Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kenapa Bayi Tiba-Tiba Muntah saat Tidur? Ini Penyebabnya

4 min read
Kenapa Bayi Tiba-Tiba Muntah saat Tidur? Ini Penyebabnya
Popmama.com/Sofya Wardhani/AI
  • Bayi tiba-tiba muntah saat tidur bisa disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan, susu yang diminum terlalu banyak, refluks, lendir akibat pilek, atau stenosis pilorus.

  • Mama dapat menjaga posisi tidur bayi tetap aman, memberikan susu sedikit demi sedikit sesuai kondisinya, dan memantau tanda dehidrasi melalui frekuensi popok basah.

  • Jika muntah berwarna hijau, menyembur kuat berulang kali, disertai darah, atau bayi sulit dibangunkan, segera bawa si Kecil ke rumah sakit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bayi bisa mengalami muntah saat tidur karena berbagai hal, mulai dari gangguan pencernaan hingga susu yang masuk ke lambung terlalu banyak atau terlalu cepat. Kondisi ini terkadang berkaitan dengan refluks, yaitu naiknya kembali isi lambung ke kerongkongan.

Saat si Kecil tiba-tiba muntah ketika tidur, Mama mungkin merasa khawatir dan bingung menentukan langkah yang tepat. Penting untuk memperhatikan seberapa sering muntah terjadi, warna dan jumlah muntahan, serta gejala lain yang menyertainya agar Mama dapat mengenali kondisi yang perlu diwaspadai.

Berikut Popmama.com telah merangkum penyebab bayi tiba-tiba muntah saat tidur, seperti dikutip dari laman Pediatric Sleep Council.

Yuk, simak penjelasannya, Ma!

  1. 1. Susu yang diminum terlalu banyak atau terlalu cepat

    Susu yang diminum terlalu banyak atau terlalu cepat
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Bayi bisa muntah ketika minum susu dalam jumlah terlalu banyak atau terlalu cepat. Kondisi ini dapat terjadi saat si Kecil minum melebihi kapasitas lambungnya atau ketika aliran ASI dari payudara mama terlalu deras (fast let-down). Susu yang kembali keluar dari mulut dapat terlihat lebih banyak ketika bayi tertidur setelah menyusu.

    Kondisi ini sering kali tidak berbahaya jika hanya terjadi sesekali dan bayi tetap nyaman serta tumbuh dengan baik. Mama dapat mencoba memberikan susu dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan bayi, memberi jeda saat menyusu, dan membantu si Kecil bersendawa. 

  2. 2. Refluks asam lambung atau GERD

    Refluks asam lambung atau GERD
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Refluks terjadi ketika isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Pada bayi, kondisi ini dapat membuat susu keluar kembali melalui mulut dan lebih mudah terlihat setelah menyusu atau saat malam hari. Posisi berbaring dapat membuat gejala lebih terlihat, sementara sistem pencernaan bayi yang masih berkembang turut berperan dalam terjadinya refluks.

    Refluks pada bayi umumnya berkurang seiring bertambahnya usia dan sering membaik saat mendekati usia 12 bulan. Namun, Mama perlu memperhatikan tanda lain yang memerlukan evaluasi dokter untuk mengetahui apakah bayi mengalami GERD atau kondisi lain, seperti:

    1. Bayi melengkungkan punggung saat menyusu
    2. Rewel ketika minum susu
    3. Tidur terganggu
    4. Menolak menyusu
    5. Berat badan sulit bertambah

  3. 3. Tersedak lendir akibat pilek (post-nasal drip)

    Tersedak lendir akibat pilek (post-nasal drip)
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Saat bayi pilek, lendir dapat mengalir ke bagian belakang tenggorokan. Lendir tersebut bisa memicu refleks muntah sehingga bayi mengeluarkan campuran susu dan lendir. Kondisi ini dapat lebih terasa saat malam hari ketika bayi tidur.

    Jika muntah muncul bersamaan dengan pilek ringan dan tidak disertai gejala lain, lendir mungkin menjadi salah satu pemicunya. Namun, Mama tidak boleh langsung menganggap muntah sebagai akibat pilek jika muntah menyembur kuat, terjadi berulang kali, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan.

  4. 4. Gastroenteritis atau infeksi saluran pencernaan

    Gastroenteritis atau infeksi saluran pencernaan
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Gastroenteritis merupakan salah satu penyebab umum muntah pada bayi. Kondisi ini dapat dipicu oleh infeksi virus, seperti rotavirus dan norovirus, atau bakteri yang mengganggu saluran pencernaan. Selain muntah, bayi juga dapat mengalami diare. Infeksi ini bisa menular melalui kontak dengan orang yang terinfeksi atau benda dan makanan yang terkontaminasi.

    Hal yang perlu Mama waspadai adalah risiko dehidrasi akibat kehilangan cairan melalui muntah dan diare. Tanda-tandanya dapat berupa popok yang lebih jarang basah, mulut kering, dan bayi tampak lemas. Jika muntah terjadi berulang atau si Kecil menunjukkan tanda dehidrasi, ia perlu mendapatkan penilaian medis.

  5. 5. Stenosis pilorus atau penyempitan saluran keluar lambung

     Stenosis pilorus atau penyempitan saluran keluar lambung
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Stenosis pilorus merupakan kondisi ketika otot di bagian bawah lambung menebal sehingga menghambat susu masuk ke usus. Kondisi yang relatif jarang ini biasanya muncul ketika bayi berusia sekitar 3–8 minggu dan lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki.

    Tanda khasnya adalah muntah menyembur kuat (projectile vomiting) setelah menyusu. Bayi mungkin terlihat lapar kembali setelah muntah karena susu tidak dapat melewati lambung dengan baik. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi berat dalam waktu singkat dan umumnya memerlukan pemeriksaan USG.

  6. Penanganan Awal untuk Bayi yang Muntah saat Tidur

    Penanganan awal untuk bayi yang muntah saat tidur
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Ketika bayi muntah saat tidur, Mama perlu tetap tenang dan memperhatikan kondisi bayi. Melansir Blueberry Pediatrics, berikut beberapa langkah yang bisa Mama lakukan:

    1. Posisikan bayi dengan aman. Saat terjaga, gendong si Kecil dalam posisi tegak selama sekitar 20–30 menit setelah muntah. Jika kembali tidur, miringkan tubuh bayi ke arah kanan atau kiri agar cairan muntahan tidak masuk ke saluran pernapasan atau paru-paru 

    2. Puasakan sementara. Jangan langsung memberikan makanan padat atau susu selama 1–2 jam setelah bayi muntah agar refleks muntahnya mereda.

    3. Jangan langsung memberikan susu dalam jumlah banyak.  Setelah muntah mereda dan puasa sementara, tawarkan ASI atau susu formula sedikit demi sedikit. Untuk bayi yang masih sangat kecil atau muntah berulang, konsultasikan dengan dokter mengenai waktu dan jumlah pemberian susu berikutnya.

    4. Jangan memberikan obat antimuntah sembarangan. Obat seperti domperidone atau promethazine tidak boleh diberikan kepada bayi tanpa penilaian dan petunjuk dokter karena dapat menimbulkan efek samping serius.

    5. Kenali tanda bahaya. Segera bawa bayi ke UGD jika muntah berwarna hijau, mengandung darah, menyembur kuat berulang kali, atau disertai gangguan pernapasan maupun kondisi bayi yang sulit dibangunkan.

    Nah, itu dia deretan penyebab bayi tiba-tiba muntah saat tidur. Semoga informasi ini dapat membantu Mama.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More