Awas! Memberikan Makanan Sebagai Hadiah Bisa Berdampak Buruk

Kebiasaan ini menyebabkan anak-anak mengalami gangguan pola makan. Bahaya banget, Ma

25 Februari 2020

Awas Memberikan Makanan Sebagai Hadiah Bisa Berdampak Buruk
Pixabay/publicdomainpictures

Sebagai orangtua, memberikan penghargaan atas apa yang dilakukan anak adalah hal yang wajar dilakukan. Apalagi jika hal tersebut berhasil memotivasi anak untuk mengubah kebiasaan buruknya, atau melakukan sesuatu yang sebelumnya ia tak mau lakukan. 

Alih-alih barang atau aktivitas seperti pergi ke taman bermain, sebagian orangtua memilih memberikan makanan sebagai bentuk penghargaan. Menjanjikan ke anak akan mengajaknya ke gerai makanan cepat saji jika ia mau membantu Mama membersihkan kamar, sesekali tidak apa-apa. Tetapi jika hal ini sering dilakukan, bahkan menjadi bentuk penghargaan utama yang diberlakukan di rumah, dampaknya buruk lho, Ma. 

Makanan Seharusnya Tidak Dijadikan Hadiah

Makanan Seharus Tidak Dijadikan Hadiah
Freepik/Senivpetro

Salah satu sahabatPopmama.com mengatakan bahwa makanan menjadi hadiah yang termurah dan termudah yang bisa diberikan pada anak. Selain itu, makanan bukanlah benda mewah sehingga sang Anak tidak akan terlalu terikat dengannya. Tetapi, anggapan ini salah.

Ketika orangtua membiasakan memberi hadiah berupa makanan pada anak, tanpa disadari kita mengajari mereka bahwa makanan adalah sesuatu yang harus didapatkan. Padahal, makanan seharusnya tidak diperoleh sebagai bentuk timbal-balik yang sifatnya transaksional. Manusia perlu makan untuk bertahan hidup. Tidak boleh ada ikatan apapun yang melekat padanya selain untuk tujuan tersebut. 

Dapat Mengubah Relasi Anak Terhadap Makanan

Dapat Mengubah Relasi Anak Terhadap Makanan
Freepik/Anchaleeyates

Dilansir dari usnews.com, Anna Lutz, seorang ahli diet dan spesialis gangguan makan di North Carolina, mengungkapkan, "Menggunakan makanan sebagai hadiah dapat mengubah kemampuan alami anak makan secara intuitif." 

Menggunakan makanan sebagai hadiah berpotensi mengganggu kemampuan anak untuk mengenali sinyal rasa lapar dan kenyang secara biologis. Bagi anak yang dibesarkan dengan konsep makanan sebagai respons terhadap rasa lapar pada waktu makan tertentu, memberikan cokelat sebagai hadiah agar ia mau tidur siang, dapat mengubah cara pandang dan relasi anak dengan makanan.

Editors' Picks

Anak Akan Menilai Makanan Lebih Tinggi Daripada Hal Lain

Anak Akan Menilai Makanan Lebih Tinggi Daripada Hal Lain
Freepik/anchaleeyates

Ketika orangtua menggunakan makanan sebagai hadiah, secara tak langsung kita mengajari anak bahwa makanan itu langka dan sifatnya dipuja, sehingga mereka harus melakukan sesuatu yang sulit untuk mendapatkannya.

Sebaliknya, ketika orangtua memperlakukan makanan sebagai hadiah utama, secara tak langsung anak berpendapat bahwa ini adalah hadiah terbaik dibandingkan hal-hal lain, seperti kebanggaan atau menikmati proses dari kerja kerasnya.

Anak Merasa Kebutuhan Emosionalnya Terpenuhi dengan Makanan

Anak Merasa Kebutuhan Emosional Terpenuhi Makanan
Freepik

Dilansir dari usnews.com, Sumner Brooks, ahli diet dan pendiri EDRDPro, sebuah platform pendidikan untuk spesialisasi pengobatan gangguan makan mengatakan, "Penelitian menunjukkan, anak yang sering mendapatkan makanan sebagai hadiah, cenderung menggunakan makanan untuk mengatasi emosinya. Terutama untuk merespon emosi negatif, ketimbang makan karena faktor lapar."

Menjadikan makanan sebagai bagian dari perayaan yang menggembirakan boleh kok, Ma. Tetapi bedakan peran makanan dalam perayaan yang positif, dengan menggunakan makanan untuk menghargai perilaku anak. Ketika makanan hadir sebagai hadiah, anak akan menganggapnya sebagai dasar di mana ia akan terus menginginkannya lebih banyak lagi di kemudian hari.

Alih-alih makanan, Mama bisa memberikan hadiah atas usaha dan kerja keras anak berupa aktivitas yang membangun, misalnya memberikan waktu ekstra untuk bermain di luar rumah atau memberinya hadiah alat musik yang diidam-idamkannya. 

Semoga menginspirasi, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.