yang disebut stenosis duodenum. Keduanya sama-sama menyebabkan penyempitan atau hambatan pada saluran usus, tetapi memiliki perbedaan.

Atresia duodenum menyebabkan saluran tertutup sepenuhnya, sedangkan stenosis duodenum membuat saluran usus menjadi lebih sempit dari ukuran normal.

3. Gejala atresia duodenum pada bayi

Magnific.com/pvproductions

Gejala atresia duodenum umumnya mulai terlihat dalam beberapa jam pertama setelah bayi lahir, terutama setelah pemberian ASI atau susu formula pertama.

Salah satu tanda yang paling umum adalah muntah dengan cairan berwarna kuning, hijau, atau cokelat muda. Jika tidak segera ditangani, muntah dapat semakin parah.

Selain itu, bayi dengan atresia duodenum juga dapat mengalami beberapa gejala berikut:

  • Berat badan lahir rendah, yaitu berat badan bayi saat lahir berada di bawah batas yang sesuai.

  • Perut bagian atas membengkak, akibat penumpukan cairan dan udara di dalam saluran pencernaan.

  • Sembelit, karena proses pencernaan dan pengeluaran sisa makanan terganggu.

  • Penyakit kuning, yang ditandai dengan kulit dan bagian putih mata menguning.

Pada bayi dengan penyumbatan sebagian, gejala dapat muncul lebih lambat atau baru diketahui ketika anak memasuki usia yang lebih besar.

Gejalanya bisa berupa gangguan pencernaan, nyeri perut, gangguan penyerapan nutrisi, hingga munculnya benjolan di perut.

Apabila bayi mengalami muntah berulang, terutama muntah berwarna hijau, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

4. Penyebab atresia duodenum pada bayi

Magnific.com/krakenimages.com

Atresia duodenum terjadi akibat gangguan dalam proses pembentukan saluran pencernaan ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Pada minggu kelima hingga keenam perkembangan janin, duodenum awalnya berbentuk jaringan padat.

Sel-sel di bagian tengah jaringan tersebut kemudian akan menghilang sehingga membentuk saluran berongga yang memungkinkan makanan melewatinya.

Namun, jika proses tersebut tidak berlangsung sebagaimana mestinya, saluran duodenum dapat tetap tertutup dan menyebabkan atresia.

Apabila proses pembentukan saluran hanya berlangsung sebagian, kondisi yang terjadi dapat berupa stenosis duodenum atau bentuk penyumbatan lainnya.

Penyumbatan juga dapat disebabkan oleh usus yang terpuntir atau tekanan dari jaringan maupun organ di sekitarnya. Hingga kini, penelitian belum mengaitkan paparan lingkungan tertentu sebagai penyebab langsung atresia duodenum.

Oleh karena itu, kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan dalam perawatan kehamilan yang dilakukan Mama.

5. Siapa yang berisiko mengalami atresia duodenum?

Magnific.com/rawpixel.com

Atresia duodenum lebih sering ditemukan pada bayi dengan kondisi genetik tertentu, termasuk Down syndrome. Namun, tidak semua bayi dengan atresia duodenum memiliki Down syndrome atau kelainan bawaan lainnya.

Sebaliknya, keberadaan faktor risiko juga tidak berarti bayi pasti akan mengalami kondisi tersebut.

Jika dokter mencurigai adanya kelainan ini selama kehamilan, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kondisi lain yang menyertainya.

6. Bagaimana atresia duodenum didiagnosis?

Magnific.com/partystock

Atresia duodenum dapat dicurigai ketika bayi masih berada di dalam kandungan atau setelah dilahirkan.

Pemeriksaan yang dilakukan bergantung pada waktu ditemukannya tanda-tanda kelainan. Dokter dapat menggunakan beberapa metode untuk mendeteksi kemungkinan atresia duodenum, antara lain:

  • USG kehamilan: membantu melihat kondisi saluran pencernaan janin. Pembesaran lambung dan duodenum atau peningkatan jumlah cairan ketuban dapat menimbulkan kecurigaan terhadap kelainan ini.

  • MRI janin: dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, terutama jika lokasi penyumbatan belum dapat dipastikan melalui USG.

Jika ditemukan dugaan atresia duodenum, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan untuk menilai kemungkinan kelainan kromosom yang menyertai, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medis.

Setelah bayi lahir, dokter dapat melakukan pemeriksaan berikut:

  • Rontgen perut: membantu melihat penumpukan udara di lambung dan duodenum. Salah satu temuan khas atresia duodenum adalah tanda double bubble, yaitu gambaran dua area berisi udara yang membesar pada lambung dan duodenum.

  • Pemeriksaan saluran cerna dengan zat kontras: dilakukan pada kondisi tertentu untuk melihat aliran cairan melalui saluran pencernaan, terutama jika penyumbatan sebagian atau stenosis dicurigai.

Diagnosis akhir ditentukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi klinis bayi.

7. Bagaimana cara mengobati atresia duodenum?

Magnific.com/jcomp

Atresia duodenum umumnya ditangani melalui operasi untuk mengatasi penyumbatan pada usus halus.

Sebelum tindakan dilakukan, dokter akan memeriksa kondisi bayi dan mencari kemungkinan kelainan lain yang perlu ditangani terlebih dahulu.

Sebagian besar bayi menjalani operasi dalam dua hingga tiga hari pertama setelah lahir, meskipun waktu tindakan dapat berbeda sesuai kondisi masing-masing bayi.

Sebelum operasi, bayi umumnya belum dapat menerima ASI atau susu formula melalui mulut. Kebutuhan cairan dan nutrisinya diberikan melalui infus.

Dokter juga dapat memasang selang melalui hidung atau mulut menuju lambung untuk mengeluarkan udara dan cairan yang menumpuk akibat penyumbatan.

Operasi yang dilakukan dapat berupa duodeno-duodenostomy atau duodeno-jejunostomy.

Prosedur ini bertujuan menghubungkan bagian saluran pencernaan sebelum dan sesudah penyumbatan agar makanan dapat melewati jalur yang berfungsi.

Pada banyak kasus, operasi dapat dilakukan dengan teknik minimal invasif melalui sayatan kecil. Namun, metode yang digunakan tetap bergantung pada kondisi dan kebutuhan medis bayi.

8. Bagaimana proses pemulihan setelah operasi?

Magnific.com/studioredcup

Setelah operasi, bayi biasanya dirawat di unit perawatan intensif neonatal (NICU) atau unit perawatan khusus bayi baru lahir untuk mendapatkan pemantauan.

Usus bayi membutuhkan waktu untuk kembali berfungsi sebelum pemberian ASI atau susu formula dapat dimulai secara bertahap.

Selama masa pemulihan, selang mungkin masih diperlukan untuk mengeluarkan udara dan cairan dari lambung. Beberapa bayi juga membutuhkan bantuan pernapasan selama beberapa hari.

Bayi umumnya dapat pulang setelah mampu menerima asupan nutrisi dengan baik dan menunjukkan kenaikan berat badan. Masa rawat inap biasanya berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu, tetapi durasinya dapat berbeda pada setiap bayi.

Lamanya pemulihan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan bayi, respons terhadap operasi, serta ada atau tidaknya kelainan lain yang menyertai.

9. Apakah atresia duodenum bisa diobati sebelum bayi lahir?

Magnific.com/jcomp

Hingga saat ini, atresia duodenum tidak dapat diperbaiki melalui tindakan pengobatan saat bayi masih berada di dalam kandungan. Penanganan utama dilakukan setelah bayi lahir.

Meski begitu, deteksi selama kehamilan tetap penting agar dokter dapat merencanakan persalinan dan perawatan bayi dengan lebih baik. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penumpukan cairan ketuban berlebihan atau polihidramnion.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko persalinan prematur. Jika diperlukan, dokter dapat melakukan prosedur amnioreduksi untuk mengurangi jumlah cairan ketuban.

Dokter juga dapat menyarankan persalinan di rumah sakit yang memiliki fasilitas dan tenaga medis untuk menangani bayi dengan kelainan bawaan. 

Dengan begitu, pemeriksaan dan penanganan dapat segera dilakukan setelah bayi dilahirkan.

Itu dia penjelasan mengenai atresia duodenum pada bayi. Semoga artikel ini membantu!

Curated For You

Editorial Team

Related Article