Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Hal Mengerikan yang Terjadi pada Otak Anak Jika Kecanduan Gadget

Anak sedang bermain gadget
Freepik
Intinya sih...
  • Kecanduan gadget bukan hanya soal kebiasaan anak bermain layar, tetapi juga memicu perubahan serius pada cara kerja otak mereka

  • Paparan gadget berlebihan dapat mengganggu sistem dopamin, emosi, fokus, kreativitas, hingga kemampuan sosial anak

  • Jika tidak dibatasi sejak dini, kecanduan gadget bisa berdampak jangka panjang pada proses tumbuh kembang dan otak anak

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah Mama merasa khawatir melihat anak yang begitu sulit lepas dari gadget? Tantrum saat HP diambil, rewel kalau tidak dikasih nonton, bahkan sampai mogok makan jika tidak ada gadget di depan mata.

Ini bukan sekadar kebiasaan buruk. Perlu Mama ketahui bahwa ada perubahan signifikan yang sedang terjadi di dalam otak anak, terlepas dari berapa lama screen time yang mereka habiskan.

Berdasarkan studi UNICEF 2023, mayoritas anak menggunakan internet rata-rata 5,4 jam per hari. Angka ini cukup mengkhawatirkan karena paparan yang intens seperti ini ternyata bisa memengaruhi cara kerja otak anak.

Simak penjelasan Popmama.com berikut ini tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak anak ketika kecanduan gadget.

Table of Content

1. Otak anak kecanduan gadget mirip dengan otak pecandu narkoba

1. Otak anak kecanduan gadget mirip dengan otak pecandu narkoba

Ilustrasi Otak
Freepik

Menurut jurnal Children's Health in the Digital Age, terlalu banyak main gadget menyebabkan gangguan zat serotonin dan dopamin, dua zat kimia otak yang mengatur perasaan senang dan bahagia, pada otak anak.

Gangguan pada jalur dopamin dan serotonin akibat paparan gadget berlebihan menciptakan pola yang sama dengan sindrom penyalahgunaan adiktif.

Setiap kali anak bermain gadget, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar di area reward system (sistem penghargaan otak), bagian otak yang mengatur respons terhadap hal-hal yang menyenangkan.

Lama-kelamaan, otak menjadi terbiasa dengan lonjakan dopamin tinggi ini dan membutuhkan stimulasi yang semakin kuat untuk merasakan kepuasan yang sama.

Ketika jalur ini terganggu, otak anak mulai bekerja seperti otak pecandu, mereka terus mencari gadget sebagai sumber dopamin karena aktivitas lain tidak lagi memberikan perasaan senang yang cukup.

2. Gangguan pada sistem dopamin alami

Anak sedang bermain gadget saat sarapan
Freepik

Ketika otak anak terus-menerus mendapat stimulasi dari gadget, sistem dopamin alami mereka mulai terganggu. Otak kehilangan kemampuan menghasilkan dopamin dari aktivitas sederhana seperti bermain di luar atau membaca buku.

Akibatnya, anak jadi susah merasa bahagia tanpa gadget dan selalu butuh stimulasi tinggi.

Masalah jadi lebih rumit karena anak yang kecanduan gadget cenderung jarang beraktivitas di luar ruangan. Padahal aktivitas di luar penting untuk produksi vitamin D yang ternyata punya peran krusial dalam sistem dopamin otak.

"There is now growing evidence that vitamin D ensures the healthy function of the neurotransmitter dopamine in the central nervous system," menurut jurnal Children's Health in the Digital Age.

Artinya, vitamin D memastikan fungsi sehat dopamin di otak. Defisiensi vitamin D karena kurang aktivitas di luar justru memperburuk gangguan produksi dopamin yang sudah terjadi.

3. Tantrum saat gadget diambil

Anak tantrum
Freepik/pvproductions

Begitu gadget diambil, anak langsung tantrum hebat. Menangis, berteriak, bahkan sampai memukul. Ini bukan sekadar drama atau anak yang manja. Reaksi otak anak saat itu mirip dengan withdrawal symptoms atau gejala putus obat pada pecandu narkoba.

Prefrontal cortex, area otak yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan, pada anak memang belum matang sepenuhnya. Perkembangan area ini baru selesai sekitar usia 25 tahun.

Sementara itu, sistem reward di otak anak sudah terlatih mendapatkan dopamin secara instan setiap kali mereka membuka gadget. Ketika gadget diambil, terjadi ketidakseimbangan drastis, otak menuntut dopamin yang biasa didapat, tapi sumbernya tiba-tiba hilang.

Karena prefrontal cortex belum cukup kuat untuk mengontrol dorongan emosi ini, anak tidak bisa menahan respons otomatis otaknya. Mereka belum mampu berpikir rasional.

Yang muncul adalah ledakan emosi frustasi, marah, panik karena otak mereka benar-benar sedang mengalami gangguan keseimbangan kimia yang membuat mereka tidak nyaman secara fisik dan emosional.

4. Kemampuan fokus dan konsentrasi menurun

Anak lesu saat belajar
Freepik

Akibat kecanduan gadget, attention span atau rentang perhatian anak menjadi semakin pendek.

Mereka sulit fokus pada satu hal dalam waktu lama, terutama aktivitas yang membutuhkan kesabaran seperti mendengarkan penjelasan guru atau menyelesaikan tugas.

Penurunan attention span saat mengerjakan tugas membuat anak jadi lebih mudah kehilangan fokus. Kondisi ini berdampak langsung pada kemampuan belajar anak di sekolah karena mereka kesulitan berkonsentrasi dalam waktu yang cukup lama.

Hal ini juga didukung oleh penelitian pada 262 individu usia 7-85 tahun yang dipublikasikan dalam jurnal Quantifying attention span across the lifespan menemukan bahwa rentang perhatian anak hanya median 27,37 detik, jauh lebih sedikit dibanding remaja yang mencapai 72,17 detik.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi anak dalam mengikuti pembelajaran yang menuntut fokus dan konsentrasi lebih lama.

5. Kreativitas dan imajinasi tumpul

Daya kreativitas dan imajinasi tidak berkembang
Freepik/zinkevych

Ketika semua sudah tersedia di layar gadget, otak anak menjadi kurang terstimulasi untuk berpikir kreatif. Mereka tidak perlu lagi membayangkan atau menciptakan sesuatu karena semuanya sudah ditampilkan secara visual dan instan.

Apalagi dengan kemudahan akses internet dan AI, anak bisa mendapatkan jawaban atau solusi apapun hanya dengan sekali klik.

Mau gambar? Tinggal minta AI. Mau jawaban PR? Tanya AI. Mau cerita? Sudah ada ribuan video di YouTube. Otak anak tidak lagi dilatih untuk berpikir, mengeksplorasi, atau mencari solusi sendiri.

Anak yang seharusnya bisa berimajinasi membuat istana dari kardus atau menciptakan cerita sendiri, kini hanya pasif menerima konten yang disuguhkan gadget. Aktivitas di area otak yang bertanggung jawab untuk imajinasi berkurang drastis karena kurangnya latihan.

Ketergantungan pada gadget, internet, dan AI ini perlahan mengikis kemampuan alami anak untuk berpikir kreatif dan memecahkan masalah dengan cara-cara baru.

6. Gangguan perkembangan emosional dan sosial

Anak yang dijauhi oleh temannya
Freepik/gpointstudio

Data UNICEF 2023 mengungkapkan sebanyak 51% anak tidak pernah membicarakan aktivitas online mereka dengan orangtua atau orang terdekat.

Sebaliknya, 32,1% anak justru dengan mudah membagikan informasi pribadi kepada orang asing di internet, dan 24% anak bahkan berani bertemu langsung dengan orang yang baru mereka kenal secara online.

Angka ini mencerminkan masalah perkembangan sosial yang serius. Anak yang kecanduan gadget menghabiskan lebih banyak waktu di layar daripada berinteraksi langsung dengan orang di sekitarnya.

Akibatnya, mereka kurang terlatih membaca isyarat sosial seperti ekspresi wajah, nada bicara, dan bahasa tubuh.

Keterampilan ini penting untuk menilai apakah seseorang bisa dipercaya atau tidak. Karena tidak punya "radar sosial" yang terasah, anak jadi mudah percaya pada orang asing di internet dan tidak melihat risiko dalam membagikan informasi pribadi

7. Gangguan tidur yang merusak perkembangan otak

Anak main gadget sebelum tidur
Freepik

Paparan gadget sebelum tidur bukan hanya membuat anak susah tidur. Cahaya dari layar gadget ditangkap oleh retina mata dan diterjemahkan otak sebagai tanda siang hari, sehingga menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur.

"Pada anak, penghambatan melatonin ini dapat menyebabkan keterlambatan waktu tidur, kesulitan memulai tidur, serta penurunan durasi tidur secara keseluruhan," menurut penelitian dari Unesa tentang hubungan paparan blue light dengan gangguan melatonin dan kualitas tidur anak.

Akibatnya, anak tidak tidur nyenyak, sering terbangun di malam hari, dan merasa kurang segar saat bangun pagi. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi konsentrasi, regulasi emosi, daya ingat, serta pertumbuhan fisik anak karena hormon pertumbuhan banyak dilepaskan saat tidur malam.

Dampak kecanduan gadget ternyata jauh lebih serius dari yang terlihat. Dari perubahan struktur otak hingga gangguan tidur, semuanya saling terkait dan memengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan.

Setelah mengetahui berbagai hal mengerikan yang terjadi pada otak anak kecanduan gadget, apakah Mama masih ingin membiarkan anak terus terpapar gadget tanpa batas?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

Kreator Konten Thepaparock Resmi Laporkan Pelaku Bullying Anaknya

27 Jan 2026, 14:38 WIBBig Kid