Meski terlihat mengkhawatirkan, perilaku tersebut tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan, lho. Pada sebagian bayi, membenturkan kepala merupakan perilaku berulang yang dapat muncul selama proses tumbuh kembang.
Normalkah Bayi Usia di Bawah Satu Tahun Suka Membenturkan Kepala?

Kebiasaan membenturkan kepala cukup umum pada bayi, dapat muncul sejak usia 6 bulan, dan tidak otomatis menandakan autisme.
Perilaku ini bisa karena self-soothing, nyeri seperti tumbuh gigi atau infeksi telinga, mencari perhatian, maupun frustrasi karena bayi belum mampu menyampaikan emosi dengan kata-kata.
Orangtua disarankan mengalihkan perhatian, mengamankan area dari barang-barang, dan tetap tenang; konsultasikan ke dokter bila terjadi cedera dan makin intens.
Mama dan Papa tentu ingin memastikan si Kecil tumbuh dengan aman dan terhindar dari cedera. Berbagai upaya pun dilakukan, mulai dari mengamankan sudut perabot hingga menyediakan mainan yang sesuai dengan usianya. Tapi, bagaimana jika bayi justru memiliki kebiasaan membenturkan kepalanya ke dinding, lantai, atau benda di sekitarnya?
Berikut Popmama.com telah merangkum informasi menarik seputar normalkah bayi usia di bawah satu tahun suka membenturkan kepala?
Table of Content
Bayi di Bawah Satu Tahun Suka Membenturkan Kepala, Apakah Normal?

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Kebiasaan membenturkan kepala atau head banging merupakan perilaku yang cukup umum dan normal pada bayi. Perilaku ini dapat mulai muncul sejak usia 6 bulan, meskipun lebih sering ditemukan pada anak berusia 18–24 bulan. Sekitar 1 dari 5 bayi dan balita dilaporkan pernah menunjukkan perilaku tersebut, melansir laman Rising Children Network.
Apakah kebiasaan ini menandakan autisme?
Head banging memang dapat ditemukan pada anak dengan autisme. Perilaku ini menjadi cara mereka untuk mengekspresikan frustrasi atau mencari stimulasi sensorik. Namun, bayi yang suka membenturkan kepala belum tentu mengalami autisme. Penilaian perlu mempertimbangkan perkembangan dan perilaku si Kecil secara keseluruhan.
Alasan Bayi Suka Membenturkan Kepala

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Ada berbagai alasan yang dapat membuat bayi membenturkan kepala secara berulang. Dikutip dari Healthline, berikut beberapa kemungkinan penyebab bayi suka membenturkan kepala:
- Bentuk self-soothing. Gerakan berulang dapat membantu sebagian bayi merasa lebih tenang, misalnya ketika mengantuk atau menjelang tidur.
- Merasa nyeri atau tidak nyaman. Tumbuh gigi, infeksi telinga, atau kondisi lain yang menimbulkan rasa sakit dapat memicu perubahan perilaku pada bayi.
- Mencari perhatian. Bayi mungkin menyadari bahwa perilaku tersebut membuat Mama dan Papa segera mendekat atau memberikan perhatian.
- Melampiaskan frustrasi. Karena belum mampu mengungkapkan keinginan dan emosinya dengan kata-kata, bayi dapat menunjukkan rasa kesal melalui gerakan tubuh, termasuk membenturkan kepala.
Sampai Usia Berapa Kebiasaan Membenturkan Kepala Berlangsung?

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Kebiasaan membenturkan kepala umumnya berhenti dengan sendirinya saat anak berusia 3–5 tahun. Seiring bertambahnya usia, perilaku ini biasanya semakin jarang dilakukan. Bahkan, prevalensinya dilaporkan turun menjadi sekitar 5% pada anak berusia 5 tahun, dikutip dari laman Baby Center.
Meski umumnya akan berkurang seiring perkembangan anak, rentang usia tersebut bukan patokan mutlak. Mama dan Papa tetap perlu memperhatikan frekuensi serta intensitasnya, terutama jika kebiasaan ini terus berlanjut atau sampai menyebabkan cedera.
Cara Merespons Bayi yang Suka Membenturkan Kepala

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Respons yang tenang dan konsisten dapat membantu orangtua menghadapi perilaku tersebut, sekaligus mengurangi risiko bayi terbentur permukaan yang keras. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan.
- Alihkan perhatian si Kecil dengan menawarkan mainan yang aman atau ajak bayi melakukan aktivitas lain ketika mulai membenturkan kepala.
- Jauhkan bayi dari dinding, sudut perabot, atau permukaan keras yang berisiko menyebabkan cedera.
- Tetap tenang dan bantu si Kecil menenangkan diri tanpa memarahi atau memberikan reaksi berlebihan.
- Jika perilaku muncul karena keinginannya tidak terpenuhi, tenangkan dan alihkan perhatiannya tanpa menjadikan membenturkan kepala sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu.
- Pastikan area bermain bebas dari benda tajam dan keras yang dapat melukai bayi.
Kapan Anak Perlu Dikonsultasikan ke Dokter?

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Orangtua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika kebiasaan membenturkan kepala menyebabkan cedera, semakin intens, atau mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan juga diperlukan jika perilaku tersebut masih sering terjadi setelah usia 3 tahun, terutama bila disertai tanda lain yang mengarah pada masalah perkembangan.
Jika kepala si Kecil terbentur keras lalu mengalami muntah berulang, kejang, kehilangan kesadaran, atau sulit dibangunkan, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis.
Itulah penjelasan mengenai bayi di bawah satu tahun yang suka membenturkan kepala. Semoga informasi ini dapat membantu Mama.






















