Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Tanda Bayi Diare, Mama Harus Tahu agar Cepat Ditangani!
ilustrasi mengganti popok bayi (unsplash.com/freepik)
  • Tanda diare pada bayi meliputi BAB lebih sering, feses sangat cair, perubahan warna, bau lebih menyengat, serta bisa disertai lendir atau darah.
  • Diare dapat menyebabkan kehilangan cairan berbahaya; waspadai dehidrasi seperti mulut kering, menangis tanpa air mata, mata cekung, dan ubun-ubun tampak masuk ke dalam.
  • Bayi perlu diperiksakan ke dokter bila tidak membaik dalam 24 jam, mengalami dehidrasi, demam hingga 39 derajat Celsius, atau feses berdarah maupun kehitaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bayi bisa diare kalau pupnya jadi lebih sering, sangat cair, warnanya berubah, dan baunya tajam. Bayi juga bisa demam, rewel, muntah, atau mulutnya kering karena kurang cairan. Mama harus cepat bawa bayi ke dokter kalau belum membaik sehari, sangat lemas, demam 39 derajat, atau pupnya berdarah dan hitam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Diare merupakan salah satu gangguan pencernaan yang perlu orangtua waspadai karena dampaknya tidak main-main. Kondisi si Kecil yang masih dalam tahap tumbuh kembang membuat gangguan pencernaan kerap terjadi dan perlu segera ditangani.

Penyakit ini tidak bisa dianggap remeh, karena tubuh dapat kehilangan banyak cairan saat mengalami diare. Jika tidak ditangani dengan cepat, diare dapat memicu dehidrasi berat hingga mengancam nyawa si Kecil, Ma.

Untuk itu, penting bagi orangtua mengetahui tanda-tandanya agar dapat segera terdeteksi dan ditangani.

Berikut ini Popmama.com telah merangkum tanda bayi diare dan kapan harus ke dokter agar cepat ditangani! Disimak, yuk, Ma!

1. Frekuensi BAB lebih sering

ilustrasi tisu toilet (freepik.com/jcomp)

Tanda yang paling mudah diidentifikasi saat si Kecil mengalami diare adalah frekuensi BAB nya lebih sering dibandingkan biasanya. BAB biasanya terjadi setiap kali bayi selesai menyusu, namun jika frekuensinya lebih banyak Mama harus waspada.

Jika si Kecil terus-terusan BAB setelah diganti popoknya, ini merupakan pertanda diare perlu segera ditangani. Jika normalnya 2-3 kali per hari menjadi 4-8 kali, segera cek kondisi di Kecil agar tidak semakin kekurangan cairan, Ma.

2. Konsistensi feses menjadi sangat cair

ilustrasi alas ganti popok (freepik.com/pvproductions)

Feses bayi umumnya memiliki tekstur yang cukup lunak seperti pasta dan sedikit berbiji. Jika konsistensinya berubah menjadi lebih cair hingga encer, bisa jadi si Kecil mengalami diare, Ma.

Melansir dari WebMD, perubahan konsistensi feses juga dapat dilihat dari ampasnya yang sedikit, merembes keluar popok, dan berbuih hingga tampak bercampur dengan lendir.

3. Perubahan warna feses

ilustrasi tinja (pixabay.com/Alexa)

Warna feses bayi juga akan berubah jika mengalami diare. Normalnya, feses bayi berwarna kuning atau kecoklatan, tergantung pada makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Jika warna fesesnya berubah menjadi lebih pucat, kehijauan, bahkan tampa abu-abu, Mama perlu waspada. Perhatikan juga apakah feses si Kecil mengandung darah, karena ini merupakan pertanda infeksi bakteri yang cukup parah seperti disentri atau intoleransi makanan.

4. Bau feses lebih menyengat

ilustrasi bau (freepii.com/freepik)

Bau feses saat si Kecil diare akan berubah menjadi lebih menyengat dan asam dibandingkan biasanya. Kondisi ini terjadi karena proses pencernaan di dalam usus terganggu akibat infeksi.

Perubahan baru ini dipengaruhi oleh terjadinya proses fermentasi abnormal di dalam saluran pencernaan. Jika bau feses si Kecil lebih menyengat dari biasanya, Mama perlu waspada dengan risiko diare.

5. Muncul tanda dehidrasi

ilustrasi seorang ibu sedang menyusui bayinya (magnific.com/freepik)

Diare membuat cairan di dalam tubuh terus berkurang. Jika diare dibiarkan begitu saja pada si Kecil, risiko dehidrasi menjadi efek samping yang paling berbahaya. 

Dehidrasi pada bayi dapat dilihat dari tanda-tanda vitalnya, mulai dari mulut dan bibir yang tampak kering, menangis tanpa air mata, mata tampak cekung, dan ubun-ubun kepala yang tampak lebih cekung ke dalam. 

6. Demam dan rewel

ilustrasi bayi demam (pexels.com/RDNE Stock project)

Selain mengidentifikasi feses bayi, tanda diare juga dapat dilihat dari kondisi kesehatan lainnya. Demam juga menjadi salah satu pertanda bayi mengalami diare.

Sistem imun sedang melawan bakteri penyebab diare, suhu tubuh si Kecil biasanya akan meningkat dan memicu demam. 

Selain demam, bayi juga akan menjadi lebih rewel dibandingkan biasanya. Kondisi ini terjadi karena si Kecil merasa ada yang salah dengan tubuhnya.

7. Mual dan muntah

ilustrasi bayi menangis (pexels.com/Laura Garcia)

Mual dan muntah juga bisa menjadi pertanda bayi mengalami diare. Kondisi ini tidak boleh disepelekan karena dapat semakin memicu tubuh si Kecil kehilangan banyak cairan.

Mual dan muntah bisa terjadi sebelum atau sesudah bayi diare. Mual dan muntah dapat terjadi akibat keracunan makanan maupun infeksi seperti gastroenteritis.

Kapan Harus ke Dokter?

ilustrasi memeriksakan bayi ke dokter anak (freepik.com/pressfoto)

Saat si Kecil sedang mengalami diare, Mama harus extra sabar mengganti popok dan membersihkannya setiap jam karena frekuensi BAB si Kecil lebih sering dari biasanya. Mama juga harus mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memeriksakan kondisi bayi yang mengalami diare untuk mencegah kondisi yang lebih fatal.

Mengutip dari Mayo Clinic, berikut ini beberapa tanda-tanda yang dapat Mama perhatikan sebagai waktu yang tepat untuk membawa si Kecil ke dokter:

  • Tidak ada perkembangan kondisi dalam 24 jam

  • Mengalami dehidrasi

  • Demam hingga 39 derajat celcius

  • Feses berdarah atau berwarna kehitaman.

Itu dia penjelasan mengenai tanda bayi diare dan kapan harus ke dokter agar cepat ditangani!

Ketahui tanda-tandanya agar dapat segera ditangani, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article