Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

7 Jenis Suplemen untuk Bayi Sesuai Usianya, Ini Panduannya

4 min read
7 Jenis Suplemen untuk Bayi Sesuai Usianya, Ini Panduannya
Laughing baby, bayi ketawa -
  • Suplemen bayi diberikan bila kebutuhan mikronutrien belum terpenuhi dari asupan harian, dengan jenis dan waktu pemberian disesuaikan usia serta kondisi bayi.

  • Vitamin K dianjurkan melalui suntikan saat lahir untuk mencegah perdarahan; vitamin A dan C dapat dipenuhi mulai MPASI, termasuk dari makanan alami.

  • Zat besi, zink, dan iodium mendukung pertumbuhan serta perkembangan; kebutuhan suplementasinya berbeda menurut pola minum, usia, dan risiko kekurangan iodium.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat si Kecil tumbuh dari hari ke hari, tentu Mama ingin memberikan yang terbaik, termasuk soal nutrisi. Namun, urusan suplemen Mama mungkin sering bikin bingung, perlukah bayi diberi vitamin tambahan, dan kalau perlu, kapan sebaiknya dimulai?

Jawabannya ternyata tidak sama untuk setiap bayi. Vitamin dan mineral pada dasarnya hanya diberikan kepada bayi yang kebutuhan mikronutriennya belum terpenuhi dari makanan sehari-hari.

Nah, supaya Mama tidak salah langkah, berikut Popmama.com mengulas 7 jenis suplemen untuk bayi sesuai usianya. Yuk, simak sampai habis!

  1. 1. Vitamin A

    Vitamin A
    Pexels/Raymart Arniño

    Vitamin A punya peran besar untuk penglihatan dan pertahanan tubuh si Kecil. Menurut NHS, vitamin ini dibutuhkan untuk sistem imun yang sehat, membantu mata melihat di tempat remang-remang, sekaligus menjaga kulit tetap sehat.

    Melansir IDAI, WHO merekomendasikan vitamin A 100.000 U untuk bayi usia 6–11 bulan. Selain suplemen, Mama juga bisa menghadirkan vitamin A lewat menu MPASI seperti wortel, ubi jalar, mangga, dan sayuran hijau.

  2. 2. Vitamin C 

    Vitamin C 
    Pexels/hartono subagio

    Begitu si Kecil mulai MPASI, vitamin C ikut naik panggung. NHS menyebut vitamin ini penting untuk kesehatan umum dan sistem imun anak, sekaligus membantu tubuh menyerap zat besi.

    Melansir Pantai Hospital, vitamin C berperan dalam tumbuh kembang dan merupakan antioksidan penting untuk melawan penyakit. Sumber alaminya cukup beragam, seperti jeruk, kiwi, stroberi, dan tomat.

    Jika si Kecil sulit menerima buah dan sayur tersebut, suplemen bisa dipertimbangkan. Mulai usia 6 bulan, coba tambahkan vitamin C ke dalam suplemen harian.

  3. 3. Vitamin K 

    Vitamin K 
    Pexels/Anna Shvets

    Menurut Healthify, semua bayi lahir dengan kadar vitamin K rendah sehingga berisiko mengalami gangguan perdarahan langka bernama VKDB (Vitamin K Deficiency Bleeding).

    Satu suntikan vitamin K saat lahir disebut sebagai cara paling efektif untuk mencegahnya, bahkan menurunkan peluang VKDB menjadi kurang dari 1 banding 1.000.000. Vitamin K diberikan saat lahir untuk mencegah gangguan perdarahan.

    Setelah si Kecil mulai MPASI, asupan vitamin K bisa dilengkapi dari makanan seperti bayam, brokoli, kiwi, dan alpukat.. Jika orangtua memilih tidak memberikan suntikan, perhatikan gejala perdarahan dari hidung, saluran cerna, atau tali pusar.

  4. 4. Vitamin E

    Vitamin E
    Pexels/HÂN NGUYỄN

    Vitamin E mungkin tidak sepopuler vitamin lainnya, tetapi perannya tetap penting. Vitamin E penting sebagai antioksidan untuk daya tahan tubuh dan pertumbuhan kulit yang sehat.

    Studi dari Iranian Journal of Pediatrics mencatat bahwa bayi lahir dengan cadangan vitamin E yang rendah. Karena itu, bayi membutuhkan asupan vitamin E yang cukup sejak awal kehidupannya.

    Dari makanan, vitamin E bisa diperoleh lewat almond, kacang tanah, bayam, dan alpukat, menurut Pantai Hospital, tentu dengan tekstur yang aman untuk usia si Kecil. 

    Selain itu, pemberian dosis berlebih dapat menimbulkan efek samping, sehingga pemantauan dalam pemberian vitamin E tetap penting.

  5. 5. Zat besi

    Zat besi
    Pexels/Craig Adderley

    Setiap bayi lahir membawa cadangan zat besi yang cukup untuk sekitar 4–6 bulan, menurut Eat Right. Setelahnya, cadangan itu mulai menipis dan perlu dipenuhi dari luar.

    Bayi yang menyusu ASI eksklusif atau sebagian besar mendapat suplemen zat besi mulai usia 4 bulan. Bayi yang minum susu formula jarang membutuhkannya karena susu formula umumnya sudah diperkaya zat besi.

    Di Indonesia, IDAI mencatat suplementasi zat besi rutin selama 3 bulan setiap tahun sejak bayi berusia 6 bulan.

  6. 6. Zink 

    Zink 
    Pexels/Vanessa Loring

    Zink atau seng termasuk mineral yang penting bagi bayi dan anak. Menurut IDAI, suplementasi zink terbukti menurunkan kejadian diare dan pneumonia serta mendukung pertumbuhan.

    Zink diberikan rutin setiap 6 bulan selama minimal 2 bulan pada bayi usia 6–23 bulan. Zink bekerja berdampingan dengan vitamin C untuk perkembangan otak dan imun. 

    Kombinasi keduanya disebut menurunkan kemungkinan bayi terkena diare dan infeksi saluran napas pada anak di bawah 5 tahun.

  7. 7. Iodium

    Iodium
    Pexels/Vanessa Loring

    Iodium dibutuhkan tubuh untuk membentuk hormon tiroid. Kekurangan iodium merupakan penyebab IQ rendah dan perkembangan lambat yang paling mudah dicegah.

    Menurut WHO, 31,5 persen anak di dunia mengalami kekurangan iodium. IDAI pun memaparkan bahwa balita yang kekurangan iodium memiliki IQ 13,5 poin lebih rendah dibandingkan balita yang cukup iodium.

    Kabar baiknya, data Riskesdas 2013 menunjukkan 77,1 persen rumah tangga Indonesia sudah memiliki akses ke garam beriodium. Karena itu, sesuai pedoman WHO, suplementasi iodium hanya diberikan pada kelompok balita yang rentan kekurangan iodium.

    Nah, itulah pembahasan mengenai 8 jenis suplemen untuk bayi sesuai usianya yang harus orangtua ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Related Articles

See More