Kenali Alasan Dibalik Tidak Boleh Meninggalkan Anak Tanpa Berpamitan

Mulai sekarang berpamitan terlebih dulu sebelum pergi yuk, Ma!

15 Februari 2021

Kenali Alasan Dibalik Tidak Boleh Meninggalkan Anak Tanpa Berpamitan
Freepik/shangarey

Setiap keluarga yang sudah memiliki anak terkadang memiliki keterbatasan karena harus tetap berkegiatan serta fokus mengurus anak. Demi bisa ke luar rumah, terkadang beberapa orangtua harus bersembunyi dari anak mereka agar dapat pergi beraktivitas. 

Orangtua pergi tanpa pamit dan terkesan diam-diam menghilang biasanya dilakukan agar si Kecil tidak menangis.

Cara ini seolah dinilai sebagai langkah terbaik agar tidak memicu kerewelan anak di rumah.  

Kebiasaan pergi dengan sembunyi-sembunyi tanpa berpamitan kepada si Kecil seringkali menjadi senjata paling ampuh.

Padahal kebiasaan seperti ini seharusnya tidak diperkenankan terus terjadi. 

Jika Mama ingin tahu mengenai alasan dibalik tidak boleh meninggalkan anak secara diam-diam tanpa berpamitan, kali ini Popmama.com telah merangkumnya. 

Yuk, simak informasinya dan usahakan tidak menyepelekan kebiasaan ini!

Editors' Picks

1. Kenapa orangtua harus jujur kepada anak ketika ingin pergi?

1. Kenapa orangtua harus jujur kepada anak ketika ingin pergi
Freepik

Mama harus pahami juga bahwa respons anak menangis sangatlah wajar, hal ini terjadi karena anak menganggap kalau orangtua selalu menjadi sumber keamanan dan kenyamanannya. 

Berkata jujur ketika ingin pergi kepada anak sekaligus pamit sebelum meninggalkan rumah menjadi cara terbaik untuk dilakukan.

Bersembunyi dari anak setiap kali akan pergi justru akan memperburuk suasana dan mengganggu perkembangan karakternya di masa mendatang. 

Mungkin Mama masih ragu untuk berpamitan dengan anak setiap kali ingin pergi, namun perlu diketahui bahwa cara ini dapat menumbuhkan rasa nyaman dan dirinya merasa tidak dibohongi oleh orangtua. 

Ajaklah komunikasi dengan menjelaskan kepadanya bahwa Mama harus pergi ke luar dan akan pulang ke rumah lain.

Ulangi terus proses ini dan teruslah berpamitan setiap kali akan pergi, sehingga lama-kelamaan anak akan mengerti dan tidak akan menangis lagi. 

Bentuk komunikasi ini juga akan membantu agar anak tidak merasa cemas dan takut kehilangan orangtuanya ketika pergi. 

Setiap kali pamitan, momen cium tangan, berpelukan hingga melambaikan tangan kepada si Kecil juga perlu diterapkan dengan baik.

Hal ini membantu membuat perasaan anak lebih tenang selama ditinggalkan di rumah.  

Terkesan sederhana memang, namun momen berpamitan menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh anak daripada ditinggal pergi secara diam-diam. 

2. Separation anxiety menjadi salah satu faktor anak rewel ketika ditinggal pergi orangtuanya 

2. Separation anxiety menjadi salah satu faktor anak rewel ketika ditinggal pergi orangtuanya 
Freepik

Kebiasaan orangtua yang berusaha menginggalkan anaknya secara diam-diam tanpa berpamitan, sebenarnya dilakukan agar si Kecil tidak mengalami separation anxiety. 

Dilansir dari Psychology Today, separation anxiety adalah gangguan ketika seorang anak terlalu cemas ketika terpisah dari orangtuanya. Kecemasan ini terjadi karena adanya kekhawatiran dan rasa takut yang berlebihan di dalam diri si Kecil. 

Perlu Mama ketahui bahwa anak-anak cukup rentan untuk mengalami kecemasan bahkan sampai ke titik separation anxiety. Kecemasan karena perpisahan ini berbeda dianggap berbeda dengan rasa cemas yang terjadi pada anak-anak. 

Seorang anak yang memiliki gangguan kecemasan ini seolah tidak dapat berpikir secara jernih ketika orangtuanya pergi, seolah-olah dirinya akan ditinggalkan selamanya.

Si Kecil memiliki rasa takut secara berlebihan dan menjadi semakin rewel.

Beberapa gejala dari separation anxiety yang dirasakan oleh anak, yakni: 

  • Memiliki rasa khawatir yang berlebihan dan seolah seringkali membayangkan kalau ada kejadian buruk yang akan menimpa orangtuanya.
  • Menolak ketika diajak untuk tidur karena ingin ditemani oleh orangtuanya.
  • Seringkali bermimpi buruk karena rasa ketakutannya masuk ke dalam sebuah mimpi. 
  • Mengompol akibat mengalami mimpi buruk. 
  • Mengalami tantrum lebih lama dari biasanya akibat takut merasa sendirian. 

3. Bagaimana agar anak tidak rewel ketika orangtua ingin pergi?

3. Bagaimana agar anak tidak rewel ketika orangtua ingin pergi
Freepik

Ketika anak-anak menjadi rewel ketika ditinggal pergi oleh orangtuanya, tentu akan membuat Mama menjadi tidak fokus dalam menjalani aktivitas atau pekerjaan. 

Meskipun harus berterus terang dan berpamitan ketika harus akan pergi, Mama pun perlu memiliki strategi tersendiri agar si Kecil tetap tenang tanpa berakhir dengan drama. Pahamilah karakter anak, lalu buatlah beberapa perencanaan antar lain: 

  • Selalu memperlihatkan sikap tenang setiap kali akan meninggalkannya pergi ke luar rumah. Dengan bersikap tenang, maka anak pun tidak akan merasa cemas. 
  • Mintalah bantuan anggota keluarga atau orang terdekat di rumah untuk tetap memberikan si Kecil kesibukan selama ditinggal pergi. Cara ini bisa dilakukan sebagai langkah dalam mengalihkan perhatian anak, sehingga si Kecil bisa tetap asik melakukan aktivitasnya. 
  • Tepatilah janji untuk segera kembali, sehingga membuat anak menjadi lebih merasa nyaman dan tenang. Hanya saja ketika harus mendadak lembur karena perkerjaan masih banyak, sebaiknya lakukan video call dan ajak anak berdiskusi. Bangunlah rasa kepercayaan anak bahwa orangtuanya akan segera kembali. 

Dengan beberapa strategi tersebut, setidaknya dapat membantu sikap rewel pada anak mama menjadi lebih berkurang. 

Selain itu, Mama juga dapat memberikan afirmasi atau kata-kata positif agar membuatnya lebih ikhlas ketika ditinggal pergi. 

"Mama nanti akan pulang. Kamu baik-baik ya selama di rumah." 
"Tak perlu khawatir, Mama hanya sebentar dan nanti akan segera pulang."

Begitulah beberapa kata-kata yang dapat membuat anak menjadi lebih tenang setiap kali ditinggal pergi oleh orangtuanya. 

Jika semua cara tidak berhasil dan separation anxiety yang dirasakan oleh si Kecil terasa begitu menganggu perkembangan karakternya, maka sebaiknya Mama membutuhkan bantuan profesional seperti psikolog. 

Nantikan tentu keluhan yang terjadi pada si Kecil akan dilajutkan pada perawatan tahap berikutnya melalui evaluasi serta tanya jawab khusus.

Itulah beberapa informasi mengenai alasan dibalik tidak boleh meninggalkan anak tanpa berpamitan. Semoga tips di atas juga bisa membantu menenangkan si Kecil ketika memiliki perasaan takut kehilangan orangtuanya saat ditinggal pergi. 

Tetap semangat mengurus dan menjaga si Kecil ya, Ma!

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.