5 Cara untuk Menumbuhkan Jiwa Kompetisi pada Anak

Punya semangat kompetitif ternyata penting untuk masa depan si Anak

11 September 2018

5 Cara Menumbuhkan Jiwa Kompetisi Anak
Freepik/freephoto

Setiap orangtua pasti ingin anaknya cerdas, pantang menyerah, dan sukses. Namun tahukah Mama kalau jiwa kompetitif adalah faktor utama dalam meraih kesuksesan? Ya, kecerdasan saja belum cukup untuk bisa sukses, anak juga memerlukan kompetisi.

Sayangnya, beberapa anak kerap kalah sebelum berjuang. Dengan kata lain, anak tidak kompetitif. Padahal jika dilakukan dengan tepat, kompetisi sangat penting lho untuk perkembangan anak.

“Kompetisi mengajarkan si Kecil kalau anak yang paling pintar tidak selalu sukses, tetapi mereka yang bekerja keras dan terus berusaha,” ujar Timothy Gunn, Psy.D, neuropshychologist anak dari Gunn Psychological Services, kepada Parents.com. Menurutnya, aktivitas yang kompetitif membantu anak mengembangkan aneka kemampuan penting yang berguna hingga dewasa kelak, seperti mengembangkan empati, mengantri giliran, dan ketekunan.

Sayangnya, ada saja anak yang takut menghadapi kekalahan, sehingga ia merasa tidak suka berkompetisi. Jika dibiarkan, lama kelamaan anak akan kehilangan jiwa kompetitif di dalam dirinya (dan itu tidak boleh terjadi!).

Jika anak Mama kurang kompetitif, jangan khawatir dulu, Ma. Ikuti 5 langkah mudah untuk menumbuhkan jiwa kompetitif anak berikut ini, yuk.

1. Puji kerja keras anak

1. Puji kerja keras anak
Freepik/Freephoto

Ini cara termudah untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Jika ia sudah cukup percaya diri, maka Mama akan lebih mudah untuk merangkulnya mengikuti berbagai kompetisi. Namun jangan salah dalam memberikan pujian ya, Ma. Mama sebaiknya tidak memuji anak karena ia pintar, namun berilah pujian ketika ia sudah menunjukkan kerja keras.

Dengan menghargai kerja keras anak, maka anak akan tumbuh menjadi sosok yang gigih dan tidak takut menghadapi kekalahan.

Maka jangan lagi mengatakan, “Mama bangga nilai matematika kamu dapat 100,” melainkan beri ia kalimat pujian seperti, “Mama bangga kamu sudah berusaha keras saat belajar matematika, tidak heran hasilnya bagus.”

2. Jangan terlalu fokus pada hasil

2. Jangan terlalu fokus hasil
Freepik/asierromero

Semua orangtua memang bangga kalau anaknya dapat nilai terbaik di semua pelajaran. Namun jangan sampai ini membuat anak justru merasa tertekan, Ma. Anak bisa stres, frustrasi, dan justru tidak menyukai pelajaran itu.

Editors' Picks

3. Belajar menerima kegagalan

3. Belajar menerima kegagalan
Freepik/freephoto

Kegagalan adalah awal dari kesuksesan? Sepertinya ini benar, Ma. Anak sebaiknya memang tidak takut gagal, karena takut gagal bisa membuatnya takut berjuang juga. Banyak anak yang tidak berani berkompetisi, karena tidak bisa menerima kegagalan, atau karena tidak tahu harus berbuat apa setelah dinyatakan gagal.

Untuk itu, Mama bisa menceritakan kepada anak tentang kegagalan yang pernah Mama alami, dan bagaimana caranya untuk bangkit. Mama perlu berbagi semangat untuk tidak takut akan kegagalan, bahwa kalah menang itu hal biasa, dan yang terpenting adalah anak berani mencoba.

Mengambil contoh dari atlet-atlet Asian Games kemarin bisa jadi cara yang tepat untuk mengajarkan kalah-menang dalam berkompetisi.

4. Jangan malu menerima bantuan

4. Jangan malu menerima bantuan
Freepik/User6873431

Menurut survey Jake Neuberg dan Ramit Varma, pendiri Revolution Prep dan anggota Young Presidents Organization, banyak orangtua yang berbohong saat memamerkan kehebatan anaknya di sekolah.

Bahkan, banyak orangtua yang tidak mau orang lain tahu kalau anaknya butuh guru privat untuk bisa mengerti pelajaran di sekolah. Padahal, orangtua tidak perlu malu ketika anaknya menerima bantuan, karena itu bisa mengajarkan anak tentang apa kekurangannya yang masih perlu diperbaiki.

5. Menerima kekurangan dan kelebihan

5. Menerima kekurangan kelebihan
Freepik.com/Pressphoto

“Andi memang jago lari, tetapi kamu perenang yang lebih baik dari dia.” Kalimat yang membanding-bandingkan anak Mama dengan anak lain bukanlah contoh kalimat yang tepat untuk memotivasi anak. Memberi pujian atas kerja kerasnya itu penting, namun Mama sebaiknya tidak membuat anak merasa nyaman dengan memojokkan anak lain.

Mama bisa membuatnya menerima kekurangan dan kelebihan dirinya juga orang lain, karena itulah esensi dari kompetisi.

Ketika anak sudah mengerti kekurangan dan kelebihan dirinya, maka ia tentu tidak akan takut berkompetisi dan lebih bisa menerima kekalahan. Jika ada temannya yang memang lebih hebat dari dirinya, ia perlu mengakui kehebatan itu, dan jadikan itu sebagai motivasi untuk menjadi pejuang yang lebih baik lagi.

Selamat berjuang, Ma!