Penyebab, Gejala dan Penanganan Alergi Protein Susu Sapi pada Anak

Cari tahu dan jauhkan si Kecil dari bahaya alergi makanan yang satu ini

21 Juli 2020

Penyebab, Gejala Penanganan Alergi Protein Susu Sapi Anak
Freepik

Kebanyakan orang mungkin setuju dengan pendapat bahwa susu sapi merupakan salah satu makanan yang menyehatkan. Terdapat banyak kandungan nutrisi di dalam susu yang amat baik bagi pertumbuhan anak. Namun ternyata itu tidak berlaku bagi semua orang. 

Ada beberapa anak yang malah alergi ketika mengonsumsi produk susu beserta turunannya, terutama susu sapi. Ini merupakan bentuk penolakan tubuh pada protein susu sapi.

Sehingga menimbulkan reaksi pada sistem pencernaan si Kecil ketika ia mengonsumsi produk susu sapi. 

Yuk waspadai dan hindari si Kecil dari alergi protein susu sapi ini!

Popmama.com akan telah merangkum informasi seputar cara pencegahan, pengobatan, gejala dan penyebab Alergi protein susu sapi pada anak. Terus simak pembahasannya ya, Ma!

1. Apa itu alergi protein susu sapi?

1. Apa itu alergi protein susu sapi
parents.com

Alergi protein susu sapi, atau yang disebut Cow Milk Protein Allergy (CMPA) adalah respons abnormal sistem kekebalan tubuh terhadap protein yang terdapat pada susu, khususnya susu sapi. Ini juga termasuk produk turunannya yang mengandung protein serupa. 

Reaksi keliru sistem kekebalan tubuh menyebabkan terjadinya gangguan pada tubuh. Ini termasuk masalah pada kulit (ruam, gatal-gatal, kulit kering, bersisik atau gatal), sistem pencernaan, juga sistem pernapasan (bernapas, batuk, pilek).

Alergi protein susu sapi ini merupakan alergi makanan yang terjadi paling umum pada bayi. Menurut pharmaceutical-journal.com, sebuah studi pan-Eropa menggunakan uji tantangan makanan standar emas untuk diagnosis dikonfirmasi CMPA pada sekitar 1% anak-anak berusia hingga dua tahun.

2. Penyebab Alergi Protein Susu Sapi

2. Penyebab Alergi Protein Susu Sapi
Homegymr
Susu mana yang baik

Pada umumnya, kerusakan sistem kekebalan tubuh merupakan penyebab utama semua alergi makanan. Alergi protein ini disebabkan oleh sistem kekebalan anak yang mengidentifikasi protein susu tertentu sebagai zat berbahaya. memicu produksi antibodi imunoglobulin E (IgE). Antibodi IgE akan memberi sinyal sistem kekebalan untuk melepaskan histamin dan bahan kimia lain yang menyebabkan munculnya gejala alergi.

Selain akibat kekeliruan sistem kekebalan tubuh, protein susu juga menjadi penyebab yang lain. Seperti yang dilansir dari mayoclinic.org, ada dua protein susu yang merupakan terjadinya alergi ini, yaitu adalah kasein dan whey. Kasein terdapat pada bagian padat (dadih) susu yang mengental, sedangkan whey, ditemukan di bagian cair susu yang tersisa dari dadih susu.

Editors' Picks

3. Apa saja gejala alergi ini?

3. Apa saja gejala alergi ini
Google/Orami

Alergi protein susu sapi ini memiliki gejala yang cukup berbeda dari orang ke orang. Gejala umumnya muncul dan berkembang seminggu pertama ketika anak mengonsumsi susu sapi dan produk turunan. 

Gejala yang umumnya muncul sebagai bentuk reaksi terhadap protein susu sapi ialah seperti muntah, diare, terdapat lendir dan / atau darah dalam tinja, juga sakit perut. Beberapa anak lainnya mungkin mengalami ruam, pilek atau kesulitan bernapas.

4. Pencegahan yang dapat Mama lakukan

4. Pencegahan dapat Mama lakukan
Freepik

Sebenarnya tidak ada cara pasti mencegah alergi makanan kecuali mencegah makanan yang dapat menjadi pemicu. Jika anak mama mengidap alergi terhadap produk susu, Mama dapat mengurangi konsumsi susu atau makanan yang mengandung susu.

Contoh makanan yang merupakan produk turunan susu yang perlu dihindari ialah; roti, mentega, keju, es krim, permen dengan rasa coklat atau karamel, dan bahan makanan yang dieja dengan awalan "lakt" - seperti laktosa dan laktat.

Mama perlu lebih perhatian ketika membeli produk di supermarket atau ketika makan di restoran. Ada baiknya kamu memahami setiap bahan makanan yang diolah dari susu, dan bertanya ketika memesan di restoran. Bacalah juga label makanan dengan cermat. Sebab makanan seperti beberapa tuna kaleng, sosis, atau bahkan produk nondairy dapat mengandung susu. 

Mama juga dapat tetap mencukupi kebutuhan gizi anak melalui beberapa produk susu nabati, sebut saja susu kacang kedelai. 

5. Cara mengobati alergi protein ini

5. Cara mengobati alergi protein ini
Freepik/xb100

Tindakan pengobatan yang paling tepat untuk alergi protein yang satu ini sebenarnya dapat dilakukan dengan menghindari produk susu dan makanan olahan susu. Sebaiknya Mama mengetahui makanan yang mengandung susu dan menghindarinya. Mama dapat bertanya pada dokter mengenai makanan atau minuman apa saja yang baik untuk dikonsumsi.

Penanganan lain dapat dilakukan melalui pemberian obat-obatan. Obat yang sering digunakan untuk meredakan gejala dan reaksi alergi alergi ini ialah Antihistamin.

Jika alergi berlanjut hingga menyebabkan anafilaksis, penanganan yang dapat dilakukan ialah  dengan memberikan suntikan adrenalin atau epinephrine. Anak yang menderita anafilaksis sebaiknya dirawat di rumah sakit. Pasien dengan anafilaksis masih perlu menerima suntikan epinephrine setelah sembuh. Ini dilakukan guna mencegah serangan anafilaksis terulang kembali sewaktu-waktu.

Ada kemungkinan juga alergi ini hilang dengan sendirinya. Itu disebabkan oleh perkembangan tubuh yang mampu mendeteksi protein susu dengan baik. Sehingga tidak meninmbulkan alergi pada anak.

6. Perlukah konsultasi dengan dokter?

6. Perlukah konsultasi dokter
drgreenmom.com

Mama dapat menemui dokter jika si Kecil mengalami gejala alergi susu segera setelah mengonsumsinya. Menemui dokter selama reaksi alergi berlangsung membantu dokter membuat diagnosis.

Bawalah anak segera ke dokter jika mereka menjadi cepat lelahan atau lesu, demam, muntah parah dan diare, penurunan berat badan, juga darah dalam tinja. Mama juga perlu segera menghubungi dokter jika anak mama mengalami tanda-tanda atau gejala anafilaksis

7. Perbedaan alergi protein susu sapi dan intoleransi laktosa

7. Perbedaan alergi protein susu sapi intoleransi laktosa
healthline.com

Mungkin kamu sempat mengira intolenransi laktosa dan alergi protein susu sapi merupakan gangguan yang serupa. Mereka berdua memang sama-sama diakibatkan oleh kandungan susu sapi, namun faktanya, intoleransi laktosa sangat berbeda dengan alergi protein susu sapi.

Perbedaan yang paling mencolok ialah intoleransi laktosa tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. 

Laktosa merupakan gula kompleks yang terdapat dalam produk susu. Laktase merupakan enzim dalam usus kecil yang membantu mencerna laktosa.

Mereka yang tidak toleran laktosa memiliki tingkat enzim laktase yang rendah atau bahkan tidak ada dalam usus mereka. Akibatnya, orang-orang ini memiliki gejala gastrointestinal karena pencernaan gula laktosa yang buruk.

Tanda dan gejala umum dari intoleransi protein susu atau intoleransi laktosa termasuk masalah pencernaan, seperti kembung, gas atau diare, setelah mengonsumsi susu atau produk yang mengandung susu.

Demikian info-info penting yang perlu Mama ketahui seputar alergi protein susu yang terjadi pada anak-anak. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.