5 Cara Mengajarkan Anak Menahan Emosi saat Puasa Ramadan

Mengajarkan anak untuk selalu sabar, ikhlas, dan pemaaf

11 Mei 2020

5 Cara Mengajarkan Anak Menahan Emosi saat Puasa Ramadan
Freepik

Kebanyakan orang pasti setuju kalau emosi adalah hal yang sulit ditahan selama berpuasa, tidak hanya bagi orangtua namun juga berlaku untuk anak-anak. Emosi merupakan reaksi atau perasaan yang ditujukkan anak ketika mengalami suatu kejadian. Gejolak emosi yang terjadi pada anak merupakan hal yang wajar.

Semakin bertambahnya usia, semakin banyak dan jelas rasa emosi yang mereka sadari, pasalnya banyak hal yang tak diduga terjadi dan seringkali memicu emosinya, seperti marah, sedih, senang, takut, kecewa merupakan bentuk emosi yang dapat diekspresikan. Namun, anak harus bisa berusaha menahannya demi kelancaran dan berkah puasa.

Selain berasal dari dalam diri anak sendiri, emosi juga bisa dipengaruhi dari lingkungannya. Sebagai orangtua tentunya Mama ingin memiliki anak yang dapat mengatur emosinya dengan baik, terlebih lagi saat-saat bulan puasa.

Nah kali ini Popmama.com akan memberikan 5 cara mengajarkan anak menahan emosi saat puasa Ramadan. Yuk disimak!

1. Tidak menjadikan hal-hal kecil menjadi sebuah masalah dengan mengajarkan ikhlas dan memaafkan

1. Tidak menjadikan hal-hal kecil menjadi sebuah masalah mengajarkan ikhlas memaafkan
Freepik/jcomp

Dari kecil, anak terbiasa untuk melihat pola tingkah laku orangtuanya, terkadang anak dapat mengikutinya dan menjadikannya kebiasaan juga. Agar anak dapat mengontrol emosi, berikan contoh pada anak untuk tidak menjadikan hal-hal kecil menjadi sebuah masalah. Terkadang masalah kecil pada anak sering muncul dari hal-hal yang tak terduga.

Selama berpuasa Mama dapat mengajarkan anak untuk lebih menahan diri untuk tak mudah mempermasalahkan hal-hal kecil yang dialami. Ajak anak untuk berdiskusi apa permasalahan yang ia alami lalu cari solusinya bersama. Jika anak mengalami permasalahan dengan orang lain, Mama dapat mengajarkan anak untuk belajar ikhlas dan memaafkan.

Pahami bahwa, jika anak hanya sekadar menahan diri tanpa ikhlas dan memaafkan, bisa jadi rasa kesal itu tersimpan dan menjadi dendam di hati yang akan dapat meledak suatu hari.

Editors' Picks

2. Jika sudah terpancing emosi, anak anak untuk mengatur pernafasannya agar menjadi lebih tenang

2. Jika sudah terpancing emosi, anak anak mengatur pernafasan agar menjadi lebih tenang
Freepik

Jika anak sudah terpancing emosinya dengan menangis atau berteriak, tenangkan anak dengan mencoba untuk mengatur permafasannya. Dengan mengajaknya untuk menarik nafas dalam, lalu menahannya selama 10 detik, dan buang secara perlahan.

Tetapi jika emosinya sudah tak terbendung lagi, tambah waktu untuk menahan nafas atau ulangi selama beberapa kali. Melakukan hal ini terbukti efektif bagi orangtua dan anak-anak untuk meredam emosi, karena akan membuatnnya jauh lebih tenang dari sebelumnya.

3. Hindari untuk memulai sesuatu yang dapat memicu amarah anak kembali lagi

3. Hindari memulai sesuatu dapat memicu amarah anak kembali lagi
Freepik/tirachardz

Selain mempermasalahkan hal-hal kecil, Mama dapat menghindari anak dari sesuatu yang sekiranya bisa memicu amarahnya muncul kembali. Misalnya, tidak membicarakan atau tidak menanyai nya lagi setelah ia lebih tenang, lalu tidak memberikan komentar yang menyudutkan anak, atau bertindak jahil pada anak.

Hal ini juga menghindari anak untuk menjadi anak yang emosian, memiliki pikiran dan tindakan negative, dan memiliki trauma dari apa yang anak alami. Buat orangtua menjadi tempat yang aman untuknya. Maka jika anak menghadapi kesulitan apapun Mama akan menjadi tempat aman untuk membuat keadaan akan kembali baik-baik saja.

4. Mencari sesuatu kegiatan yang dapat mengalihkan perhatiannya agar emosi tak terluapkan

4. Mencari sesuatu kegiatan dapat mengalihkan perhatian agar emosi tak terluapkan
Freepik/Prostooleh

Agar emosi tidak muncul kembali, cari sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian anak dari sesuatu yang mungkin dapat memicu emosinya terluapkan. Seperti mengajak anak bermain bersama, membacakan cerita, menonton film favoritnya, atau membantu Mama menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.

Cobalah untuk melakukan sesuatu yang membuatnya senang dan beraktivitas lagi. Biarkan rasa emosi itu memudar dengan sendirinya sehingga anak sudah tak lagi fokus memikirkannya, tentunya anak akan menjadi lupa dengan masalahnya dan menjadi lebih tenang.

5. Mengingatkan anak bahwa bulan Ramadan merupakan momen sakral yang suci agar lebih menahan emosi

5. Mengingatkan anak bahwa bulan Ramadan merupakan momen sakral suci agar lebih menahan emosi
Freepik/Prostooleh

Berikan pengertian pada anak, jika ia sering emosi dengan marah-marah itu adalah hawa nafsu yang membuat puasanya menjadi tak membawa berkah lagi. Pelajaran ini mungkin akan paling sulit dilawan anak, namun ingatkan jika akan ada imbalan yang akan ia dapatkan ketika berhasil menaklukan rasa emosinya.

Yakinkan pada anak bahwa ia dapat mengontrol emosi dengan baik selama bulan puasa, dengan mengingat bahwa bulan Ramadan adalah momen sakral dan suci yang terjadi satu tahun sekali. Sayang sekali kan kalau anak sedang belajar berpuasa namun gagal menahan diri dari emosi?

Karena menjadi sosok penyabar tak bisa didapatkan secara instan, mengajari anak untuk sabar, ikhlas, dan pemaaf memang harus sejak dini.

Peran orangtua disini juga sangat penting lho untuk lebih berhati-hati dalam mengambil sikap, karena Mama merupakan contoh pertama dalam hidupnya sehingga apa yang dilakukan mungkin dapat ditirunya.

Itulah cara mengajarkan anak menahan emosi saat puasa Ramadan. Menjalaninya memang banyak tantangan untuk anak, berikan dukungan dengan menstabilkan mood dan menjaga kesehatannya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.